Kekhawatiran yang Tidak Perlu

Banyak orang mengatakan percaya kepada Allah, tetapi tindakannya tidak menunjukkan bahwa dia benar-benar percaya Allah itu ada. Bagaimana kita bisa mengukur bahwa kita masih ragu-ragu atau kurang yakin Allah itu ada? Yaitu ketika kita ada di dalam kekhawatiran dan ketakutan yang tidak perlu. Sebaliknya, kalau seseorang percaya bahwa Allah itu ada, ia akan memiliki ketakutan yang kudus atau kekhawatiran yang benar, yang tentunya berangkat dari takut akan Allah. Takut akan Allah harus berangkat dari sikap hormat dan kasih kita akan Allah. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membuang jiwa dan tubuh ke dalam neraka.” Juga dalam Lukas 12:5, “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutlah akan Dia.” Kalau seseorang benar-benar yakin Allah itu ada, pasti ia takut akan Allah. Tidak bisa tidak, dia akan takut akan Allah karena Allah itu dahsyat. Jika seseorang menghayati keberadaan Allah dan menghayatinya dengan benar, akan ada kegentaran dan kegemetaran yang luar biasa di dalam diri kita. Itulah yang membuat kita takut terpisah dari Dia.

Oleh karenanya, kita berusaha untuk tidak melakukan apa yang melukai hati Tuhan, yang bisa mengakibatkan seseorang itu terbuang dari hadirat Allah. Inilah yang disebut ketakutan atau kekhawatiran yang positif. Ini sama seperti seorang siswa atau mahasiswa yang ceroboh, dimana mereka tidak takut tidak naik tingkat. Jika seorang siswa atau mahasiswa memiliki sikap hidup yang benar, dia akan kuatir tidak naik tingkat, sehingga belajar dengan rajin. Dia bisa mengesampingkan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Kita harus takut akan Allah sehingga kita menata hidup kita hari ini sebaik-baiknya, supaya ketika nanti kita meninggal dunia, di ujung maut, kita tidak takut. Ketika kita dihadapkan pada pengadilan takhta Kristus, kita pun tidak takut karena kita sudah biasa menjalani hidup dengan baik. Ini bukan hal sederhana. Mengaku percaya Allah ada tapi kita khawatir dengan banyak hal yang tidak perlu, adalah salah.

Maka, kita harus memerintahkan jiwa dan saraf-saraf kita untuk meyakini ada Allah yang hidup, yang mata-Nya melihat seluruh perilaku dan perbuatan kita. Orang yang meyakini Allah itu ada, tidak takut menghadapi keadaan apa pun, karena Allah itu lebih besar dari segala sesuatu. Kita memang masih belajar. Kadang-kadang dalam menghadapi keadaan-keadaan sulit yang mengancam kita, hati kita bisa menjadi kecut dan kecil hati, lalu bisa mulai meragukan—apakah Allah mau campur tangan di sini—karena Allah seakan-akan tidak ada. Bahkan kadang-kadang Tuhan seperti membiarkan masalah kita tetap terkatung-katung, berlarut-larut. Tetapi sebenarnya semua itu merupakan ujian, apakah kita meyakini bahwa Allah itu benar-benar ada. Dan kita yakin bahwa Allah yang besar dan dahsyat adalah Allah yang bisa mengatasi segala sesuatu.

Jadi kalau kita khawatir, ada dua kemungkinan; pertama, kita tidak memercayai kuasa Allah, atau kedua, karena kita masih memiliki kehidupan yang belum berkenan. Kalau seseorang hidupnya belum berkenan di hadapan Tuhan, ia tidak bisa memiliki iman yang kokoh karena tidak biasa meyakini Allah itu ada. Kalau seseorang yakin Allah itu ada, dia pasti berusaha untuk tidak melukai hati Tuhan dengan hidup suci. Berjuang, berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Allah. Sehingga kalau sudah demikian, imannya bertambah kokoh. Dia sudah membiasakan diri menghayati Allah yang hidup dan hadir. Penghayatan itu dibuktikan atau ditunjukkan dengan kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Imannya pasti akan semakin kokoh. Iman yang kokoh ini—yang meyakini akan keberadaan dan kehadiran Allah—membuat ia menjadi kuat menghadapi segala kesulitan dan kesukaran. Dia tidak memiliki rasa takut terhadap apa pun. Jadi kalau kita masih merasakan ketakutan terhadap sesuatu, sejujurnya, masih ada yang belum beres dalam hidup kita.

Kalau kita merasakan ada angin besar, kita bisa lihat juga pohon bergoyang. Angin tidak kelihatan, tapi bisa menggoyang pohon. Maka selama pohon itu masih bisa bergoyang, itu menandakan Allah kita hidup. Siapa yang mengatur angin bertiup? Siapa yang mengatur oksigen? Siapa yang mengatur rotasi bumi? Siapa yang mengatur jagat raya ini? Ada, Elohim Yahweh, Allah yang Mahamulia. Jadi, kita di situ belajar meyakini Allah itu ada. 

Mungkin—atau pasti—ada yang hidupnya selalu merasa tertekan, gagal, tertindas, dan seakan-akan Tuhan tidak peduli dengan keadaan tersebut. Tuhan peduli dan ada untuk kita. Allah kita hidup dan nyata. Kiranya kita bisa memiliki kebangkitan kepercayaan. Mengapa? Karena sejujurnya, terkadang kita kurang yakin Allah itu ada. Dan memang ini bukan hal yang sederhana. Ini suatu permasalahan yang kompleks, walaupun kelihatannya sederhana. Milikilah keyakinan bahwa Allah itu ada, dan keyakinan itu makin hari harus makin kokoh. Caranya bagaimana? Hidup suci. Kesalahan sedikit saja, baiklah kita akui, minta ampun kepada Tuhan.

Salah satu ciri dari orang yang tidak meyakini Allah itu ada adalah ketika ia ada di dalam kekhawatiran yang tidak perlu.