Martabat Manusia

Kita tidak bisa menyatu dengan Allah, kalau kita masih memakai kodrat dosa. Hal ini adalah tanggung jawab yang besar dalam hidup setiap orang. Makanya kita harus terus mengonsumsi, menyerap kebenaran Tuhan yang pasti akan mengubah karakter kita, mengubah kodrat kita, sehingga kita mengenakan kodrat ilahi, dan kita bisa bersekutu secara benar dengan Bapa. Kita harus menyediakan tubuh kita sebagai bait Allah, di mana kita memiliki Ruang Mahakudus, dan Bapa berkenan ada di dalamnya. Hal ini sebuah keniscayaan; ini sungguh bisa terjadi, dan ini harus menjadi satu-satunya fokus hidup kita. 

Perjuangan yang kita lakukan dalam hidup ini, haruslah perjuangan yang terfokus pada hal ini. Percayalah, kalau kita melakukannya dengan tekad yang sungguh-sungguh, maka kita pasti bisa melihat perbedaan antara hidup kita dengan orang lain. Mungkin saja orang lain akan melihat kita memiliki keadaan yang aneh, asing, berbeda dengan yang lainnya. Hal itu tidak apa-apa, karena memang kita harus berbeda, sebab kita akan memiliki frekuensi dan fokus hidup yang berbeda dengan manusia pada umumnya.

Sebenarnya, manusia diselamatkan supaya dapat menjadi manusia yang benar, artinya sesuai rancangan Allah yang semula saat menciptakan manusia. Manusia yang tadinya tidak bermartabat manusia, mau diubah menjadi manusia yang dimartabatkan. Martabat manusia yang benar adalah manusia Allah; man of God. Manusia yang berkodrat ilahi. Apa pun profesi dan jabatan kita—meskipun dia seorang rohaniwan atau memiliki profesi pendeta—hal itu sama sekali tidak ada nilainya di mata Allah. 

Hal yang bernilai adalah ketika kita menanggalkan manusia lama, dan terus-menerus mengenakan manusia baru yang dibarui di dalam roh dan pikiran, sehingga dapat memasuki kekudusan yang sesungguhnya, seperti yang tertulis pada Efesus 4 atau dalam Ibrani 12, “mengambil bagian dalam kekudusan Allah.” Itulah yang dimaksud dengan sukses yang benar dalam hidup kita sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Banyak orang yang tidak percaya bahwa ada kehidupan di balik kehidupan sekarang, yang pastinya akan jauh lebih bernilai dibanding hidup di bumi yang sementara ini. Perbandingannya bukan 1000:1, bukan 1.000.000:1, bukan 1.000.000.000:1, bukan 1.000.000.000.000:1, melainkan ”tak terhingga dibanding nol,” karena semua hal di atas bumi ini akan lenyap dan terbakar dalam unsur api. Maka, yang nol ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya agar dapat menjadi sarana untuk kita dapat memiliki kehidupan kekal di Kerajaan Surga. 

Kalau hidup ini tidak kita pergunakan dengan benar sesuai kehendak Tuhan, maka semuanya menjadi sia-sia dan akan lenyap dalam sekejap seperti uap. Jadi jangan merasa gagal, miskin, lemah, tak bernilai hanya karena tidak menikah, tidak mendapat jodoh, tidak punya anak, miskin, atau tidak berpendidikan tinggi. Kita merasa tertindas sebagai orang yang dipandang rendah. Jangan kita merasa gagal di situ, karena kesuksesan kita yang sesungguhnya adalah ketika kita menjadi manusia Allah; man of God dan menyatu dengan Allah. Itu back to the basic. Itulah manusia yang Allah inginkan. 

Kalau kita mengalami perjuangan, kita akan merasa seperti seperti kupu-kupu yang dibungkus kepompong, yang mau keluar dari kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Ini untuk tingkat tertentu. Tetapi yang lain, mungkin baru tingkat ulat, kemudian mau masuk menjadi kepompong. Kita akan menggeliat, rasanya sulit sekali keluar dan seperti tidak berhasil keluar. Memang hal itu butuh proses. Kalau kita putus asa, kita berhenti. 

Maka di Ibrani 12, firman Tuhan mengatakan, jangan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah. Jangan kita berkata, “aku manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan. Ya, begini saja keadaanku.” Kita menjadi konyol. Lebih baik kita tidak pernah jadi manusia daripada membiarkan diri kita berhenti pada satu titik yang membuat kita tidak mencapai perubahan tersebut. Kita mau menguduskan diri, supaya tubuh kita menjadi bait Roh Kudus dan layak hidup dalam persekutuan dengan Bapa di surga.

Gereja yang benar adalah gereja yang berdoa. Percayalah, ini adalah ciri gereja yang benar. Kalau mukjizat, bisa terjadi sesaat. Kita tetap memercayai adanya atau terjadinya mukjizat. Tetapi tentang doa, tidak bisa sesaat. Orang tidak bisa pura-pura rohani. Namun kalau orang berdoa, itu jelas membuktikan dia rohani. Orang tidak bisa menyembunyikan kesungguhannya atau kepura-puraannya. Kalau pura-pura mau suci, mau pura-pura menutupi dosa, tidak mungkin. Kita tidak mau berbuat begitu. Kita memang mau meninggalkan dosa, sebab  kita mau menyatu dengan Allah. Ayo, kita bersedia dientaskan dari kebodohan, dientaskan dari ikatan-ikatan kuasa dosa. Kita mau sungguh-sungguh berubah.

Martabat manusia yang benar itu adalah manusia Allah; man of God.