Kristen Manja

Banyak kali kita menemui orang percaya yang ketika sedang terhimpit masalah, mereka datang kepada seorang hamba Tuhan, namun walaupun sudah dibimbing, tetap rentan. Akhirnya, bergantung kepada sang hamba Tuhan tersebut. Dalam hal ini, pasti ada sesuatu yang salah. Memang bisa, hamba Tuhan tersebut tidak mengarahkan dengan benar, tetapi mengikat. Memang dapat dimengerti bahwa pembinaan, konseling, mentoring bisa menjadi pertemuan secara berkala beberapa kali. Tetapi yang menjadi tujuan akhir, konseli atau orang yang dibimbing tersebut harus mandiri. Dia harus independen, menjadi kuat, dan tidak bergantung kepada sang hamba Tuhan. Sebab, pada akhirnya setiap individu harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan, menaruh percaya kepada Tuhan, mengenal Tuhan, dan bergantung kepada-Nya, bukan bergantung kepada manusia. 

Oleh sebab itu, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang manja. Kita harus bertumbuh di dalam Tuhan, mengalami perjumpaan dengan Tuhan, mengenal Tuhan, lalu bergantung kepada-Nya. Kalau tidak begitu kita akan menjadi orang Kristen yang selalu kerdil, lemah. Mestinya yang selalu dicari dan dinantikan yaitu Tuhan. Oleh sebab itu, supaya jangan menjadi manusia yang rentan, yang pertama, kita harus tahu bahwa di dalam Kekristenan tidak ada strata atau kelas. Jangan berpikir ada kelas khusus, kelas imam dan kelas awam. Harus tahu bahwa semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kita adalah hamba-hamba Tuhan, anak-anak Tuhan yang memiliki hak yang sama sebagai pewaris-pewaris Kerajaan Surga. Jangan berpikir kalau pendeta itu doanya lebih didengar oleh Tuhan, pengetahuannya tentang Tuhan pasti lebih banyak. Tetapi mereka yang termasuk kelas awam, dianggap kurang bisa berdoa, kurang bisa mengerti Firman, harus bergantung kepada mereka yang memiliki kasta yang lebih tinggi. Hal ini akan membunuh iman kita. Semua kita adalah anak-anak Allah yang memiliki hak yang sama untuk menikmati Tuhan dan mengalami Tuhan. 

Apalagi kalau kita sudah menjadi Kristen cukup lama, tidak usah harus mencari pendeta. Justru kita yang menyediakan diri menjadi konselor. Tuhan akan pimpin dan mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita akan layani. Namun banyak orang Kristen yang rentan, ringkih, lemah, sehingga selalu bergantung kepada manusia lain. Saatnya kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Di dalam 1 Petrus 2:9 Firman Tuhan mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.” Tidak ada strata, semua imamat yang rajani. Memang, panggilan kita masing-masing berbeda, misalnya menjadi pedagang, dokter, insinyur, aparat keamanan, pejabat pemerintah, pendeta, pemain musik di gereja dan lainnya. 

Yang kedua, Tuhan bisa berbicara kepada semua orang. Bukan hanya kepada pendeta, konselor, mentor. Tuhan pasti bisa berbicara kepada kita. Luar biasa, Tuhan kalau sudah bicara, tidak ada yang bisa mencegah. Memang Tuhan bisa bicara lewat manusia lain—pendeta, konselor, mentor—tetapi itu bagi mereka yang tidak atau belum dewasa. Bagi orang Kristen yang dewasa, mestinya dia berusaha untuk bisa mendengar suara Tuhan sendiri. Dia harus berjuang untuk bisa mendengar suara Tuhan. Kalau sampai kita menemui Tuhan, pasti jawaban-jawaban yang Tuhan berikan adalah jawaban-jawaban yang sempurna. 

Allah memberikan Roh-Nya tanpa batas kepada masing-masing kita. Kita datang kepada Tuhan untuk membawa masalah kita, percakapkanlah dengan Tuhan. Yakin, Tuhan pasti menolong dan membuka jalan. Memang tidak mudah. Supaya kita menjadi orang yang kokoh, tangguh dalam menghadapi berbagai masalah, berpikirlah bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Ada orang-orang yang berharap ketika dia konseling, konselornya bisa memberi jalan keluar, lalu dia pulang dari konseling itu, sudah bebas merdeka. Ini salah. Tetapi tidak sedikit orang yang mencari konselor atau ke gereja, supaya dia mendapat kelegaan sekejap. Bisa, bukan tidak bisa. Ketika cara berpikirnya diubah, dia mendapat kelegaan. Tetapi banyak masalah yang tidak selesai dalam waktu singkat karena perlu waktu. 

Tuhan pasti memberikan kita pertolongan, kekuatan, jalan keluar. Tuhan berjanji, pertama, masalah tersebut tidak melampaui kekuatan kita. Kedua, masalah tersebut mendewasakan kita. Ketiga, masalah tersebut pasti selesai pada waktunya. Jangan berharap manusia manapun untuk menyelesaikannya, walaupun akhirnya bisa saja Tuhan memakai manusia untuk menolong kita. Tetapi dari dasar hati kita jangan sekali-kali berpikir dan berharap pertolongan seseorang. Tuhan bisa pakai apa saja menolong kita dalam masalah. Tetapi kita harus berharap kepada Tuhan. Alkitab berkata, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yer. 17:5). 

Kita bawa masalah hidup kita kepada Tuhan, di waktu khusus dan di tempat khusus. Pertemuan dengan Tuhan merupakan pertemuan yang sangat berharga. Tidak boleh tidak, kita harus duduk diam di kaki Tuhan. Dengan demikian, kita mengandalkan Tuhan. Tuhan berkenan dengan orang yang menghormati Tuhan dengan memberikan pujian yang tulus dan yang hatinya tulus mengasihi Tuhan. Pasti orang-orang seperti ini dipakai Tuhan menjadi alat di dalam tangan-Nya. Kita harus belajar untuk duduk diam dan mendengar Tuhan berbicara. Jangan main-main. 

Supaya kita menjadi orang Kristen yang tidak manja, berpikirlah bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong kita.