Keterbatasan dan Kerentanan Manusia

Inilah kenyataan hidup, bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu menit ke depan. Banyak orang yang tidak pernah memperhitungkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi di luar dugaan manusia. Seseorang yang mengalami kecelakaan, bertanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?” Atau ketika dokter berkata bahwa kita mengidap penyakit yang belum ada obatnya. Yang lain tidak pernah menduga kalau palu hakim berkata, “Anda dikenakan hukuman seumur hidup.” Tetapi inilah hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu menit ke depan. Mengutip apa yang dikatakan Tuhan Yesus di Lukas 17:26-29, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.”

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk sombong. Sadarlah bahwa kita adalah manusia yang sangat terbatas. Menyadari keterbatasan dan kerentanan manusia, maka kita harus sungguh-sungguh berurusan dan berperkara dengan Tuhan. Kesombongan seseorang berangkat dari sikap yang tidak merasa membutuhkan Allah.  Terutama mereka yang tidak memiliki masalah, semua berjalan lancar. Kalaupun mereka punya banyak masalah, yang mereka butuhkan adalah pertolongan atau berkat Tuhan untuk mengatasi masalah, bukan pribadi Tuhan itu sendiri. Ketika dalam kehidupan hari-harinya, ia tidak membiasakan diri mencari wajah Tuhan, maka ketika dalam keadaan krisis, ia tidak akan bisa menemukan Tuhan. Tuhan tidak bisa dipermainkan seperti itu. Maka, jangan hanyut dalam kesenangan-kesenangan hidup dan kenyamanan sampai gagal fokus ke Tuhan.

Di luar sana, banyak orang tidak peduli Tuhan; mereka sombong, apalagi kalau banyak harta, mobil bagus, rumah mewah, punya kenalan pejabat tinggi dan aparat keamanan. Padahal, segala sesuatu bisa terjadi! Mungkin kita memang bukan siapa-siapa, tapi bersyukurlah karena kita sadar bahwa yang kita butuhkan hanya Tuhan. Ini sangat realistis dan logis. Kita harus berubah, dan melalui pesan ini kiranya kita disadarkan dan sejak sekarang bener-benar mengalokasikan waktu untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita memperkarakan diri kita dengan Tuhan. Kalau Allah itu hidup, Allah itu ada, maka kita harus menemui Dia. Justru ketika kita hidup, kita lakukan persiapan, sebab ketika kita sudah meninggal, kita tidak punya waktu lagi. Dunia ini jahat sekali; khususnya bagi kaum muda. Jika kalian terbawa oleh filosofi, cara berpikir dan prinsip-prinsip hidup anak-anak dunia, kalian akan terhilang dan tidak pernah bisa berubah. Maka sebelum rusak, cari Tuhan. Jangan kalian merasa sekarang belum waktunya. Kalau tidak mencari Tuhan hari ini, kalian akan tertelan dunia, habis. Biarlah kalian menjadi anak yang merupakan hadiah Tuhan untuk mama papamu. Berkelakuan baik, hormat orangtua, kerja keras. 

Coba kita perkarakan, sejatinya, “apakah saya percaya Tuhan?” Dan, apakah Tuhan merasa bahwa Ia dipercayai oleh kita? Jangan sampai kita tidak pernah mempersoalkan hal ini. Sebagaimana kita juga punya pengalaman yang sama dengan seseorang. Terutama ketika kita ingin berbisnis dengannya, maka perlu ada rasa saling percaya. Percaya bukan hanya keyakinan di dalam pikiran, melainkan suatu tindakan. Harus ada bukti dari percaya kita. Dan kalau kita percaya Tuhan, maka kita harus menuruti kehendak-Nya. Dengan kata lain, kalau kita percaya Tuhan, maka kita harus hidup sesuai apa yang Tuhan kehendaki; berkenan di hadapan Tuhan. Kalau tidak, berarti kita tidak atau belum percaya Tuhan dengan benar. Jangan sampai ketika Tuhan datang atau kita meninggal dunia, kita masih belum atau tidak sanggup fokus mencari Allah. 

Sejatinya, inilah yang menggelisahkan, yaitu ketika kita belum bisa berpikir dalam orientasi berpikir kekekalan. Dimensi cara pandang kita masih dimensi cara pandang manusia pada umumnya. Sementara, mengubah dimensi berpikir ini, sangat tidak mudah dan tidak bisa dalam waktu yang singkat. Jadi kalau di dalam Roma 8:28 Alkitab berkata, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia,” itu bukan hanya perubahan karakter—dari orang jahat jadi baik atau orang baik jadi baik sekali—tetapi juga perubahan dimensi berpikir atau paradigma berpikir kita. Dan proses ini pasti dikerjakan oleh Tuhan, melalui Roh Kudus di dalam hidup kita.

Kita hidup di bumi yang tidak ideal untuk dihuni; bumi yang membawa penghuninya kepada berbagai persoalan. Harus selalu diingat bahwa kita adalah makhluk kekal, tidak sama dengan makhluk ciptaan lainnya. Dan kematian kita bukanlah akhir perjalanan hidup. Kematian hanyalah sebuah transisi, dari kefanaan kepada kekekalan. Siapkah kita menghadapinya?

Menyadari keterbatasan dan kerentanan manusia, kita harus sungguh-sungguh berurusan dan beperkara dengan Tuhan.