Kompromi

Fokus hidup Yesus sepenuhnya adalah Kerajaan Surga. Semua yang dikerjakan-Nya hanya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Tidak ada sedikit pun ke arah bumi ini, dan kita harus mencontoh itu. Banyak orang merasa bahwa berhubung dirinya adalah manusia—dalam konteks orang Kristen—jadi “sedikit duniawi” bisa ditolerir. Tanpa disadari, hal ini membuat kita melakukan kompromi-kompromi, konformisme, sehingga kita terus-menerus duniawi, tidak pernah menjadi rohani. Rohani artinya menjadi seorang yang selalu memikirkan hal-hal kekekalan atau hal-hal Kerajaan Surga. Tentu hidupnya mengarah ke langit baru bumi baru. Ironis, tanpa sadar kita hidup dalam kompromi atau penyesuaian dengan dunia sekitar, kita punya tali yang mengikat kita untuk tidak bisa terbang. Karena kita sudah lama ada dalam “kesalahan fokus” tersebut, sehingga mengembalikan fokus sepenuhnya ke Kerajaan Allah begitu sulitnya, bahkan bisa menjadi semakin mustahil.

Gereja yang mengalami kemerosotan telah menjadi gereja duniawi yang tidak lagi bergerak menuju atau mengarahkan hidup ke langit baru bumi baru. Para pimpinannya sibuk berdebat, berkonflik, bertikai doktrin, sehingga jemaat menjadi rusak. Tetapi selagi masih ada kesempatan, yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah asal kita mau betul-betul bertobat. Alkitab jelas berkata bahwa kita harus serupa dengan Yesus. Alkitab juga mengatakan bahwa kita harus sampai pada pengakuan dan kenyataan hidup, “hidupku bukan aku lagi tapi Kristus.” Kalau kita merenungkan bahwa Yesus ini benar-benar rohani, tidak ada duniawinya sama sekali, kita pun harus benar-benar rohani, tidak ada duniawinya. Jadi, kita tidak boleh memberi kesempatan atau peluang, yang akhirnya akan melebar terus. Bukan hanya bocor, tapi kita membuka pintu selebar-lebarnya bagi pengaruh dunia untuk masuk dalam hidup kita. Mungkin kita bisa berkhotbah, membuat seminar, membuat tulisan-tulisan buku rohani, tapi kita tidak sepenuhnya memindahkan hati di Kerajaan Surga. Kristen yang kita kenakan selama ini memang kekristenan yang baik—baik menurut keberagamaan, tapi itu Kristen palsu jika ditinjau dari Injil yang sejati.

Maka, ketika para murid mendengar khotbah Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa tubuh-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman, mereka berkata, “Keras. Tidak mudah.” Mengenakan perasaan-Nya dan memperagakan hidup-Nya adalah hal yang sulit, bahkan mustahil. Tetapi kalau kita tidak begitu, kita tidak makan roti yang turun dari surga, kita tidak hidup selama-lamanya. Maka kemudian mereka berkata, “Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk memperoleh roti itu?” Kemudian Yesus menjawab, “Percayalah kepada Dia yang diutus oleh Allah.” Percaya artinya mengenakan hidup-Nya atau gairah-Nya; itulah roti hidup. Nenek moyang bangsa Israel makan roti di padang gurun, dan mereka mati. Karena itu adalah roti jasmani. Tapi yang Yesus tawarkan adalah roti dari surga. Namun sejujurnya, kita tidak mau makan roti dari surga karena ada roti dunia yang “menyenangkan.”

Orang Kristen yang benar-benar rohani pasti dapat menghayati bahwa dirinya adalah anggota keluarga Kerajaan Allah, dan ini akan mendorong seseorang berperilaku agung, suci, tak bercacat dan tak bercela, walau itu adalah hal yang sulit. Tapi karena tidak memiliki pilihan lain, maka ia berani punya komitmen, tekad, dan sumpah dengan Allah. Perhatikan, kalau seseorang punya niat jahat—karena memang hatinya bengkok—maka dalam level stadium tertentu, dia mengadakan perjanjian dengan kuasa kegelapan. Kemudian, pasti ada niat-niat jahat yang terselenggara, dan itu pasti merugikan, menyakiti, melukai orang lain, sesama, dan terlebih menyakiti Tuhan. Tapi sebaliknya, kalau seseorang ada niat hidup suci—walaupun banyak kekurangan dan kelemahan, namun ia memiliki tekad, janji, sumpah, komitmen untuk hidup benar—maka dia mengadakan perjanjian dengan Allah. Maka, Tuhan akan memenuhi apa yang dikatakan Roma 8:28, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.”

Seseorang tidak mungkin baik mendadak atau jahat mendadak. Jadi, ketika kita mendapati seseorang “berubah menjadi jahat,” sejatinya dia tidak berubah, tapi dia hanya ketahuan aslinya. Setiap kita punya wajah asli. Maka, jika kita percaya apa yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa Dia pergi menyediakan tempat bagi kita, jangan kita hanya percaya dengan keyakinan pikiran. Kalau benar percaya, kita harus keluar dari “Mesir.” Bukan hanya “percaya,” lalu bersantai-santai. Itu namanya tidak percaya. Firman Tuhan mengatakan dalam 1 Korintus 10, “semua ini ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita.” Itu konteksnya bangsa Israel yang keluar dari Mesir, tetapi ternyata tidak semuanya sampai Tanah Kanaan. Demikian juga hari ini, tidak semua orang Kristen sampai ke surga. Maka, kita harus berjaga-jaga dan serius di dalam perjuangan. 1 Korintus 10:13 berkata, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Tetapi pencobaan tetap akan bisa menjatuhkan kalau kita tidak berjaga-jaga.

Banyak orang Kristen yang tidak mengerti adanya ranjau, karena memang tidak dalam perjalanan. Dia berada di dalam tawanan. Masih di Mesir atau mungkin berhenti di salah satu tempat. Seperti bangsa Israel yang berangkat dari Mesir, sampai di Masa, Meriba, jika di situ mereka tidak meneruskan, maka mereka tidak melihat pencobaan-pencobaan itu. Tapi kalau mereka berjalan terus, mereka mengalami berbagai rintangan dan halangan. Harus membelah Kolsom, bertemu orang Amalek, Yerikho, bangsa Ai, lalu bertemu Sungai Yordan. Tetapi semuanya pasti bisa dilewati, asal tidak bersungut-sungut.

Merasa diri sebagai manusia, sehingga menjadi “sedikit duniawi” bisa ditolerir; sejatinya, tanpa disadari hal ini membuat kita melakukan kompromi yang membuat kita terus-menerus duniawi dan tidak pernah menjadi rohani.