Kehilangan Kesempatan

Tuhan memberi kita kesempatan untuk terus membenahi diri, dan harganya sangat mahal. Sebab ketika kita meninggal dunia, tidak ada kesempatan lagi. Harus diingat bahwa kematian setiap kita tidak dapat diprediksi. Oleh sebab itu, selagi kita masih memiliki kesempatan seperti sekarang ini, kita harus sungguh-sungguh memfokuskan diri kepada Tuhan untuk diubah. Kita harus membuka diri seluas-luasnya untuk diperiksa oleh Allah, dan kita mau sungguh-sungguh mengenali diri kita seperti Allah mengenali kita. Supaya jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah dari dalam hidup kita, dapat segera kita sadari dan perbaiki.

Penyesalan akan kesempatan yang tidak ada lagi, adalah penyesalan yang sangat mengerikan. Sejak dini, Tuhan pasti telah memperingatkan setiap orang percaya untuk berbenah. Jika ada unsur-unsur yang bukan dari Allah di dalam diri kita, pasti Tuhan memberitahunya, sebab Roh Kudus ada di dalam diri kita. Ketika seseorang terus diperingatkan Tuhan namun selalu mengabaikan peringatan tersebut, Allah tidak memandang muka. 1 Petrus 1:17 mengatakan “Allah menghakimi semua orang tanpa memandang muka,” tetapi memandang perbuatan. Jadi, betapa kita harus menundukkan diri di hadapan Allah dan memohon nasihat-Nya. Masalah terbesar kita bukan masalah kesehatan, sakit-penyakit, masalah ekonomi, utang-piutang, masalah rumah tangga, atau apa pun. Masalah terbesar kita adalah pengaruh kuasa kegelapan yang bisa mencengkeram dan menguasai hidup, sehingga seseorang mengikuti kehendaknya sendiri.

Itulah sebabnya dikatakan di dalam Efesus 4:27, “Jangan memberi kesempatan kepada Iblis.” Di dalam bahasa aslinya, kata “kesempatan” itu topon; artinya tempat berpijak; foothold (Ing.); pangkalan. Firman Tuhan itu ditujukan kepada jemaat Tuhan, bukan untuk orang kafir, bukan orang yang tidak mengenal Tuhan. Bukan orang di luar Kristen, melainkan orang-orang Kristen. Dengan demikian, jelas bahwa orang Kristen itu masih bisa memberi pangkalan kepada Iblis dalam hidupnya. Banyak orang merasa dan percaya bahwa diri mereka sudah menjadi anak-anak Allah, lalu tenang-tenang saja karena sudah menjadi anak Allah. Padahal, mereka tidak hidup sebagai anak-anak Allah. Di dalam Roma 8:12-14, firman Tuhan mengatakan: “jadi saudara-saudara, kita adalah orang berhutang. Tetapi bukan kepada daging supaya hidup menurut daging, sebab jika kamu hidup menurut daging. Kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah.”

Bapa mendidik kita, menghajar kita supaya kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, artinya supaya kita menjadi anak-anak-Nya yang sah. Kalau seseorang hidup menurut daging, ia menjadikan dirinya nothos; anak yang tidak sah. Allah memberi kita penebusan, diangkat-Nya kita dari keadaan bukan anak Allah, dan diberi peluang menjadi anak Allah. Tetapi untuk menjadi anak Allah yang sah atau tidak, kita harus memberi respons yang memadai terhadap peluang tersebut, dengan hidup melakukan kehendak-Nya. Ingat, dalam Matius 7:21-23 Tuhan Yesus mengatakan: “Aku tidak kenal kamu… karena kamu tidak melakukan kehendak Bapa.” Orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, bukan anak Bapa.

Kepada orang-orang pada zaman-Nya, Yesus berkata: “Bapamu bukan Allah,” walaupun mereka berkata: “kami anak-anak Allah.” Kehidupan mereka tidak menunjukkan kehidupan yang dipimpin oleh Roh Allah. Hidup menurut Roh atau dipimpin Roh, artinya kehidupan yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Inilah karakteristik dari kehidupan Yesus, ciri dari anak Allah, yakni berjalan sesuai dengan Roh. Untuk memiliki kehidupan seperti ini, dibutuhkan perjuangan dimana setiap orang harus menaklukkan dirinya sendiri di bawah pimpinan Roh. Ia harus menyesuaikan diri terhadap kehendak Allah. Dan ini harus berangkat dari diri sendiri. Harus ada tekad, komitmen, niat yang sungguh-sungguh. Kalau tidak, kita tidak akan bisa mencapainya, karena kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah, yaitu hidup menurut daging. Bukan Allah yang menaklukkan daging kita kepada diri kita sendiri, melainkan kita yang harus menaklukkan daging kita, agar menurut kehendak Allah atau menurut Roh Allah.

Kita akan selalu diperhadapkan kepada pilihan, apakah kita mengikuti kehendak Roh atau kehendak daging. Pilihan tersebut ada di tangan kita pada hari ini. Sejak hari ini atau sejak seseorang memahami apa yang harus ia lakukan, kesempatan terus berjalan. Kesempatan akan usai apabila seseorang menutup usia. Oleh karenanya, perlu kita pertanyakan dengan serius, “sudahkah saya menggunakan kesempatan yang ada?” Jangan sampai kita mengalami penyesalan yang tiada berujung di kekekalan. Mereka yang sudah kehilangan kesempatan, tidak akan memperoleh kesempatan selanjutnya di kehidupan yang akan datang.

Penyesalan akan tidak adanya lagi kesempatan  adalah penyesalan yang sangat mengerikan.