Martabat

“Martabat,” kata yang pada umumnya memiliki konotasi positif, walau tidak selalu demikian. Kata “martabat” bersinonim dengan kata derajat, gengsi, harga diri, dan harkat. Pada dasarnya, martabat adalah nilai yang diperoleh seseorang dari keberadaan orang tersebut. Martabat juga sering dipahami sebagai hak seseorang untuk mendapatkan kehormatan. Hampir semua manusia berusaha untuk memiliki martabat, sekecil apa pun martabat tersebut. Artinya, semua manusia ingin memiliki derajat, gengsi, harkat sekecil apa pun; tentu di lingkungan masing-masing, sesuai dengan kelasnya. Tidak heran kalau seseorang bisa melakukan apa saja—berbuat nekat—demi martabat ini. Tentu kita bisa setuju dan memang kita melihat realita ini, yaitu hampir semua manusia ingin memiliki martabat yang baik; manusia yang sehat jasmani rohaninya. Sayangnya, martabat yang dibangun oleh banyak orang bukan berdasarkan landasan yang benar. Ini terjadi karena manusia sudah sesat, tidak mengenal Allah dengan benar, dan tidak mengenal dirinya sendiri dengan benar juga. 

Hampir semua orang mencari martabat di mata manusia, yang didasarkan pada kedudukan, kekuasaan, gelar, pangkat, penampilan, harta kekayaan, atau sesuatu yang dikenakan seperti pakaian, arloji, perhiasan, dan sejenisnya. Tanpa disadari, gairah untuk memperoleh nilai kehormatan atau martabat dari manusia ini telah menguasai hampir semua manusia. Jangan-jangan, kita telah terbawa atau terpengaruh. Ironisnya, hampir tidak ada orang yang serius mencari kehormatan dari Allah. Sejak zaman Yesus, ternyata banyak orang lebih mencari kehormatan manusia daripada kehormatan dari Allah, “orang lebih mencari kehormatan dari manusia daripada dari Allah (Yoh. 12:43). Padahal, Tuhan menghendaki orang percaya mencari penghormatan dari Allah (1Ptr. 1:7). Karena gairah mencari kehormatan sudah menjadi irama hidup, maka segala sesuatu bisa dijadikan sarana untuk memperoleh martabat, demi kehormatan tersebut. Misalnya acara resepsi pernikahan, bagaimana acaranya dibuat megah; seremonialnya, gedungnya, musiknya, makanannya, dekornya. Hari ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, kelulusan sekolah, ucapan syukur pembukaan kantor, perayaan tahun baru, perayaan Natal, dan sebagainya, bisa diadakan demi memperoleh kehormatan dan menaikkan derajat atau martabat. 

Intinya, sarana apa pun bisa digunakan untuk mengangkat derajat. Ironis sekali, kematian dari anggota keluarga pun sering dijadikan sarana untuk bisa memperoleh kehormatan demi menaikkan martabat dari manusia. Tidak salah kalau menaruh jenazah di ruangan besar dengan berbagai aksesoris, kalau memang tuan rumah atau keluarga memiliki porsi itu. Tidak keliru kalau menaruh jenazah di peti yang harganya mahal, jika memang kelas dan porsinya demikian. Tidak salah kalau berusaha menampilkan acara yang megah untuk menunjukkan kasih dan penghormatan kepada yang meninggal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Tetapi menjadi salah kalau hal itu dilakukan untuk bisa membangun kehormatan demi martabat di mata manusia, demi mengangkat martabat. Namun, kita sebagai orang yang hanya melihat, jangan menghakimi lalu menilai secara sembarangan. Jangan kita anggap itu selalu salah. Menjadi tidak salah kalau memang kelas dan porsinya. Tetapi bagi si keluarga atau si pelaku yang menyelenggarakan itu, hati-hati, jangan mencari kehormatan demi menaikkan martabat dengan hal itu; sikap hati kita harus benar. Kalau kita pelakunya, kita harus memeriksa diri, apakah dengan mengadakan pesta ini, patut bagi diriku? Apakah kendaraan ini patut untuk kugunakan? 

Kematian yang bermartabat artinya kematian yang terhormat atas orang percaya yang berkenan kepada Allah. Maksud “terhormat” di sini adalah terhormat di mata Allah. Karena kematian adalah transisi dari kefanaan menuju kekekalan, dan bicara mengenai “kekekalan,” ini pasti wilayah Allah. Jadi, kalau bicara soal kematian yang bermartabat, ini bermartabat di mata Allah dan bernilai kekal. Orang yang kematiannya bermartabat adalah orang yang sejak hidup di bumi melakukan kehendak Bapa, sehingga memiliki pengakuan dari Allah Bapa, apakah dirinya benar-benar berkenan di hadapan Allah. Orang-orang seperti ini pasti ketika meninggal dunia dijemput Tuhan. Pasti Tuhan mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menjemput orang ini (Contoh: Lazarus di Luk. 16). Kematian orang di dalam Tuhan adalah kematian yang bermartabat, seperti yang ditulis dalam Wahyu 14:13, Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” 

“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan,” artinya orang-orang mati yang sudah melakukan kehendak Allah dan berkenan di hadapan Allah selama hidupnya. Jadi, jangan kita mengartikan kalimat “di dalam Tuhan” ini sebagai sudah beragama Kristen dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jika seseorang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat setiap hari tapi jika kelakuannya tidak membuat dirinya berkenan atau tidak melakukan kehendak Bapa, hal itu akan percuma. Seorang yang beragama Kristen tapi tidak melakukan kehendak Allah atau tidak berkenan di hadapan Allah, belumlah bisa dikatakan “di dalam Tuhan.” 

Karena gairah mencari kehormatan sudah menjadi irama hidup, maka segala sesuatu bisa dijadikan sarana untuk memperoleh martabat, demi kehormatan tersebut.