Kehausan akan Allah

Orang yang sungguh-sungguh telah memiliki hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas, maka cara pandangnya terhadap hidup dan dunia pasti sangat berubah. Seiring dengan perjalanan waktu, ketika cara pandangnya terhadap hidup dan dunia makin berubah, kualitas hidupnya pun semakin meningkat tinggi. Orang-orang seperti ini akan mengerti betapa berartinya kalau seseorang memiliki persekutuan dengan Allah. Tentu saja ia juga dapat menghayati betapa mengerikan keadaan seseorang yang tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Oleh sebab itu, orang percaya harus terus-menerus mengalami perubahan cara berpikir atau paradigma. Cara berpikir atau paradigma orang yang belum diubah tidak akan pernah menemukan kekosongan di dalam jiwanya. Orang seperti itu tidak merasakan dan tidak mengerti kesepiannya terpisah dari Allah. Ia tidak mengerti betapa tidak berartinya hidup di luar persekutuan dengan Allah. 

Kenyataannya, dunia telah meracuni pikiran banyak orang, termasuk orang-orang Kristen dan rohaniwannya, sehingga tanpa sadar mereka membangun cara berpikir atau paradigma dari sudut pandang atau perspektif dunia. Itulah sebabnya, banyak di antara mereka berpikir betapa tidak berartinya kalau orang tidak memiliki harta, betapa tidak bermutunya orang yang tidak terhormat di mata manusia, betapa kosongnya kalau orang tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Hampir semua manusia sudah sesat dalam hal ini. Lebih menyedihkan, kalau orang-orang menjadi pelayan Tuhan—yang mestinya menganjurkan bagaimana memiliki hidup yang berkualitas menurut versi Tuhan—masih ada di dalam area kehidupan duniawi. Mereka memang sejak semula, sejak sekolah Alkitab atau di sekolah tinggi teologi berusaha hidup hanya mau mengubah nasib. Setelah nasibnya berubah, kehidupan ekonomi yang baik bisa dicapai atau dimiliki, lalu berambisi bagaimana memiliki kedudukan, bagaimana lebih terhormat dari jemaat, bagaimana lebih terhormat dari para pendeta lain, dan seterusnya. Tidak mengherankan bila terjadi pertikaian dalam gereja lokal, di sekolah-sekolah teologi, di kelas sinode, atau di persekutuan gereja di aras nasional. 

Banyak orang yang salah memahami pengertian “hidup kekal,” sehingga mereka tidak memiliki kehausan akan Allah, dan memang tidak akan pernah bisa memilikinya. Kehidupan orang Kristen yang benar akan merasa kosong, merasa sepi, jika tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Keadaan tersebut sangat menyiksa. Hal inilah yang mendorong seseorang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini, mereka mencari Tuhan bukan karena masalah-masalah dunia fana atau pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi karena kehausan akan Allah. Orang-orang seperti ini barulah dapat menyatakan apa yang menjadi kerinduan pemazmur: “Seperti rusa merindukan sungai yang berair dengan jiwa merindukan Allah” (Mzm. 42:1-2). Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang haus dan lapar akan kebenaran akan memperoleh kepuasan. Ketika dahaga jiwa manusia ditujukan kepada perkara-perkara dunia ini, maka ia tidak pernah mengenal dan merasakan kehausan akan Allah. 

Kalau sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Allah, walaupun rumah sepetak, satu kamar, itu pun sewa bulan ke bulan, hidup ini terasa lengkap dan hidupnya terasa berarti serta berisi. Walaupun belum memiliki jodoh, belum memiliki anak kandung; walaupun dikhianati anak kandung, walaupun dikhianati teman hidup, walaupun sendirian, walaupun tidak punya apa-apa, tetap merasa hidupnya bernilai atau hidupnya berarti, karena ia memiliki Tuhan. Sebenarnya, prinsip seperti ini sudah dimiliki pemazmur sejak periode Perjanjian Lama, dan itu sebenarnya sudah memberikan kita pelajaran yang mahal. Dalam kesaksiannya, pemazmur mengatakan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamanya.” Pernyataan pemazmur ini menunjukkan bahwa yang membuat ia “kehilangan hidup” adalah Tuhan. 

Kalau seseorang sudah mengerti betapa tidak bernilainya hidup tanpa Allah atau terpisah dari hadirat Allah, dan menyadari betapa kosongnya hidup jika tidak hidup dalam persekutuan yang benar dengan Allah, maka ia bisa merasakan betapa menyakitkan keadaan tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Dari penghayatan terhadap hal ini, barulah kita dapat memiliki kegentaran yang hebat terhadap Allah secara proporsional. Akhirnya, memiliki kegentaran terhadap kekekalan. Kegentaran yang luar biasa terhadap kekekalan jika terpisah dari hadirat Allah, adalah hal yang paling merisaukan hatinya. Inilah yang mendorong seseorang mendahulukan Kerajaan Allah. Bertahun-tahun setelah kita mempelajari kebenaran dan memahaminya, kita semakin mengerti kebenaran. Dan seiring dengan itu, kita semakin merindukan Kerajaan Allah. Jadi, di satu pihak, kita semakin merasa ngeri terhadap keadaan terpisah dari Allah, tetapi di pihak lain, semakin menyadari betapa mulianya hidup dalam persekutuan secara benar dengan Allah di dalam Kerajaan Surga.