Keriangan

Seseorang baru benar-benar memiliki yang namanya keriangan—riang, kebahagiaan, sukacita—ketika ia memiliki keringanan; tidak ada yang membebani. Adapun yang membuat kita tidak bisa riang, yang membuat kita tidak bisa sukacita dan bahagia di dalam Tuhan, karena memiliki banyak beban. “Beban” di sini terjadi bukan hanya persoalan-persoalan berat, masalah-masalah yang rumit, yang sukar, yang menyusahkan hati, melainkan bisa berupa sukacita dan bahagia oleh karena fasilitas dunia. Orang yang hidupnya dalam sukacita dan kegirangan karena fasilitas dunia adalah orang yang terbelenggu; orang yang terikat. Kalau seseorang masih hidup dalam ikatan-ikatan kesenangan dunia ini, maka orang-orang seperti itu pasti tidak memiliki keringanan, dan pasti tidak memiliki keriangan di dalam Tuhan. Karena, terang tidak bisa dipersatukan dengan gelap; orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Orang harus memilih: sukacita dari Tuhan atau sukacita dari dunia. Seseorang yang hanya memiliki kesenangan dari dunia dan tidak memiliki sukacita dari Tuhan, dia bisa menikmati semaksimal mungkin kebahagiaan dan kesenangan dari dunia ini, tapi tidak bisa menikmati keriangan, sukacita di dalam Tuhan.

Hal ini sebenarnya sulit atau tidak bisa dijelaskan kalau orang tidak mengalaminya. Tetapi walaupun tidak mengalami, kalau rendah hati mau mendengar, dia akan bisa paling tidak mengerti, dan Roh Kudus akan menolong dirinya, bahwa ada sukacita yang bersifat adikodrati; di luar kodrat. Ini sukacita yang bisa dikatakan transempiris; di luar pengalaman. Karena Tuhan Yesus sendiri yang berbicara, bahwa damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus tidak sama seperti yang diberikan oleh dunia ini (Yoh. 14:27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”). Sukacita seseorang karena menjadi pemimpin, memiliki posisi, memiliki kehormatan, memiliki panggung yang tinggi, dapat menjadi berhala dan merusak hubungannya dengan Tuhan. Sukacita di dalam Tuhan, pasti membuat kita bisa menikmati tanggung jawab kita sebagai pemimpin. Tetapi menjadi pemimpin yang dihormati manusia itu bukanlah landasan dan sumber sukacita kita. Oleh belas kasihan anugerah Tuhan, seiring dengan perjalanan waktu, kita pasti bisa lebih mengerti. Sehingga kalimat, “Tuhan, aku rela melepaskan semua keinginan, semua hasrat di dalam diri ini,” baru bisa kita jalani dengan lebih konkret, lebih nyata, lebih penuh sampai Tuhan memenuhi bejana hati kita dengan gairah surgawi.

Dan ini semua merupakan fakta yang harus terjadi, harus berlangsung dalam hidup kita, dan kita benar-benar bisa mengalaminya. Inilah dimensi hidup kekristenan yang sejati. Tidak bisa dirumuskan dengan kata-kata atau kalimat. Kalaupun bisa, sangat terbatas. Penjelasan definisi-definisi mengenai hal ini sangatlah terbatas, karena hal ini merupakan fakta yang harus dialami. Sukacita, damai sejahtera Tuhan yang dikatakan “Kutinggalkan bagimu” tidak bisa hanya dirumuskan dalam simbol kalimat dan kata, namun harus dialami. Jika bandingkan peristiwa Sadrakh, Mesakh, Abednego dengan orang-orang Kristen perdana (Kristen mula-mula) maka kita dapat menemukan sebuah perbedaan. Sadrakh, Mesakh, Abednego berkata, “Kalau Allah yang kami sembah sanggup menolong kami, Dia akan menolong. Kalau tidak, kami tetap percaya.” Perlu ditegaskan di sini bahwa Allah bukan tidak sanggup membebaskan mereka dari dapur api, tapi Allah tidak menolong. Jadi ketika api dipanaskan tujuh kali lipat, Sadrakh, Mesakh, Abednego tidak terbakar. Tidak ada satu helai rambutnya yang terbakar. Bahkan ada sosok lain di dapur perapian tersebut, sehingga mereka bertanya-tanya, “Siapakah orang itu?”

Berbeda dengan orang Kristen perdana pada abad mula-mula. Waktu mereka dibakar, betul-betul mati dibakar. Tidak ada pendampingan, tidak ada mukjizat, tidak ada pertolongan dalam bentuk fisik. Seperti Tuhan Yesus di kayu salib, Bapa tidak melewatkan cawan dari penderitaan yang dialami oleh Yesus, sampai Yesus berteriak, “Eloi, Eloi, lama sabachthani.” Tetapi Yesus memercayai Bapa. Dia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa. Bagi kita hari ini yang percaya kepada Tuhan, kita pun harus berani mengosongkan bejana jiwa tanpa ragu-ragu. Jangan berpikir nanti menjadi kurang bahagia, kurang menikmati hidup, dan menjadi tidak wajar di mata manusia. Jika kita menolak atau menundanya, maka sampai mati kita tidak pernah mengalami kehidupan yang mengosongkan diri dari hasrat pribadi. Orang yang mengosongkan diri dari hasrat pribadi, itu baru bisa berprinsip seperti Yesus berprinsip: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Seseorang yang masih hidup dalam ikatan-ikatan kesenangan dunia ini, pasti tidak memiliki keringanan dan keriangan di dalam Tuhan.