Kehendak Bebas yang Bertanggung Jawab

Kehendak adalah dorongan dalam diri manusia untuk meraih atau mengharapkan sesuatu. Dengan kehendak ini, manusia bisa menciptakan berbagai cita-cita dan harapan yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Inilah keistimewaan manusia yang melebihi dari semua ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana Allah yang adalah gambarnya memiliki kehendak, demikian pula manusia diciptakan dengan keberadaan yang sama. Kehendak ini juga dimiliki oleh makhluk Lusifer. Itulah sebabnya, ia memiliki keinginan untuk mendirikan takhtanya sendiri dan mengatasi Allah. Dalam Alkitab, makhluk ini mengatakan: “aku ingin atau aku hendak…” Dengan keberadaan sebagai mahkluk yang memiliki kehendak atau keinginan—baik Lusifer, malaikat maupun manusia—berarti bertanggung jawab menentukan takdirnya.

Selain itu, dalam relasinya dengan Tuhan, manusia harus bisa menempatkan dirinya dengan benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan secara pantas. Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Suatu kehormatan yang tiada tara kalau manusia diberi kebebasan untuk menempatkan diri di hadapan Tuhan dengan benar, dan hal ini harus dilakukan dengan kerelaan, bukan dengan paksaan. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya memilih Tuhan; yaitu mengasihi, menghormati, dan dengan segenap hidup mengabdi kepada-Nya. Dengan hal ini, manusia digolongkan sebagai makhluk ilahi atau makhluk rohani. Tidaklah heran kalau manusia disebut sebagai anak-anak Allah. Tentu sebutan ini bukan sekadar sebutan. Di balik sebutan ini terdapat fakta bahwa keberadaan manusia sangat luar biasa. Manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Manusia sebagai anak-anak Allah, dilengkapi dengan berbagai elemen yang juga ada di dalam diri Allah, sehingga manusia dapat mengambil keputusan dengan tepat bijaksana seperti Allah sendiri.

Dalam kehendak bebasnya, manusia dapat memilih untuk taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Berbicara mengenai mengasihi atau menghormati Allah, ini adalah bagian terdalam dari diri manusia, yaitu di dalam hati dan perasaannya. Tentu saja ini adalah bagian atau wilayah manusia yang tidak diintervensi oleh siapa pun, bahkan oleh Allah sendiri. Kalau Allah berintervensi di dalamnya, manusia secara total atau mutlak menjadi boneka yang kehilangan integritas dan personalitinya (kepribadian), sebab memang tidak membutuhkan integritas dan personaliti lagi. Sejatinya, kehendak bebas bisa didefinisikan sebagai konsep yang menyatakan bahwa keadaan perilaku manusia tidak mutlak ditentukan oleh kausalitas di luar dirinya, tetapi merupakan akibat atau hasil dari keputusan dan pilihan yang dibuat melalui sebuah aksi dan reaksi dari diri sendiri. Keputusan dan pilihan tersebut ditentukan oleh komponen dalam diri manusia, yaitu pikiran dan perasaannya. Dari pikiran dan perasaan ini, seseorang memiliki kemampuan mempertimbangkan sesuatu. Dari hasil pertimbangannya tersebut, seseorang dapat mengambil keputusan atau memilih.

Pilihan dan keputusan yang dapat dilakukan manusia seperti di atas ini tidak ditentukan oleh penyebab di luar dirinya, namun ditentukan oleh motif dari diri sendiri, yaitu hasil dari pertimbangan nalar atau rasio yang dimilikinya. Adapun kemampuan manusia mempertimbangan sesuatu yang menghasilkan sebuah keputusan dan pilihan, tergantung kemampuan berpikir. Adapun kemampuan berpikir atau berlogika yang dimiliki seseorang sangat ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam pikirannya melalui jendela mata dan telinganya atau panca inderanya, serta segala sesuatu yang dialaminya. Memang ada faktor-faktor di luar diri pribadi manusia itu sendiri dalam mengambil keputusan, seperti misalnya pimpinan Roh Kudus di dalam diri manusia itu. Tetapi pada akhirnya, keputusan akhir ada di tangan setiap individu. Keputusan akhir mengakibatkan atau membuahkan segala tindakan yang dapat dilakukan atau yang terwujud.

Kehendak bebas harus dipahami sebagai pemberian Tuhan yang sangat berharga atau tak ternilai dari Tuhan, dimana manusia diberi kemampuan mempertimbangkan sesuatu, yang oleh karenanya manusia dilengkapi dengan rasio. Tuhan menghargai manusia yang faktanya adalah “manusia yang membuat keputusan akhir.” Tentu saja ini menjadi kehormatan bagi manusia. Dalam kehormatan ini, sekaligus membawa manusia sebagai makhluk yang berisiko sangat tinggi. Dalam hal ini, pemberian yang berharga selalu disertai dengan tanggung jawab. Jika pemberian yang berharga tanpa tanggung jawab, hal itu membuat pemberian itu sendiri menjadi tidak berharga. Sebagai orang percaya yang dewasa, kita harus memahami dan menerima kehendak bebas ini sebagai kepercayaan, bukan sebagai beban yang menekan atau keberadaan yang mengancam. Kalau seseorang menyalahgunakan kebebasan kehendak, hal ini akan membawa dirinya kepada kebinasaan. Ini sungguh-sungguh berbahaya. Tetapi kalau seseorang menggunakan kehendak bebasnya dengan bijaksana, kehendak bebas tersebut dapat menggiringnya kepada kehidupan atau kemuliaan bersama Tuhan dengan rela, tanpa paksaan. Menjadi pertanyaan bagi kita semua sekarang adalah bagaimana kita menggunakan kehendak bebas tersebut? Mumpung masih ada kesempatan, mari kita bertobat. Jangan sampai kehendak bebas malah menyeret kita ke kegelapan abadi.

Dengan keberadaan sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas, manusia bertanggung jawab menentukan takdirnya.