Kemuliaan dalam Kesulitan

Di Perjanjian Lama, kita menemukan orang-orang yang diproses, sebelum diangkat Tuhan, untuk menerima kepercayaan; seperti Yusuf, Daud, dan tentu banyak lagi mereka yang pasti melalui proses, termasuk Musa. Dia seorang pangeran yang cakap, tetapi untuk menjadi pemimpin umat Allah, dia harus sekolah di padang Median selama 40 tahun. Itulah proses yang harus Musa jalani. Jadi dengan keadaan yang kita alami hari ini, kita harus menerima ini sebagai sekolah Tuhan. Kalau Tuhan seakan-akan tidak di pihak kita, Tuhan membiarkan keadaan berlarut-larut, makin hari sepertinya kita makin terpuruk, itu sebenarnya proses supaya iman kita teruji dan meningkat kualitasnya. Itu berarti kita ini orang istimewa di mata Allah, karena kita dipandang bisa melewati semua itu, dan kita dipandang memiliki kualitas emas. Emas itu dimurnikan untuk berkadar, berkarat lebih tinggi lagi. 

Sekarang kita bisa mengerti mengapa firman Tuhan mengatakan “bersukacitalah senantiasa.” Jadi bukan hanya dalam keadaan yang kita pandang baik, menyenangkan, semua smooth and running well, tapi juga dalam situasi-situasi yang berat kita bisa mengatakan, “Terima kasih, Tuhan. Karena dalam keadaan-keadaan ini, ternyata Tuhan, Engkau mengerjakan sesuatu yang luar biasa di dalam hidupku.” Kita bersyukur, karena melalui kejadian-kejadian yang kita alami di dalam hidup, kita menjadi orang-orang yang luar biasa, diperhatikan Tuhan, menjadi karunia Tuhan. 

Ketika Tuhan memberikan kita keadaan-keadaan yang menurut kita sebuah kecelakaan, keadaan yang menurut kita sebuah malapetaka atau musibah, ternyata itu berkat. Karenanya, kita harus memperhatikan dengan kacamata kekekalan. Allah bekerja dalam segala hal, pasti kita tahu. Tetapi Tuhan bekerja bukan hanya melalui perkara-perkara yang besar, melainkan juga melalui tekanan, tindisan, hal-hal yang bisa merenggut dan memengaruhi perasaan serta emosi kita. Dari hal-hal kecil, hal-hal detil, bukan hanya masalah besar yang mudah kita sadari.

Karenanya dalam satu Alkitab terjemahan bahasa Inggris, ditulis: “That’s why we can be so sure, that every detail in our lives of love, for God is work into something good.” Jadi di dalam kehidupan kita, every detail in our lives of love for God is work into something good; dari perkara kecil, dari setiap hal yang detil dalam kehidupan kita yang mengasihi Allah, Allah bekerja untuk sesuatu yang baik. Makanya kita bersyukur, kita harus memperhatikan proses itu dari hal-hal kecil. Jangan hanya melihat hal-hal besar, tapi mulailah perhatikan setiap peristiwa dan makna kejadian dari hal-hal kecil. Tentu yang terkait dengan perkara-perkara besar yang sedang kita alami juga. Sebab Allah men-setting kita supaya kita ini menjadi seorang yang layak, satu garis, satu line dengan hidup Anak-Nya. 

Dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris, juga diterjemahkan begini: “God knew what He was doing from the very beginning. He decided from the outside to save the lives of those of who love Him, along the same line as the life of His Son.” Jadi Tuhan mau kita ini dalam perjalanan hidup itu, kita satu jalur dengan Putra Tunggal-Nya. Kalau Putra Tunggal-Nya mendapat perlakuan seperti itu; diperlakukan tidak adil, ditekan, dan lain-lain, kita juga memiliki line yang sama. Dan ternyata melalui jalur itu, kita ini mau disempurnakan oleh Allah. Puji Tuhan. Kita bersyukur, karena kita menjadi anak-anak Allah yang dibawa Tuhan ke jalur dimana Allah juga mengalaminya. 

Kalau dikatakan “Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara,” jangan hanya melihat kesulungan Yesus, tapi juga lihat perjalanan hidup-Nya yang karenanya, Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Perjalanan hidup Yesus yang penuh dengan pergumulan, jalan terjal. Jalan yang berat dan sukar. Kalau kita mau satu line dengan Tuhan Yesus, kita juga harus sungguh-sungguh, mengikuti apa yang Tuhan Yesus alami. Yesus juga menjalani itu, dan bersikap seperti yang seharusnya Ia lakukan. Ketika diperlakukan tidak adil, ditekan, ditindas, Dia menyerahkan semua itu kepada Bapa di surga. 

Kita jangan menggunakan cara-cara kita sendiri dalam mengatasi persoalan-persoalan hidup. Ingat, jangan menggunakan cara kita sendiri. Karenanya, kita harus tetap melekat pada Tuhan. Selain kita mendapat kekuatan, kita juga mendapat hikmat serta tuntunan Tuhan bagaimana mengatasi keadaan itu. saat kita membuka mata, sudah mulai tegang menghadapi kenyataan hidup yang berat. Tetapi kalau kita membuka mata pada pagi hari tapi sudah membawa semua pergumulan kepada-Nya, Tuhan pasti akan memberi kita kekuatan dan sekaligus tuntunan dan bimbingan. Semua akan selesai pada waktunya. Percayalah, bahwa Tuhan tidak mungkin membuat itu berlarut-larut sampai kita kehilangan kehidupan. Justru keadaan itu membuat kita akan menemukan kemuliaan. Tidak mungkin kita menemukan kemuliaan tanpa keadaan-keadaan yang sulit.

Tidak mungkin kita menemukan kemuliaan tanpa keadaan-keadaan yang sulit.