Kedewasaan Rohani Berstandar Kristus

Kalau kita sungguh-sungguh mengusahakan untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela, atau mencapai kesucian Allah, hal itu harus dimulai dari hal-hal sederhana di dalam hidup kita—yang di mata Allah sebenarnya itu bukan hal yang sederhana melainkan hal yang besar, karena menyangkut sikap hati. Oleh sebab itu, setiap hari kita harus menggelar perkara di hadapan Allah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah yang kita lakukan. Seakan-akan kita ada di hadapan pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan hidup kita. Hendaknya kita tidak menjadi bingung bila berbicara mengenai kesucian. Kesucian bukan sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang riil dan natural. Dimulai dari setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan yang kita lakukan, setiap reaksi dan respons kita terhadap suatu keadaan atau seseorang. Di dalam segala hal tersebut, sikap hati kita bermain. Sikap hati inilah yang memberi kualitas atas kesucian hidup kita. 

Hendaknya pikiran kita tidak disesatkan bahwa kesucian hanya dicapai oleh orang-orang tertentu dan julukan “orang suci” hanya untuk orang-orang tertentu. Semua kita harus mencapai kesucian Allah, dan bisa disebut sebagai orang suci di hadapan Allah. Allahlah yang melegalkan atau mensahkan seseorang sebagai orang kudus-Nya atau tidak, bukan manusia atau lembaga manapun. Kalau kita memperhatikan pola karya Allah di dalam Alkitab, Ia selalu bekerja dengan proses. Dari awal penciptaan alam semesta, panggilan Abraham sebagai nenek moyang umat pilihan dan orang percaya, lahirnya Israel sebagai suatu bangsa, bahkan iman pun datang dari pendengaran, pendengaran oleh Firman Allah (Rm. 10:17).

Firman yang melahirkan iman di dalam diri kita bukan sesuatu yang secara otomatis atau mistis masuk di dalam diri kita, dan dengan sendirinya dapat memahami Firman Allah tersebut. Firman Allah dapat kita pahami melalui proses belajar yang tekun, itu baru dari aspek kognitifnya. Aspek lain yang membuat kita mengerti firman Allah adalah hati yang tidak mencintai dunia, artinya setia dalam hal mamon yang tidak jujur, hati yang haus dan lapar akan kebenaran, sebab hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6), dan kesucian hidup. Sebab hanya orang yang suci hatinya yang akan melihat Allah (Mat. 5:8). Kata “melihat” dalam teks aslinya bukan melihat dengan mata, melainkan melihat dengan hati. Tanpa kesucian, tidak seorang pun dapat mengenal Allah. “Kesucian” di sini bukan berarti lalu kita menjadi sempurna dulu baru bisa mengerti kebenaran, melainkan harus memiliki komitmen untuk tidak melukai hati Allah. Sebab, Allah tidak akan memberikan mutiara-Nya kepada babi, dan barang yang kudus kepada anjing.

Demikian pula ketika kita berjuang untuk memiliki kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani kita standarnya adalah Yesus sendiri. Kedewasaan rohani kita ditandai dengan kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Kedewasaan rohani kita ditandai dengan roh yang lemah lembut dan tenteram. Ini pasti kehidupan seseorang yang tidak melukai siapa pun dan tidak merugikan siapa pun, baik dengan kata maupun perbuatan. Kedewasaan rohani ditandai dengan kecerdasan rohani, dan kecerdasan rohani diekspresikan dalam sikap yang tidak melukai orang lain; dalam segala hal menyenangkan hati Allah. Semua Ini bisa dirangkai dengan atau dalam satu kata, yaitu kesucian.

Proses ini berlangsung setiap hari, setiap saat, dalam dan melalui setiap peristiwa dan kejadian, juga berlangsung di dalam batin atau hati kita, dan tidak akan pernah berhenti sampai kita menutup mata. Nilai inilah yang disebut sebagai mengumpulkan harta di surga. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga bukan di bumi.” Fokus satu-satunya hidup kita adalah bagaimana mencapai kedewasaan rohani dalam standar Kristus. Itulah sebabnya setelah Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga bukan di bumi,” lalu Yesus berkata, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Artinya, hati kita harus sudah kita pindahkan ke atas (Mat. 6:19-21). Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus dalam kitab Kolose 3:1-4, mengatakan bahwa “Kita telah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah,” artinya mati bagi dunia dan segala passion atau interestnya, sehingga interest kita hanya untuk Kerajaan Allah.

Sebagai umat pilihan, kita diberi potensi untuk bisa mencapai kesucian hidup atau kedewasaan rohani standar Yesus. Maka, anugerah ini tidak boleh kita sia-siakan. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Apa gunanya orang memperoleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Lebih baik kita kehilangan nyawa atau berbagai kesenangan hidup di bumi ini daripada kita kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Waktu yang kita miliki adalah harta yang tidak ternilai. Kalau kita tidak sungguh-sungguh menggunakannya untuk menjalani proses pendewasaan menjadi manusia yang menyukakan hati Allah, kita akan sangat menyesal.