Kemungkinan Berbuat Dosa

Orang Yahudi punya tatanan; tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Semua ada di dalam hukum mereka. Jadi, hukum Tuhan itu menyatu dengan hukum negara, karena hukum negara itulah hukum-hukum yang lahir dari Taurat, apalagi khususnya pada zaman Yesus. Maka, ada pemerintahan imam-imam yang tidak kalah dominannya dengan pemerintahan politik. Sehingga sering terjadi benturan antara pemerintahan keagamaan dengan pemerintahan kekaisaran Roma. Ada konflik yang ditimbulkan akibat sistem pemerintahan yang demikian. Bagi orang-orang Yahudi yang ultra ortodoks atau garis keras, jangan coba-coba ada restoran yang menyajikan menu daging babi, misalnya. Tempat makan tersebut bisa dibakar. Pada hari Sabat pun, tidak boleh ada orang Yahudi yang bekerja. Jadi kalau kita melihat ada orang-orang beragama yang ketat dengan agamanya, orang Yahudi “lebih gila” dari itu. Sampai orang mau naik lift saja, tidak boleh menekan tombolnya. Mereka punya hukum. 

Bagi orang Kristen yang sejak lahir menjadi Kristen, percaya Yesus itu otomatis. Bukan merupakan suatu hal yang sulit. Andai saja tengah malam ada yang mengagetkan kita, membangunkan kita lalu menyuruh kita “percaya Yesus,” maka tidak perlu pikir panjang, bisa kita lakukan. Ini dianggap sebagai jalan yang mudah. Mereka sudah merasa telah memiliki iman atau percaya yang benar tanpa usaha, tanpa perjuangan sama sekali. Dan sejujurnya di antara kita banyak dari berbagai suku bangsa yang memang nenek moyangnya sudah beragama Kristen. Jika kita secara turun-temurun berasal dari keluarga Kristen, biasanya tidak perlu berjuang untuk percaya Yesus. Itu sudah langsung dengan sendirinya atau secara otomatis terjadi. Jika kita beragama Kristen hanya karena faktor keturunan, besar kemungkinan kita tidak mengerti apa itu percaya yang benar. Kita pikir percaya itu mudah—yaitu mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sudah selamat—beratri kita menyamakan konsep percaya yang dilakukan dalam agama Yahudi. Syahadat saja plus hukum dan semua tatanan serta sanksi-sanksinya. 

Aneh bukan, jika kita bisa menyatakan percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat tanpa tatanan? Oleh sebab itu, pasti ada tatanan. Tapi, banyak orang tidak mengerti dan tidak mau mengerti hal ini. Banyak orang Kristen merasa telah memiliki iman atau percaya benar, tanpa usaha, tanpa perjuangan sama sekali. Mungkin sebagian kita juga begitu. Kita tidak bisa membedakan antara keyakinan terhadap status Yesus yang sebenarnya tidak menyelamatkan, dengan percaya yang benar yang memberi keselamatan. Keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, baru keyakinan terhadap status-Nya. Keyakinan atau percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, itu baru penerimaan kita terhadap status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Memercayai status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat belum berarti sudah memercayai pribadi-Nya. 

Banyak orang merasa sudah percaya kepada Yesus, tetapi baru memercayai status-Nya, belum memercayai pribadi-Nya, belum memercayai diri-Nya; He, himself. Ini iman yang tidak menyelamatkan. Malangnya, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki percaya yang benar dengan mengakui dan menerima status Yesus tersebut. Ditambah lagi dengan “percaya Yesus telah mati di kayu salib menebus dosa-dosa kita,” itu baru iman sejarah. Iman yang benar adalah kesediaan untuk bukan hanya percaya status Yesus Tuhan dan Juruselamat, bukan hanya meyakini dan menerima dan memercayai karya-karya-Nya 2000 tahun yang lalu, lahir di kota Betlehem, mati di kayu salib dan bangkit. Tetapi percaya itu melibatkan seluruh kehidupan kita, terkait dengan status Yesus dan karya keselamatan yang dikerjakan 2000 tahun yang lalu. Ketertundukan orang percaya ditunjukkan dengan kesediaan untuk sungguh-sungguh mengakui Dia Tuhan. Pengakuan itu bukan hanya di mulut. Namun pada kenyataannya, jangankan tunduk, mengenal Dia juga tidak. Jika kita merasa sudah mengenal karena membaca Alkitab atau mendengar khotbah, itu baru mengenal secara pikiran kognitif. Kita tidak pernah bertemu dengan-Nya. Jangankan bertemu, mungkin sebenarnya kita juga tidak yakin benar bahwa Dia menyertai kita. 

Kalau kita mengaku bahwa Dia adalah Juruselamat, kita akan menyediakan diri untuk diselamatkan; masuk dalam proses keselamatan. Mengakui Yesus Tuhan, berarti harus tunduk. Mengakui Yesus Juruselamat, artinya harus dibawa kepada proses keselamatan. Ini seperti sekeping uang dengan dua sisi; sama saja. Kalau kita hanya mengaku Yesus dalam status-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat tanpa melibatkan seluruh hidup kita, ruang hidup kita masih bisa dimasuki dosa dan percintaan dunia. Kalau kita hanya mengaku status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, berarti kita masih membuka kemungkinan berbuat dosa dan mencintai dunia. Tetapi kalau kita percaya dengan melibatkan seluruh hidup kita, kita mengaku Yesus Tuhan, berarti harus taat kepada-Nya. Menerima Yesus sebagai Juruselamat, berarti dikembalikan ke rancangan Allah semula. 

Kalau kita hanya mengaku status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, berarti kita masih membuka kemungkinan berbuat dosa dan mencintai dunia.