Kejutan

Kita harus menyadari bahwa banyak hal bisa terjadi di luar prediksi kita; sebuah kejutan. Bersyukur kita yang pernah mengalami kejutan-kejutan seperti ini dalam hidup kita. Tidak bisa disangkali, hidup ini memang banyak kejutan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Datang ke dokter, niatnya hanya mau periksa rutin, tapi malah divonis mengidap satu jenis penyakit yang sudah parah. Satu hal yang kita harus ingat, bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Jadi, jangan kita sombong. Jangan sampai kita dihajar masalah berat, baru berurusan dengan Tuhan. Ini orang-orang yang sombong dan sekaligus licik. Kalau keadaan aman, orang merasa tidak memerlukan Tuhan. Tetapi kalau keadaan kritis dan krisis, baru mencari Tuhan. 

Mari kita bertobat. Mari kita sadar. Jangan menunggu tiba-tiba ada perang dunia gempa yang membelah pulau Jawa, atau anak gunung Krakatau meletus, baru kemudian kita mencari Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketika keadaan baik; smooth, running well, tidak ada masalah, kita tetap berkata, “Ku perlu Kau, Tuhan. Hanya Kau yang kuperlu.” Itu baru rendah hati. Rendah hati dan tulus, bukan sombong dan licik. Kita harus menyadari bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, sehingga kita selalu berkata, “Aku perlu Engkau, Tuhan.” 

Banyak orang ketika memiliki uang banyak, relasi pejabat, merasa kuat dan aman, tubuh sehat, maka mereka cenderung menjadi sombong. Ia tidak merasa membutuhkan Tuhan. Tuhan bisa menyayangi orang-orang seperti ini dengan memberi masalah. Kena suatu penyakit, misalnya. Atau orang yang dikasihinya yang sakit. Atau kena masalah sehingga harus berurusan dengan polisi atau pengadilan. Setelah itu, baru dia mencari Tuhan. Dan Tuhan memakai persoalan-persoalan itu untuk membawa dia pulang; membawa dia balik kepada Tuhan. Tuhan tarik dia datang kepada Tuhan. 

Tetapi setelah Tuhan tolong—pasti biasanya Tuhan tolong—dia sombong lagi. Mungkin Tuhan beri masalah kedua, atau bisa juga tidak. Justru lebih mengerikan kalau kemudian Tuhan biarkan. Orang seperti ini hatinya dikeraskan. Tetapi kalau kita, walaupun tidak ada masalah, tetap berlindung kepada Tuhan, bergantung kepada Tuhan. Dan ketika Tuhan memberi masalah dan pasti Tuhan memberi masalah, masalah itu digunakan Tuhan untuk mendewasakan kita. Jadi kalau orang merasa tidak membutuhkan Tuhan, sombong dan licik, Tuhan menggunakan masalah untuk menarik dia datang. Tetapi orang yang membutuhkan Tuhan, orang yang rendah hati dan tulus, pasti ada masalah juga, hanya saja bedanya masalah yang menimpanya tersebut akan menggiring orang ini ke dalam Kerajaan Surga.

Masalah-masalah itu menyempurnakan kesuciannya, menyempurnakan kekudusannya. Apakah punya masalah, apakah dijahati orang atau didzolimi orang, itu menyempurnakan kesucian. Reaksi-reaksi yang dilakukan berdasarkan firman yang pasti dia terima, karena orang yang membutuhkan Tuhan, tidak bisa tidak, pasti mendekat kepada Tuhan. Dan kalau mendekat kepada Tuhan, Tuhan pasti memberikan firman-Nya, Tuhan pasti memberikan tuntunan-Nya. Tuntunan dan bimbingan Tuhan itu akan menjadi sesuatu yang melekat di dalam dirinya dan mendewasakan ketika dia menghadapi masalah. Tidak mungkin orang dewasa tanpa masalah.

Ketika seseorang yang sombong dan licik tapi Tuhan sayangi dia, Tuhan panggil dia untuk datang kepada Tuhan. Jika dia menerima panggilan itu, dia datang. Setelah dia ditolong Tuhan, alu kemudian dia jadi sombong lagi, angkuh lagi, kalau itu terjadi, maka hatinya jadi keras. Nanti ada situasi dimana kejahatannya disempurnakan. Sebab, orang yang kuat secara ekonomi, kuat secara relasi, senang kalau ada orang bikin gara-gara atau mencari masalah dengannya, karena dia mau menunjukkan kekuatannya. Itu memberikan kepuasan secara pribadi baginya. Keangkuhan hidup itu kodrat dosa. Itu sinful nature kita. Sinful nature; kodrat dosa. Keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup. Orang yang kuat secara ekonomi, biasanya dia ingin menunjukkan kekuatannya itu dengan berkonflik.

Tapi orang yang rendah hati dan tulus, bisa saja mendapat perlakuan yang tidak adil, di-bully, dijahati. Tapi karena dia sudah biasa bergantung kepada Tuhan, mendekat kepada Tuhan, Tuhan ajar dia. Kebenaran yang dia terima itu dipraktikkan; bagaimana dia mengasihi musuh, bagaimana dia membalas kejahatan bukan dengan kejahatan tapi dengan kebaikan. Dia menyempurnakan kesuciannya. Yang satu disempurnakan kejahatannya, yang satu disempurnakan kesuciannya. Jadi, jangan menunggu ada masalah, kita baru mencari Tuhan. Perlindungan untuk hidup kita sekarang ini adalah kita mulai mencari Tuhan, walaupun tidak ada masalah. 

Kita harus menyadari bahwa banyak hal bisa terjadi di luar prediksi kita; banyak kejutan.