Kehilangan Nyawa

Dari Injil, kita dapat menemukan bahwa orang-orang yang mau mengikut Yesus adalah orang-orang yang harus mempertaruhkan nyawa atau segenap hidupnya tanpa batas. Kenyataan ini memberikan gambaran kepada kita bahwa mengikut Yesus harus meninggalkan segala sesuatu. Ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Inilah sesungguhnya harga percaya yang benar yang harus dipenuhi oleh orang yang mau mengikut Tuhan Yesus. Harga ini tidak pernah berkurang dan berubah ditelan waktu, kapan pun dan di mana pun. Sungguh, ini suatu perjalanan hidup yang sangat berat. Kalau orang percaya boleh mengangkat pedang, maka bisa sedikit membela diri. Tetapi orang percaya seperti domba-domba sembelihan yang tidak berdaya, digiring ke pembantaian, yang harus membalas kejahatan dengan kebaikan. Orang percaya diajar mengenakan kehidupan seperti yang dikenakan oleh Yesus sendiri. Jika hal itu benar-benar terjadi atau berlangsung, maka orang percaya barulah dapat dikatakan sebagai utusan Kristus. Jadi, menjadi utusan Kristus bukan hasil studi di sekolah tinggi teologi atau seminari, juga bukan karena pengesahan sinode, melainkan perilaku yang memperagakan kehidupan Yesus

Sulit ditemukan atau hampir tidak ada agama yang cara menyebarkan agamanya dengan cara sangat damai, seperti Injil diberitakan. Tanpa pedang, tanpa perang, dan tekanan atau intimidasi. Kekristenan tidak membuka peluang sama sekali bagi orang percaya untuk melakukan kekerasan. Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi saksi, artinya cukup dengan perbuatan yang sempurna seperti yang Yesus jalani. Sebab, memang penyebaran Injil bukan sekadar penyebaran agama, melainkan juga mengajarkan kebenaran, agar mereka yang percaya memiliki gaya hidup seperti Yesus. Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa menginjil itu bukan saja berbicara mengenai Injil, melainkan juga memperagakan Injil dalam kehidupan yang dapat dicium “keharumannya” oleh sesama. Hal ini sama dengan bahwa berapologet bukan hanya berdebat mengenai keyakinan atau doktrin, melainkan menunjukkan kebenaran melalui perbuatan.

Betapa berbedanya kekristenan yang dikenakan banyak orang yang beragama Kristen hari ini. Ini berarti kekristenan yang dijalani orang sekarang adalah kekristenan yang palsu. Sangatlah tidak mungkin kalau orang percaya di zaman Injil, membayar harga kekristenan yang berbeda dengan orang Kristen sekarang. Kapan pun dan di mana pun, harga kekristenan tetaplah sama, yaitu menyerahkan nyawa. Menyerahkan nyawa pada intinya rela tidak memiliki kesenangan hidup di bumi ini, dan rela kehilangan segala sesuatu. Tanpa disadari, suasana dunia mengondisikan munculnya kekristenan palsu yang dapat dijalani tanpa menyerahkan nyawa. Biasanya, orang Kristen yang mengenakan kekristenan palsu merasa sudah menjadi orang percaya yang baik dan membela diri dengan pernyataan bahwa yang penting percaya di dalam hati. Padahal, percaya berarti menyerahkan diri kepada objek yang dipercayainya. Ini berarti, percaya adalah sebuah tindakan, yaitu melakukan apa pun yang diinginkan oleh Tuhan yang dipercayai. Banyak orang Kristen tidak peduli apa yang dikehendaki oleh Tuhan, apalagi melakukannya.

Yesus telah memberi teladan kepada kita, yaitu kehilangan nyawa. Inilah yang dimaksud oleh firman Tuhan “menjadi sama dengan Tuhan dalam kematian-Nya.” Ini berarti sama dengan usaha untuk mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah dalam diri orang percaya. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi dan ambisi pribadi, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini juga berarti rela kehilangan segala hak demi pekerjaan-Nya. Semua ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup kekristenan yang benar. Jadi, sebelum kita mati secara fisik dan dikubur, kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Hal ini sama dengan kehilangan nyawa. Pelayanan gereja harus mengarahkan jemaat pada level ini. Tentu saja untuk ini, sebelum seorang pembicara atau seorang pendeta berkhotbah, ia harus terlebih dahulu memperagakan kehidupan seorang yang kehilangan nyawa.

Panggilan untuk mengalami kematian diri sendiri, sama dengan apa yang dikemukakan Paulus “menjadi sama dengan kematian Tuhan Yesus.” Hal ini berlaku bagi semua orang percaya (Flp. 3:10). “Serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” pada dasarnya adalah kehidupan yang ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya. Kalau dahulu tujuan hidup kita sama dengan anak dunia, maka sekarang harus menjadi berbeda. Memang pemisahan ini tidak terjadi dalam satu hari, tetapi melalui proses panjang. Kita harus memperjuangkannya. Pemisahan ini berlangsung secara bertahap, tetapi pasti. Karena hal ini bukan sesuatu yang dapat terjadi secara otomatis, melainkan harus sungguh-sungguh diusahakan dengan sangat serius. Seberapa jauh seseorang mengalami pemisahan dari dunia ini dan menjadi manusia baru, tergantung kepada usaha individu. Menjadi kesalahan yang fatal kalau seseorang berpikir bahwa manusia tidak perlu berusaha memberi respons sebab semua dikerjakan oleh Tuhan berdasarkan penentuan-Nya.