Kecanduan Tuhan

Satu hal yang kita harus mengerti, bahwa kehendak bebas kita juga menentukan siapa yang kita pilih, apa dan siapa yang termulia dalam hidup ini, yang terhormat dalam hidup ini, yang ternilai atau yang maha berharga dalam hidup kita. Kehendak bebas kita bukan hanya menyangkut tindakan yang terkait dengan moral, tetapi juga terkait dengan penghargaan kita kepada objek tertentu. Oleh karena hal ini maka hendaknya kita tidak kehilangan kesempatan memilih Allah yang seharusnya kita muliakan, selama kita masih hidup di dunia ini, di mana kita diberi Tuhan kesempatan untuk memilih. Apakah kita memilih Tuhan atau memilih yang lain?  Hal ini sangat menentukan nasib kekal kita. Tentu saja kita harus memilih Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga dalam hidup kita ini.

Walaupun daging kita masih menolak, bahkan jiwa kita ikut memberontak, kita tetap berkomitmen untuk mengasihi Allah. Walau jiwa kita yang sudah dicemari oleh hasrat-hasrat duniawi, ambisi-ambisi duniawi, tetapi kita bisa tetap menundukkan daging dan jiwa kita untuk memilih Allah sebagai yang berharga dalam hidup. Apa pun keadaan kita sekarang, kita bisa berketetapan memilih bahwa hanya Allah satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Kita bisa memilih bahwa harta kita satu-satunya di dunia ini adalah Yahweh, Allah Israel, Allah Abraham Ishak dan Yakub. Kita studi, kita karier, kita bekerja, kita memiliki pasangan hidup, dan memiliki anak, dan semua fasilitas, itu bukan sebagai tujuan pencarian hidup. Tujuan pencarian hidup kita hanya satu, Tuhan Allah serwa sekalian alam. Selanjutnya kita berusaha bagaimana kita bisa mengenal Allah dan mengalami Dia. Bagaimana kita bisa mengalami apa yang dialami Abraham, bagaimana kita bisa mengalami apa yang dialami oleh Musa? Mereka bisa bertemu muka dengan muka dengan Allah, dan berjalan dengan Allah, dan seperti yang dialami tokoh-tokoh iman, terutama juga seperti yang dialami oleh Yesus sendiri. 

Sebagai catatan penting, tentu Allah tidak akan berjalan dengan orang yang hidupnya najis, hatinya jahat, hatinya bengkok, hatinya tidak tulus dan tidak menghormati Allah secara patut atau secara pantas.  Allah yang besar, Allah yang mulia, Allah yang Mahaagung, patut menerima seluruh persembahan hidup kita. Untuk itu kita harus rela meninggalkan segala sesuatu dan menganggapnya tidak bernilai (Flp. 3:7-9). Kita bisa memiliki semua fasilitas yang orang lain miliki di dunia ini, atau segala sesuatu yang dapat kita raih, tetapi kita tidak menganggapnya itu sebagai sesuatu yang berharga.  Dan kalau kita menganggapnya itu sebagai bukan sesuatu yang berharga, maka kita rela melepaskannya demi kesukaan hati Allah. Kita harus memenuhi yang dikatakan dalam firman Tuhan, “Baik kamu makan, atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, kita melakukan semua itu untuk kemuliaan Allah.”  (1Kor. 10:31). 

Jadi bagi kita yang memandang Tuhan paling berharga dalam hidup ini, kita tidak berkeberatan kalau harus bangun pagi untuk berdoa, merasa tidak berkeberatan sama sekali walaupun kita merasa masih lelah dan mengantuk. Jangankan pukul 5 pagi, pukul 4 pagi pun kita bersedia. Kerelaan kita bangun berdoa bukanlah “musiman, tetapi permanen. Hendaknya kita berdoa, bukan hanya karena lagi. Orang-orang seperti ini tidak sunguh-sungguh mencari Allah dan tidak memperlakukan Allah secara patut. 

Pada jam-jam di mana kita harus mendengarkan Firman Tuhan, kita harus bisa meninggalkan semua aktivitas dan duduk diam di kaki Tuhan. Kita harus memaksa diri untuk setia mendengar Firman Tuhan. Tetapi sebaliknya, pada waktu kita memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dapat melukai hati Allah, kita tegas berkata “tidak.” Inilah sikap menghormati Tuhan secara patut dan pantas. Dan inilah langkah-langkah memilih Tuhan, menghargai Tuhan, dan menghormati Tuhan. Kalau kita melakukan hal ini dengan benar, maka ketika ada dalam pertemuan doa bersama, atau pada waktu kita berlutut di kaki Tuhan dalam doa pribadi, kita benar-benar bisa menjumpai Dia. Kita bisa sungguh-sungguh merasakan perjumpaan dengan Allah. Hal ini sungguh-sungguh akan sangat membahagiakan kita, sampai menjadi addict dalam bergaul dengan Allah. Kalau dulu kita kecanduan film, kecanduan hiburan-hiburan dunia, kecanduan hobi-hobi, sekarang kita kecanduan Tuhan. Hendaknya kita tidak meninggal dunia sebelum kecanduan dengan Tuhan. Orang yang masih kecanduan berbagai hobi, kesenangan dunia, barang branded, kendaraan, tas, pakaian, dan lain-lain adalah orang-orang yang tidak menghormati Tuhan secara patut, dan mereka juga tidak patut dihormati di hadapan Allah. Mereka tidak layak ada di hadapan Allah. Jangan kita terjebak dalam cara hidup yang salah ini.