Memanfaatkan Kesempatan

Pernahkah kita mempersoalkan mengapa setelah meninggal dunia tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat? Tidak ada lagi kesempatan untuk meminta ampun kepada Tuhan? Tidak ada kesempatan lagi untuk membereskan diri di hadapan Allah? Orang yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertobat dan tidak memiliki kesempatan lagi membereskan diri dihadapan Allah ini, juga orang-orang yang tidak akan di perkenankan mengabdi kepada Allah di kekekalan. Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan membenahi diri hanya ketika masih hidup di bumi ini. Kalau sudah meninggal, seseorang tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertobat dan membenahi diri. Sebab kalau orang bertobat dan membenahi diri karena melihat dan merasakan kedahsyatan kemuliaan Allah di kekekalan, pertobatannya tidak tulus. Itu adalah pertobatan dan pembenahan diri yang dipaksakan karena takut akan Allah yang tidak tulus.

Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau kedahsyatan Allah di kekekalan, tidak bisa tidak orang akan takut, gentar dan merasakan perasaan ngeri yang tidak terbayangkan sekarang. Tidak bisa tidak, orang akan meminta ampun atas dosa yang dilakukan. Tetapi permintaan ampun di saat itu adalah permintaan ampun yang palsu, yang tidak berkualitas, karena tidak tulus juga. Di hadapan pengadilan takhta Kristus sangat mudah orang baru bisa berkata, “aku percaya kepada-Mu, Tuhan.” Tetapi itu bukan percaya yang benar. Itu adalah pernyataan yang terpaksa, percaya yang tidak tulus, atau percaya yang palsu. Mestinya di bumi sekarang ini pada saat ketika Tuhan seakan-akan tidak ada, kita bersedia percaya kepada Tuhan, bertobat dan membenahi diri. Itu barulah percaya yang benar, pertobatan dan pembenahan diri yang benar. Bukan pada waktu nanti ketika bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus baru menyatakan diri bertobat.

Alkitab berkata, bahwa setelah mati ada penghakiman atau setiap orang dibawa ke hadapan takhta pengadilan Kristus. Kebenaran ini sudah cukup memberitahukan kepada kita bahwa setelah mati tidak ada kesempatan pertobatan, tidak kesempatan melakukan perbaikan, tidak ada rekonsiliasi dengan Allah dan tidak ada pemulihan. Tuhan menghendaki umat pilihan memiliki percaya yang benar dan takut akan Allah yang benar sejak hidup sekarang ini di bumi. Di tengah-tengah manusia yang tidak percaya kepada Allah secara benar, kita harus tetap percaya dengan benar kepada Tuhan Yesus. Dan percaya kita yang benar itu pasti ditandai dengan kesetiaan kita hidup taat kepada Tuhan dalam segala hal dengan hati yang takut akan Dia dan mengasihi Dia.

Di zaman di mana banyak orang tidak percaya kepada Tuhan, khususnya manusia modern yang berkata bahwa Allah adalah omong kosong, sehingga manusia semakin fasik. Namun kita bisa tetap percaya kepada Allah dan memiliki kehidupan yang meneladani Yesus, sehingga kita berkeadaan berbeda dengan dunia ini. Juga di tengah-tengah masyarakat yang mengaku ber-Tuhan tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan sebagai orang ber-Tuhan, kita tidak terpengaruhi oleh pola hidup kepalsuan orang beragama tersebut. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dunia kita sudah sangat rusak sehingga kerusakan bukan saja terjadi atas orang-orang di luar gereja, tetapi juga orang-orang yang ada di dalam lingkungan gereja. Kerusakan itu terlihat dari kehidupan mereka yang wajar seperti anak-anak dunia. Hal itu terbukti dari isi tulisan dan ucapan-ucapan mereka di media sosial. Sungguh suatu hal yang luar biasa kalau kita tidak turut hanyut dalam suasana dunia seperti ini (Ibr. 2:1).

Memang mudah untuk mengatakan kalau mata Tuhan melihat semua yang kita lakukan, tetapi tidak mudah mengimplementasikannya dalam kehidupan secara konkret. Kita harus berani mengambil keputusan untuk memilih percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan, mengambil keputusan bertobat dan membenahi diri dengan serius. Pembenahan diri tersebut dimaksudkan agar kita menjadi anak-anak Bapa yang layak menjadi utusan Kristus dan anggota keluarga Kerajaan Allah.

Untuk ini kita tidak harus menjadi aktivis jemaat atau menjadi pendeta dalam lingkungan sinode. Bagi semua orang percaya yang penting adalah kita memiliki kehidupan yang berkenan kepada Allah di tengah-tengah dunia yang bengkok ini. Kita harus memiliki perjuangan dengan sungguh-sungguh agar sejak kita hidup di bumi ini kita sudah memiliki hati yang takut akan Allah secara benar, yang kemudian memotivasi kita melakukan pertobatan setiap hari. Kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan waktu yang ada untuk mempersiapkan diri masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Kita harus memiliki perasaan krisis, karena memang kita tidak tahu kapan mata kita tertutup untuk selamanya. Selagi ada kesempatan kita harus sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan, sehingga kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan, hidup berjalan bersama dengan Tuhan.