Legalitas Warga Kerajaan Surga

Kalau suatu saat Tuhan datang kembali, dunia kiamat, atau kita meninggal dunia, baru kita menyadari pentingnya berwarganegara Kerajaan Surga. Sederhana saja, kalau kita pergi ke luar negeri lalu paspor terselip entah di mana, kita pasti merasa panik, karena tanpa identitas, kita akan mengalami kesulitan dan masalah. Terlebih lagi, betapa mengerikan keadaan seseorang yang tidak memiliki legalitas warga Kerajaan Surga. Hari ini, orang tidak peduli dan cenderung meremehkan, serta tidak sungguh-sungguh mempersoalkan apakah dirinya warga Kerajaan Surga atau tidak. Karena hal ini dianggap tidak penting. Ini adalah penyesatan yang berhasil dilakukan oleh kuasa gelap kepada banyak orang yang prinsipnya: “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.”

Rasul Paulus mengatakan, “Kalau berdasar pertimbangan manusia, aku sudah melakukan banyak hal, yang seperti dilakukan orang lain.” Orang yang tidak menyadari bahwa manusia itu adalah makhluk kekal yang membutuhkan domisili kekal atau domisili abadi, pasti akan terbawa dengan suasana atau kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Tuhan sangat peduli akan hal ini. Itulah sebabnya, Yesus berkata di dalam Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ayat ini berlaku bagi kita yang gelisah. Yang tidak gelisah, maaf, tidak berhak punya ayat ini dan tidak perlu memperhatikannya. Ini hanya untuk orang yang gelisah; orang yang memperkarakan nasib kekalnya. 

Sayangnya, banyak orang tidak gelisah untuk hal ini. Yang digelisahkan adalah hal-hal lain yang tidak pokok; gelisah belum menikah, belum punya anak, belum punya rumah pribadi, penghasilannya kurang banyak, dalam ancaman, dan karena berbagai penyebab lainnya. Mereka gelisah karena penghidupan, tetapi tidak peduli dengan realitas kekekalan. Dan jika Tuhan berkenan memberikan kita kasih karunia-Nya, kiranya Tuhan memberikan kita kegelisahan ini. Ini kegelisahan yang kudus, kegelisahan yang positif. 

“Apa yang akan terjadi dalam hidupku ketika aku menutup mata?” Kalau dunia mengatakan, “Berpikirlah realistis. Kamu masih menginjak bumi. Jadi jangan pikirkan soal nanti. Kamu belum di surga, kamu masih di bumi. Jangan berpikir tentang surga, sebab itu kehidupan yang akan datang nanti,” justru itu tidak realistis. Yang realistis adalah orang yang memikirkan nasib kekalnya. Sebab, kita bukan monyet, kucing, babi, kodok, sapi, anjing, kucing; kita bukan hewan. Kita adalah manusia yang memiliki keberadaan kekal, dan ini harus disuarakan. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak peduli lagi. Terutama mereka yang hidup nyaman, ekonomi baik, memiliki berbagai fasilitas, relasi dengan pejabat, sehingga ia menjadi sombong sampai tidak memikirkan lagi kekekalan dan menganggap bahwa kekekalan itu hanya dipikirkan oleh orang-orang konyol yang tidak memiliki kesibukan hidup, serta dianggap tidak wajar. 

Maka, kita harus mempersoalkan apakah kita benar-benar sudah memiliki legalitas sebagai warga Kerajaan Surga. Kita bisa berkata, “Aku percaya aku anak Allah, dan jika mati masuk surga,” boleh, silakan. Tetapi nanti bisa berbeda keadaannya atau kenyataannya. Sebab di Alkitab, ada orang-orang yang yakin dikenal Allah dan mengenal Allah, namun Tuhan berkata kepada orang-orang ini, “Aku tidak kenal kamu,” ini mengerikan. Itulah sebabnya kita semua harus bisa diungsikan, migrasi ke rumah kita. Bukan rumah kedua, melainkan rumah kita satu-satunya. Di bumi ini, kita hanya musafir.

Kalau kita membaca ayat-ayat berikutnya, ini adalah kegelisahan yang dirasakan murid-murid yang hendak ditinggalkan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menyatakan diri akan mati, tetapi bangkit dan naik ke surga. Murid-murid-Nya pun gelisah dan bertanya-tanya: “Lalu, bagaimana nasib kita nanti?” Yesus menenangkan dengan berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Selanjutnya, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” Artinya luas, dan memang jagat raya inilah sebenarnya wilayah Allah kita. Jadi kalau kita berkata, “… Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” Shamayim (surga) itu tempat yang luas, yang tak terbatas, dan Roh Allah mendiami jagat raya ini. Tidak ada wilayah sejengkal pun yang lolos dari kehadiran Allah. 

Tentu Tuhan Yesus bicara kepada murid-murid dengan konteks berpikir murid-murid yang waktu itu yang “masih sempit,” naif, picik, dan agak primitif. Tuhan Yesus meyakinkan bahwa ada tempat di sana. “Jika tidak demikian, …” Kata Tuhan Yesus, “…tentu Aku mengatakannya kepadamu,” artinya, “kamu harus memercayainya. Kalau kamu tidak memercayainya, kamu menghina Aku, seakan-akan Aku bohong.” Dan jujur saja, hari ini banyak orang Kristen yang tidak menghormati Tuhan. Buktinya apa? Mereka tidak menaruh pengharapan kepada Tuhan yang berjanji bahwa ada Rumah Bapa. Kalimat “Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu” ini seharusnya menarik perhatian kita dan mestinya kita berani menaruh pengharapan kita di sana.

Kita harus mempersoalkan apakah kita benar-benar sudah memiliki legalitas sebagai warga Kerajaan Surga