Konsekuensi

Harta biasanya dipahami sebagai segala sesuatu yang memiliki nilai dan dipandang dapat membuat hidup lebih bahagia, lebih lengkap, lebih terjamin, lebih aman, dan lebih terhormat. Dalam pengertian umum, “harta” bisa berwujud segala sesuatu yang mempunyai nilai moneter; uang atau aset barang yang kelihatan. Harta juga bisa dipahami segala sesuatu yang yang dimiliki seseorang. Walaupun tidak berwujud, tetapi memiliki nilai yang membuat seseorang dapat menjalani hidup lebih bahagia, lebih lengkap, lebih terjamin, lebih aman, lebih terhormat. Seperti misalnya status sosial, gelar, dan yang lain yang tidak berwujud. Jadi, pada dasarnya harta itulah yang menjadi dewa atau ilah atau allah seseorang. Kita harus memahami dengan benar, karena ini sangat penting. Harta adalah objek dimana seseorang mengabdi, sehingga pada dasarnya harta itu adalah majikan atau tuan seseorang. Dalam Lukas 4:5, kita menemukan pelajaran yang sangat berharga terkait dengan harta ini, “Kemudian Yesus dibawa oleh Iblis ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata Iblis memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada Yesus, ‘Segala sesuatu itu, kuasa serta kemuliaan dunia itu, ku berikan kepada-Mu. Sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku, dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.’”

Janji yang ditawarkan Iblis tersebut tidak dibantah oleh Yesus. Berarti memang demikian; Iblis bisa memberikan kemuliaan dunia, keindahan dunia dengan segala gemerlapnya kepada manusia atau kepada siapa saja Iblis mau memberikan. Lalu Iblis melanjutkan, “Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “ada tertulis, engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Dari ayat-ayat ini kita mendapat pelajaran rohani yang indah sekali, yang berharga sekali bahwa ketika seseorang menyembah objek tertentu, maka objek itu menjadi ilahnya atau allahnya. Iblis “mensubkan” dirinya pada harta dunia atau materi. Kalau orang mengingininya, itu berarti ia menyembah Iblis. Jangan kompromi, jangan mengurangi ketegasan kebenaran ini. Kalau orang mengingini harta dunia dan memandang bahwa harta dunia materi tersebut membuat hidupnya lebih bahagia atau merasa dirinya bahagia, lengkap, aman, terjamin, terhormat, maka ia menyembah Iblis.

Itulah sebabnya, menanggapi pencobaan itu Yesus berkata, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! Kata ‘berbaktilah’ dalam Bahasa Yunani adalah latreia; latreuo, kata kerjanya. Yang di dalam bahasa Inggris diterjemahkan service; melayani. Kata ini juga digunakan oleh Paulus di dalam Roma 12:1, “Ibadah yang sejati mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah.” ‘Ibadah yang sejati’ di dalam teks aslinya menggunakan kata latreia. Jadi, kalau kita tidak menyembah 100% kepada Tuhan Allah, lebih baik tidak usah sama sekali. Selama ini kita menguranginya, dan kita merasa aman-aman saja. Kita itu tanpa sadar membagi hati kita. Tetapi sekarang kita harus benar-benar bertobat dan benar-benar mau berubah. Jangan berkompromi dengan ruang hati sekecil apa pun terhadap harta.

Kalau seseorang bersikap salah terhadap harta, maka konsekuensinya adalah terpisah dari Allah; kebinasaan. Memang pada umumnya orang disebut kaya kalau memiliki nominal uang jumlah besar atau aset dalam jumlah besar. Dikatakan miskin, kalau kebalikannya; jumlah nominal uangnya kecil atau bahkan banyak utang, asetnya tidak banyak. Tetapi kalau mengacu pada pengertian bahwa harta adalah segala sesuatu yang membuat orang merasa bahagia, lengkap, aman, terjamin, terhormat, maka yang namanya “kaya” atau “miskin” tidaklah ditentukan oleh apa yang ada di luar diri orang itu; tidak ditentukan oleh harta materi duniawi. Dengan kata lain, jumlah nominal uang dan besarnya aset tidak menentukan seseorang itu kaya atau miskin. Maka tidak heran jika kita temukan seseorang yang memiliki uang dan aset dalam jumlah besar, tetapi semua itu tidak membuat dirinya bahagia, tidak merasa dirinya lengkap, terjamin, aman, dan terhormat. Sejatinya, ia adalah orang yang miskin. Jadi, suasana jiwa seseorang tidak ditentukan oleh sesuatu di luar dirinya, tetapi tergantung filosofi, pandangan, dan prinsip-prinsip hidup.

Pada umumnya, manusia yang telah jatuh dalam dosa, telah sesat dan gagal memahami apa itu harta yang sesungguhnya, dan salah dalam pengertian “kaya” dan “miskin,” termasuk orang Kristen. Banyak orang Kristen tidak memahami apa dan siapa harta yang sesungguhnya itu, dan apa pengertian yang benar mengenai “kaya dan miskin.” Karena hal ini mengarahkan hidup seseorang ke tujuan atau ke arah tertentu. Ini merupakan hukum yang tak dapat disangkali. Hal tersebut mewarnai kehidupan, gaya hidup, perilaku, watak manusia. Oleh karenanya Paulus mengatakan, “berubahlah oleh pembaharuan budimu,” artinya konsep dan pengertian kita mengenai apa itu ibadah—yang sama dengan apa itu harta, apa itu kaya dan miskin—harus benar.

Kalau orang bersikap salah terhadap harta, maka konsekuensinya adalah terpisah dari Allah