Memasuki Area Ber-Tuhan yang Benar 

Di negara-negara yang pemerintahannya otoriter atau konsekuen menegakkan hukum, kita menjumpai kenyataan bagaimana masyarakat taat hukum. Tentu kehidupan masyarakat seperti ini menjadi tertib, bahkan sangat tertib. Dan itu menjadi irama hidup masyarakat, sehingga pada akhirnya, dengan tanpa paksaan mereka telah memiliki sebuah kebiasaan hidup taat hukum. Tentu salah satu alasan mengapa mereka taat hukum adalah karena hukuman, sanksi terhadap kesalahan diterapkan secara konsekuen. Demikian juga kalau di dalam keluarga dimana sang ayah atau sang ibu adalah orangtua yang tegas—bisa juga keras, bahkan mungkin juga otoriter—anak-anak menjadi patuh dan taat. Dan ketaatan itu menjadi irama hidup sejak kanak-kanak sampai dewasa. Tentu salah satu pemicu alasan mengapa taat adalah karena takut dihukum. 

Bagaimana sikap kita terhadap Allah? Di dalam 1 Petrus 1:16, firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ayat sebelumnya tertulis, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya.” Yang tentu dengan konsekuen memberikan hukuman dan sanksi terhadap orang yang tidak taat atau orang yang salah, “maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Tetapi Allah tidak langsung pukul kalau kita salah. Itu masalahnya. Jadi, masing-masing kita dapat memandang Allah sebagai Allah yang konsekuen menegakkan hukum, dan akan memberikan hukuman atau sanksi kepada kita; atau kita memandang Allah sebagai Pribadi yang plin-plan dan tidak tegas. Tetapi semua yang kita lakukan, ada perhitungannya. Tidak ada yang lolos dari perhitungan Allah. Kebenaran ini seharusnya menggetarkan hati kita.

Kita hidup di dalam satu pemerintahan yang memiliki tatanan. Di dalam tatanan itu, tentu ada panggilan untuk taat hukum, ada disiplin, ada hukuman atau sanksi terhadap pelanggaran. Semua hal yang kita lakukan, harus kita pertanggungjawabkan. Setiap kata saja harus dipertanggungjawabkan, apalagi perbuatan-perbuatan kita. Karena Tuhan tidak bertindak langsung, banyak orang menjadi ceroboh; melakukan segala sesuatu dengan sembarangan, mengucapkan kata-kata dengan sembarangan. Padahal, satu kata saja harus dipertanggungjawabkan, apalagi kalimat, apalagi sebuah pernyataan dari banyak kalimat yang menjadi data atau cerita. Di sini kita sering meleset. Ketika malam hari waktu kita mau tidur dan memeriksa diri, kita baru sadar bahwa ada kata yang tidak perlu kita ucapkan maupun kalimat yang tidak perlu kita kemukakan. Ketika itu, baru kita menyesalinya. Sejujurnya, kadang-kadang sulit menjadi lebih baik karena kita sudah punya irama yang salah.

Memang ada orang-orang yang didisiplin Tuhan karena kesalahan yang dilakukannya, tetapi itupun berlaku bagi mereka yang mengasihi Dia. Bagi mereka yang tidak mengasihi Allah, seakan-akan dibiarkan untuk melakukan apa pun dan mereka tampak aman. Dengan setiap kata yang diumbar sembarangan, dengan setiap cerita bohong yang diungkapkan, mereka merasa aman. Tapi sesungguhnya, ada perhitungannya nanti. Semua ada perhitungannya di balik kubur pada pengadilan Allah. Kita harus sendiri menjaga diri kita agar jangan sampai berbuat salah dan akhirnya beroleh malu di hadapan-Nya. 

Oleh sebab itu, kita harus belajar, sampai kita memiliki hati yang takut akan Allah. Sehingga, kita dapat memandang dan memperlakukan Allah sebagai Pribadi Agung yang berdaulat, yang kepada-Nya kita takut. Sebab, dengan membangun sikap yang benar terhadap Allah dan memperlakukan Allah secara benar dan menempatkan diri kita secara benar pula di hadapan Allah, maka kita bisa memasuki area ber-Tuhan yang benar. Kalau seseorang hidup di dalam dosa atau memiliki keinginan-keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah, dia keluar dari keadaan ber-Tuhan. Artinya, keluar dari keadaan ber-Tuhan yang menuhankan Allah, sebab dia bertuhankan perutnya sendiri. “Kemuliaannya adalah aib mereka,” seperti yang dikatakan dalam Filipi 3:18-20. Orang yang ber-Tuhan adalah orang yang hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Maka. Dapat dikatakan bahwa kalau seseorang tidak hidup suci, berarti dia tidak ber-Tuhan. Dan kebenaran sejati akan berdampak pada spiritualitas yang nanti terekspresi pada perilaku hidup, bukan pada intelektual semata.

Dengan membangun sikap yang benar terhadap Allah dan memperlakukan Allah secara benar dan menempatkan diri kita secara benar pula di hadapan Allah, maka kita bisa memasuki area ber-Tuhan yang benar.