Kesadaran Kekal

Sejatinya, kematian bukanlah suatu hal yang mengerikan kalau kematian itu seperti orang tertidur, dan bersamaan dengan kematian tersebut, semua yang dijalani oleh manusia dianggap sudah selesai. Namun menjadi masalah, karena kematian tidak menghilangkan kesadaran manusia. Walaupun tubuh manusia mati dikubur, tetapi manusia masih memiliki kesadaran, dan kesadaran manusia itu kekal. Ini yang menjadikan persiapan menghadapi kematian harus dipandang serius. Maka, kita harus mengenal siapa manusia itu. Sebab, pengertian yang benar tentang manusia dan penghayatan yang penuh atas keberadaan sebagai manusia memengaruhi seluruh perilaku hidup seseorang. Namun, jika hanya pengetahuan secara kognitif, pengetahuan tentang manusia yang dimiliki tidak memberi pengaruh yang kuat terhadap perilaku hidupnya. Maka, kita harus mengenal kebenaran yang murni, bertumbuh di dalam kebenaran yang benar, dimana dibutuhkan pimpinan dan pencerahan Roh Kudus. Perlu diingat bahwa orang bisa belajar teologi tanpa Roh Kudus. Seorang yang beragama lain bisa sekolah di Sekolah Tinggi Teologi Kristen untuk bisa menyerap pengetahuan tentang Allahnya orang Kristen, termasuk antropologi Alkitab. Sangat bisa. Jadi, tanpa Roh Kudus pun orang bisa mengerti pokok-pokok ajaran di dalam Alkitab. 

Tetapi kalau Roh Kudus memimpin seseorang—dan tentu disertai perjumpaan—maka pengetahuan tentang Allah yang benar dari orang yang haus dan lapar akan kebenaran tersebut akan berdampak atau mendesak orang itu memperagakannya. Jadi, orang yang bicara mengenai siapa dan bagaimana Allah dengan benar, memahami siapa dan bagaimana Allah dengan benar, maka pemahaman itu pun akan mendesak dia melakukan sesuatu. Demikian pula jika kita mengenal siapa manusia itu dengan benar, hal itu akan mendesak kita melakukan sesuatu. Seseorang yang mengenal dirinya dengan benar, pasti akan, pertama, menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan; artinya mengerti bagaimana seharusnya bersikap terhadap Tuhan, terhadap sesama, dan terhadap lingkungan kita. Ini yang mendasari kita membangun hubungan interpersonal dengan Tuhan; sebuah relasi interpersonal yang konkret, sebab itu akan berlanjut terus di kekekalan. Jadi, jangan kita merasa sudah cukup mengerti tentang siapa diri kita. 

Kedua, ia dapat memperlakukan dirinya sendiri dan sesamanya dengan benar pula. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal dirinya sendiri tidak dapat menghargai dirinya dengan benar pula. Hal ini sama artinya dengan tidak dapat mengasihi dirinya sendiri. Orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri tidak akan dapat mengasihi sesamanya secara benar, sebab landasan mengasihi sesama adalah mengasihi diri sendiri terlebih dahulu (Mat. 22:39). Orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri berarti tidak memanusiakan dirinya dengan benar. Ketiga, merupakan pijakan untuk menemukan maksud rencana Allah menciptakan manusia, yaitu untuk membinasakan pekerjaan Iblis; Lusifer. Mandat untuk menaklukkan bumi tentu bukan hanya aspek fisiknya, tetapi juga aspek metafisik. “Metafisik” di sini maksudnya adalah alam roh atau alam rohani yang memiliki peranan lebih besar dalam kehidupan, dimana terdapat oknum Iblis atau setan yang telah memberontak kepada Allah dan juga merupakan lawan yang tidak boleh dianggap remeh.

Keempat, menjadi landasan hubungan antara Allah dan umat, antara manusia dan sesamanya, serta dengan alam ciptaan. Tanpa landasan hubungan yang benar ini, maka kehidupan menjadi rusak. Terakhir, ia akan mengelola alam ciptaan Tuhan sebagai sebuah tanggung jawab. Kalau hari ini bumi dan alamnya menjadi rusak, hal ini disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri yang tidak mengelola alam dan melestarikannya dengan bijak. Pada umumnya, manusia tidak memahami atau tidak mau mengerti bahwa tugas untuk mengelola alam ini juga menjadi tanggung jawabnya. Keserakahan manusia telah merusak ekosistem bumi ini dalam skala yang semakin besar. Jika hari ini banyak bencana alam, itupun disebabkan perbuatan manusia itu sendiri.

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus merupakan proses ditemukannya kembali pengetahuan mengenai siapa manusia. Melaluinya, manusia dapat dikembalikan kepada rancangan semula atau tujuan awal Allah menciptakan manusia. Itulah sebabnya orang percaya harus belajar untuk mengenal dengan benar siapa dirinya menurut Alkitab. Selain itu, juga harus terus berusaha untuk bertumbuh menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Prinsip penting yang harus dikemukakan bertalian dengan manusia adalah kita ada bukan dengan sendirinya secara otomatis (Kej. 1:26-27; Kej. 2:7). Dan Ia ingin yang diciptakan itu menyenangkan diri-Nya. Berapa lama? Karena Allah kekal, maka manusia yang diciptakan juga harus kekal. Menghayati bahwa kita ini ciptaan dari tangan Allah, itu sudah menakjubkan. Apalagi Allah menghembuskan nafas (nishmat khayyim); ada sesuatu yang dituangkan, dikeluarkan dari diri Allah kepada makhluk manusia ini. Maka, Alkitab mengatakan bahwa manusia itu anak-anak Allah; Adam itu anak-anak Allah. Kita ini adalah anak-anak Allah, diciptakan untuk kesukaan Allah. 

Walaupun tubuh manusia mati dikubur, tetapi manusia masih memiliki kesadaran, dan kesadaran manusia itu kekal.