Memaksa Diri

Saudaraku,

Saya mengajak Saudara untuk serius menjadikan Kerajaan Surga sebagai satu-satunya yang menarik dalam hidup kita, yang memikat kita. Tentu Tuhan pribadi yang menjadi tujuan hidup kita. Semua terarah kepada Allah saja. Kalaupun kita bisa memiliki sesuatu di bumi, menikmati sesuatu di bumi, itu hanya kita kecap sesaat, dan kita memang hanya boleh mengecapnya sesaat. Hati kita tidak melekat kepadanya. Hati kita melekat di Kerajaan Surga. Saya mengajak Saudara untuk berjuang, seperti juga saya sedang terus berjuang bagaimana memindahkan hati di surga. Banyak orang yang suatu hari nanti menyesal, sebab mereka menjalani hidup ini, menggulirkan hari hidup ini hanya untuk kehidupan sementara di bumi. Tuhan hanya menjadi pelengkap, Tuhan hanya menjadi tambahan. Memang, mereka berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, datang di kebaktian doa, datang di kebaktian hari Minggu, atau mengikuti live streaming, tetapi Tuhan hanya menjadi tambahan. 

Namun bagi kita, Tuhan harus menjadi segalanya. Bahwa hidup kita tidak ada nilainya sama sekali tanpa Tuhan, dan Tuhanlah yang menjadi kehormatan kita. Oleh sebab itu, kita harus menimbang perasaan kita, menimbang pikiran kita, apa yang paling mencuri perhatian kita, apa yang paling memenuhi jiwa kita. Saya tahu kita punya persoalan, saya juga memiliki banyak persoalan. Saya tahu kita semua punya kebutuhan. Hati saya juga kadang-kadang menjadi kecut melihat kebutuhan yang begitu besar, tetapi kita percaya Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allahnya Musa, adalah Allah yang hidup. Kita pasti punya persoalan, pasti banyak hal yang menarik hati kita. Kalau untuk saya pribadi, pelayanan itu pun bisa menjadi sesuatu yang menarik, memikat, dan menjadi berhala. Keluarga, apakah anak, cucu, atau barang-barang bisa menjadi berhala. Tetapi kita memilih untuk percaya kepada Tuhan. Memilih untuk menjadikan Kerajaan Surga itu satu-satunya yang menarik. 

Kita harus bisa menimbang hati kita. Kita harus bisa menimbang perasaan kita. Apa yang paling menyita perhatian kita? Apa yang paling membuat kita hanyut dan tenggelam? Mestinya yang membuat kita hanyut dan tenggelam itu Tuhan saja. Kerajaan-Nya yang paling memikat hati kita. Allah itu tujuan kita dan Kerajaan-Nya itu yang paling memikat kita. Sehingga kita selalu dibayang-bayangi, diobsesi, dicengkerami, oleh kerinduan akan Kerajaan Allah. Di sini dibutuhkan perjuangan. Tidak bisa kita memperolehnya dalam waktu singkat. Banyak orang menyia-nyiakan waktunya. Berangkat pagi kerja, pulang sore, atau kadang-kadang sampai malam; bukan salah, memang harus begitu harus bekerja; tetapi kita harus tahu tujuan hidup kita apa. Ironis, banyak orang pagi berangkat kerja, pulang sore, sampai di rumah makan dengan keluarga di rumah, lalu nonton televisi sebentar lalu tidur. Besok begitu lagi, terus bergulir terus. Hari ini beli mobil merk A, besok kalau bisa beli mobil yang lebih bagus, yang lama dijual. Lalu memikirkan bagaimana membuat rumah lebih besar, bagaimana anak yang satu punya rumah, anak yang lain juga punya rumah, bagaimana menyusun rencana jalan-jalan ke luar negeri. Bukan tidak boleh punya rumah, bukan tidak boleh membangunkan rumah untuk anak, atau pergi ke luar negeri, tetapi semua itu tidak boleh menjadi tujuan. 

Saudaraku, 

Mengerikan sekali kehidupan orang-orang yang menggulirkan harinya hanya demikian, kemudian berlalu begitu saja. Tuhan mau kita benar-benar hidup dalam cengkeraman hadirat Tuhan setiap saat. Keterpikatan kita hanya kepada Kerajaan Allah. Saya manusia seperti Saudara yang punya mata, punya keinginan, melihat sana-sini, juga bisa tertarik untuk hal-hal tertentu, di mana saya bisa hanyut dan tenggelam, tetapi saya memilih Tuhan. Saya memaksa diri saya untuk memilih Tuhan. Saya memaksa diri saya untuk pulang ke surga. Tidak ada lagi yang saya nantikan dalam hidup ini kecuali Tuhan. Tidak ada lagi. 

Dan kalau saya mulai menyimpang, saya marahi diri saya. Saya paksa diri saya untuk mengarah kepada Tuhan. Dan saya mengajak semua Saudara juga memindahkan hati di Kerajaan Allah. Kata-kata saya mungkin tidak cukup menjelaskan, tetapi Roh Kudus kiranya akan menolong Saudara untuk mengerti. Tidak ada tujuan lain. Saya tidak menarik-narik Saudara menjadi anggota gereja yang saya pimpin, tidak ada maksud lain, saya hanya ingin supaya suatu hari kelak kita akan bertemu di surga, dan betapa berbahagianya kita. Kita percaya Tuhan menolong kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Hidup kita tidak ada nilainya sama sekali tanpa Tuhan, dan Tuhanlah yang menjadi kehormatan kita, maka kita harus memaksa diri untuk memilih Tuhan.