Kualitas Batin 

Ketika keadaan nyaman, keadaan semua serba running well, banyak orang tidak mencari Tuhan. Tapi akan berbeda ceritanya kalau dunia dalam keadaan resesi. Orang saling berkelahi, tega memukul orang lain, dan cenderung bersikap egois. Bisa terjadi, masyarakat saling berebut makanan di supermarket. Bisa saja ada yang nekat sampai mengeluarkan senjata, mengancam orang lain untuk tidak menghalangi atau mempersulit keadaannya. Bagaimana dengan orang percaya? Tentu saja harus berbuat sebaliknya; mengalah kepada orang lain, rela berkorban, karena kita memiliki Allah yang kita sembah, yang mengajari kita untuk berbuat demikian. Ini membuat kita tidak berani berbuat dosa, tidak menginginkan dunia. 

Dan lebih dahsyatnya lagi, ini yang membuat kita menginginkan pulang ke Rumah Bapa. Tapi kita tidak segera ingin pulang. Kenapa? Karena ada orang-orang yang harus kita topang untuk kita hantar ke langit baru bumi baru; ada tugas yang belum selesai kita tunaikan. Kalau kita mau pulang lebih dulu lalu kita membiarkan yang lain, kita jadi egois. Ketika kondisi hidup atau dunia sudah lebih parah dari yang sekarang, baru kita bisa mengetahui seberapa kita punya ketahanan. Orang dapat menjadi histeris, ketakutan sampai menjerit, tapi reaksi kita hanya: “Ya, Tuhan.” Kita tetap bersikap teduh dan merasa lebih kokoh. 

Seperti ketika orang tidak pernah berjaga-jaga, lalu tiba-tiba dia di ujung maut, dia pasti merasakan ketakutan yang luar biasa. Jadi, masalah-masalah yang tidak perlu kita bicarakan, jangan bicarakan. Baiklah kita bicarakan hal-hal yang menguatkan iman, yang membuat kita lebih benar di hadapan Allah saja. Mestinya banyak hal yang harus bisa kita anggap tidak penting dan harus disingkirkan, untuk menyongsong hari esok yang tidak menentu dan tidak jelas. Karenanya, kita harus mempersiapkan diri mulai sekarang untuk menemukan Tuhan. 

Kemampuan seorang hamba Tuhan untuk bisa berkhotbah, berbicara tentang Tuhan, bisa saja dimanipulasi oleh apa yang disebut brain power. Otak kita ini memang punya power, tapi sering mendahului pekerjaan Roh Kudus. Jadi, kita dikendalikan oleh logika yang tidak dipimpin Roh Kudus. Padahal, kalau bicara iman, kita harus percaya apa yang tidak kelihatan. Seperti 2 Korintus 5:7, not by sight, but by faith. Apakah ini mudah untuk dilakukan? Tidak. Kalau kita berkata, “Bapa kami yang di surga,” kita harus terlatih meyakini apa yang tidak kelihatan. Kalau menggunakan brainpower, kita jadi pusing. Lalu kita menghiasi doa dengan kata-kata, kalimat yang bagus-bagus. Makanya teolog-teolog hebat dalam berdoa, tak meleset kata-katanya. Tapi itu di dalam wilayah logika, bukan iman. Saat dia mendoakan orang sakit, mengusir setan, menghadapi kesulitan, apakah bisa tetap teduh dan tenang? Tidak akan. Jadi orang makin berteologi tinggi dan makin yakin dirinya pintar, justru malah semakin tidak beriman. 

Sering manusia dalam memecahkan masalah-masalahnya dengan menggunakan kemampuan brain-nya. Ia memang dipandu oleh ayat-ayat Alkitab, tapi karya Roh Kudus tidak ada di situ. Kita harus memiliki kualitas batin yang mampu melahirkan apa yang menyenangkan hati Allah. Dalam percakapan, setiap kata yang kita ucapkan, dalam keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan, kita bisa memproduksi tindakan, keputusan, renungan hati, pikiran yang menyenangkan hati Allah. Kalau semua pakai brain, kita tidak akan bisa melakukannya. Harus ada peran Roh Kudus yang memimpin kita.  

Tidak harus bersekolah teologi, kecuali yang memang dipanggil khusus untuk itu. Roh Kudus bisa memberi kita kecerdasan. Kalau dulu kita berkata, “Bapa kami,” kita lebih memakai brain. Sekarang, kita bisa dengan penghayatan dari hati. Kita tutup mata, katakan “Bapa…” Ini tidak bisa dijelaskan. Kita harus mengalami bahwa Allah yang kita sembah itu hidup dan nyata. Dalam kondisi-kondisi yang terancam dan kritis, kita sudah terbiasa ada di hadirat Allah, meyakini Allah. Kita sudah belajar melompat setinggi-tingginya. Maka ketika ada dalam situasi yang kritis, genting, kita tetap bisa berkata, “aku percaya.” 

Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari kita. Tuhan juga tidak mau mencari keuntungan apa-apa dari kita. Tetapi, kalau Dia menemukan manusia yang mengasihi Dia dengan tulus, Tuhan bisa dibahagiakan. Tuhan tidak membutuhkan uang, tenaga, atau apa pun dari kita, karena kita sebenarnya tidak bisa berbuat banyak, bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi kalau Tuhan menemukan orang yang mengasihi Dia dengan tulus, Tuhan merasa dibahagiakan. Dan kita bisa menjadi salah satunya, karena kita mengasihi Tuhan. Hal mengasihi Tuhan atau tidak, itu tergantung kita. Kalau kita berkata “bisa,” pasti kita bisa. Kalau kita bilang, “mau,” pasti kita bisa. Roh Kudus akan menolong kita untuk itu. Jangan menunggu sampai situasi genting. Kita akan terlambat membangun cinta kita kepada Tuhan, juga terlambat membangun iman kepada-Nya. 

Kita harus memiliki kualitas batin yang mampu melahirkan apa yang menyenangkan hati Allah.