Memanjakan Allah

Saudaraku,

Mari kita benar-benar menghayati—setelah kita benar-benar memercayai bahwa Allah itu hidup—keberadaan Allah yang hidup yang benar-benar nyata. Dan kita berusaha untuk memanjakan Allah. Sejatinya, Allah tidak perlu dimanjakan, Allah bisa memanjakan Diri-Nya sendiri. Siapakah kita kok bisa memanjakan Allah? Tetapi Allah membuka diri untuk dimanjakan oleh anak-anak-Nya. Seperti orangtua yang mampu, yang kaya, yang bisa berbuat banyak hal; tetapi tetap membuka diri dimanjakan oleh anak-anaknya. Walaupun, misalnya itu hanya sebuah gerak mengambilkan segelas air putih, walaupun itu hanya satu gerak mengambilkan kursi untuk duduk atau mengangkat orangtua yang sudah sulit bangun dari tempat tidur atau sudah sulit bangun dari tempat duduk. Apalagi untuk hal yang lebih besar; anak yang membelikan rumah untuk orangtua, mengajak jalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang diingini oleh orangtua. Orangtua bisa bayar tiket sendiri, orangtua juga bisa pergi sendiri; tetapi kalau anak yang mengaturnya, sehingga orangtua bisa dengan nyaman pergi wisata, orangtua merasa dimanjakan. 

Mengapa kita tidak memanjakan Tuhan? Kita bisa memanjakan Allah dengan segala sesuatu yang kita lakukan. Memanjakan artinya memperlakukan dengan kasih sayang, sehingga yang diperlakukan itu merasa berharga, merasa terhormat, tentu juga merasa senang. Mulai hari ini—Minggu, 19 Desember 2021—kita mau belajar memanjakan Allah. Kita bukan hanya bicara, bukan hanya dengan sikap fisik/sikap lahiriah; tetapi juga dengan sikap hati, sikap batin yang tulus. Kalau kita benar-benar mau memanjakan Allah, kita akan mulai berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan, kita mulai berhati-hati dengan kata kalimat yang kita tulis di media sosial, di gadget kita, di pesan-pesan singkat kita, kita akan mulai hati-hati dengan apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, apa yang kita belanjakan dengan uang kita. 

Tidak mudah memanjakan Allah yang tidak kelihatan karena kita sudah biasa memiliki irama hidup memanjakan diri sendiri dan memanjakan orang lain. Memanjakan orang lain atau manusia lain yang pada dasarnya kita mau mencari kesenangan sendiri; masih berpusat kepada diri sendiri. Sekarang kita mau memanjakan Allah. Allah yang tidak kelihatan, yang sering seakan-akan tidak memberi reaksi atau tidak memberi respons, sehingga orang menjadi seperti lemah atau tidak bersemangat karena seakan-akan apa yang dia lakukan itu sia-sia, tidak ada respons/reaksi dari Allah. Padahal Allah pasti merespons atau bereaksi. Di surga, pasti ada senyum Tuhan; senyum karena melihat hidup kita. Kalau digambarkan sebagai wewangian, kita bisa mempersembahkan wewangian di hadirat Allah, yang bisa dicium oleh Tuhan. Betapa indahnya. Jadi betapa hebat kehidupan orang yang bisa memanjakan Allah itu. 

Dan ini akan menjadi kebiasaan yang akan menyatu dalam diri kita dan menjadi karakter kita. Sampai Tuhan bisa berkata, seperti yang di Matius 3:17, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Allah tidak pernah ingin punya anak yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Semua yang namanya anak Allah harus berkenan. Jadi kalau orang tidak berkenan di hadapan Allah, itu bukan anak Allah. Dan jangan berpikir bahwa Saudara sudah berkenan di hadapan Allah karena Yesus menggantikan anda. Salah itu! Tuhan Yesus menggantikan kita dalam hal memikul dosa-dosa, tetapi Ia tidak menggantikan kita pada waktu kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus. Yesus tidak menggantikan tempat kita di dalam persekutuan dengan Allah Bapa, karena kita sendiri harus benar-benar hidup kudus dan tidak bercacat. Karenanya, Tuhan Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku;” agar kita belajar dari Tuhan Yesus bagaimana bisa mendapatkan pengakuan, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.”  

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kita bisa memanjakan Allah dengan segala sesuatu yang kita lakukan.