Kemuliaan Sementara

Hampir semua manusia—dan bisa ini dikatakan semua manusia—tentu manusia yang sehat dan wajar berpikirnya, ingin memiliki prestasi di dalam hidup, ingin ada pencapaian di dalam hidup ini. Tentu prestasi dan pencapaian masing-masing orang bisa berbeda, sesuai dengan filosofi hidup yang dimiliki setiap orang. Yang satu, pencapaiannya dalam dunia pendidikan; yang lain dalam dunia politik dan pemerintahan; yang lain lagi, dalam bentuk materi atau kekayaan, dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah kita memikirkan prestasi yang memiliki nilai kekal? Sebab kalau hanya gelar, kekuasaan dan pangkat, kedudukan, kekayaan, popularitas atau apa pun yang bisa diraih oleh seseorang, semua akan lenyap seperti uap. 

Dan ketika seseorang melihat realita bahwa semua yang diupayakan dengan susah payah akhirnya lenyap dalam sekejap, itu ketragisan yang luar biasa. Dan orang-orang yang fokus pada prestasi atau pencapaian terhadap hal-hal yang fana tersebut, pasti dia mengorbankan prestasi kekal yang mestinya diupayakan, diusahakan, diperjuangkan. Betapa tragisnya itu. Tuhan Yesus memberi pesan kepada kita, “apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Jadi, apa pun prestasi yang bisa dicapai, tetapi kalau jiwanya binasa, tidak ada artinya. 

Mari kita memikirkan hal ini dengan serius, memperkarakan ini di sepanjang hari, minggu, bulan, dan tahun-tahun hidup kita. Tuhan menghendaki kita berubah. Tuhan menghendaki kita mengarahkan fokus hidup kita kepada yang bernilai kekal atau abadi. Jangan sampai kita mengalami ketragisan hidup, ketika apa yang kita usahakan, upayakan dan perjuangkan dalam tahun-tahun umur hidup kita dengan susah payah, lenyap dalam sekejap. Dan kita tidak memiliki apa pun di dalam kehidupan ini. 

Di dalam 2 Korintus 8:9 firman Tuhan mengatakan: “karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Kita percaya bahwa Yesus sudah ada sebelum lahir di kota Betlehem. Jadi, ada praeksistensi. Dia memiliki kemuliaan sebelum datang ke dunia. Dia adalah Anak Tunggal Bapa.

Tentu “kekayaan” yang dimaksud di sini bukanlah kekayaan materi, sebab kekayaan Yesus tidak diukur dengan materi. Kemuliaan bersama Bapa, itulah kekayaan-Nya. Dia rela meninggalkan kemuliaan untuk menjadi manusia. Bahkan dalam keadaan sebagai manusia, Ia direndahkan, dihina dengan tubuh setengah telanjang atau telanjang, tergantung di kayu salib antara langit dan bumi, dan mati dalam keadaan miskin karena jubah yang dikenakan-Nya pun dilucuti dan diperebutkan dengan undi. Hal ini luar biasa. “Supaya kamu menjadi kaya.” Tentu kekayaan di sini adalah kemuliaan seperti kemuliaan yang pernah Yesus miliki. 

 “Supaya kita yang miskin menjadi kaya. Oleh karena kerelaan-Nya, Dia yang kaya menjadi miskin.“ Tetapi persoalannya sekarang, apakah benar kita sudah menjadi kaya? Ini bukan kekayaan materi. Apakah kita telah memiliki kemuliaan atau layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus? Roma 8:17 mengatakan, “jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus.” Di dalam Injil Yohanes, beberapa kali dikatakan atau Yesus mengatakan, “kemuliaan yang Kau berikan kepada-Ku sebelum dunia dijadikan.” Kemuliaan yang akan dikembalikan kepada Kristus. Dan bersama-sama dengan Yesus, kita akan menerima kemuliaan itu. Persoalannya, kita memiliki kemuliaan itu atau tidak? Tepatnya, apakah kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus? 

Coba kita bertanya kepada diri kita sendiri. Kita layak tidak, dimuliakan bersama dengan Kristus? Apa pun yang kita telah capai dan miliki hari ini, itu kemuliaan sementara. Kita memiliki rumah tangga yang bahagia, suami yang cakap mencari nafkah, istri yang cantik dan mendukung suami, keluarga yang ideal di mata manusia, artinya kita memiliki kemuliaan berkeluarga. Kita sukses di dalam karier, memiliki jabatan tertentu dengan penghasilan besar, berarti kita memiliki kemuliaan di dalam karier. Kita meniti studi dari SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, mencapai gelar bukan saja stratum 3 tetapi juga profesor barangkali, itu kemuliaan akademis. Itu juga sementara. 

Kita memiliki bisnis yang terus berkembang dan memiliki aset dalam jumlah besar, itu kemuliaan finansial, kemuliaan harta. Kita menjadi pejabat tinggi yang memiliki kekuasaan, pangkat, kedudukan, itu kemuliaan (kehormatan) sementara. Kita memiliki popularitas, itu kemuliaan popularitas yang hanya sementara. Yesus datang memberi kita kesempatan untuk memiliki kekayaan yang abadi. Dan kekayaan itu kemuliaan bersama dengan Dia. Tidak berlebihan, karena tidak ada kata kalimat, narasi atau penjelasan apa pun yang bisa menggambarkan kemuliaan itu. Sebagaimana Allah yang mulia yang kemuliaan-Nya tidak bisa kita pahami dengan nalar kita yang terbatas, demikian pula dengan kemuliaan yang Allah berikan untuk Putra Tunggal-Nya, juga untuk orang-orang yang berhak menerima kemuliaan itu.  

Apa pun yang kita telah capai dan miliki hari ini, itu kemuliaan sementara.