Kebutuhan

Matius 22:11-13 mengatakan, “Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, raja itu melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Raja itu berkata kepada orang yang tidak berpakaian pesta itu, ‘Hai, Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?’ Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya, ‘ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.’” Seorang pelayan Tuhan itu sama seperti perawat. Tanggung jawabnya bukan hanya memutar roda organisasi gereja; bukan hanya menolong para janda-janda, yatim piatu, walaupun itu tentu mutlak harus dilakukan. Tetapi seorang pelayan Tuhan harus melayani jemaat agar setiap individu bisa mengenakan pakaian pesta. Jelas di dalam perumpamaan ini, seseorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, dibuang. Undangan untuk datang ke pesta adalah anugerah. Bukan karena mereka telah berbuat baik dan layak menerima undangan. 

Siapapun mendapat undangan. Tidak dinilai baik atau buruk atau bagaimana keadaannya. Tetapi menyambut anugerah, ada tanggung jawab: harus mengenakan pakaian pesta agar layak masuk ke dalam pesta perjamuan kawin. Ini yang tidak disadari oleh banyak orang Kristen. Banyak ajaran dan doktrin—baik secara eksplisit atau implisit—membangun persepsi bahwa anugerah itu segalanya. Artinya, setelah merasa menerima anugerah dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang telah mati di kayu salib, maka kalau meninggal dunia pasti masuk surga. Ini berbahaya. Jelas Tuhan Yesus mengatakan, “Bukan orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan’ yang masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa.” Melakukan kehendak Bapa, tentu bukan karena bayang-bayang tekanan hukum. Ini bukan agama hukum. Kekristenan itu jalan hidup; jalan hidup-Nya Yesus. 

Yesus melakukan kehendak Bapa, bukan karena ada bayang-bayang hukum yang mengontrol, mengendalikan, dan menakut-nakuti, serta mengancam-Nya. Tetapi dengan kerelaan, sehingga Yesus berkata, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa.” Melakukan kehendak Bapa adalah kebutuhan, dan harus menjadi irama. Dengan kalimat yang sama seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:3-4, berkodrat ilahi. Jadi pakaian pesta ini menunjuk kebenaran, kesucian hidup, bukan karena didorong oleh hukum atau di bawah bayang-bayang peraturan dan ancaman, tapi sudah menjadi irama hidup dan kodratnya. Masalahnya, pertanyaannya “apakah kita sudah berkodrat ilahi?” Harus jujur. Ada hukum saja, belum tentu dilakukan. Sudah tahu salah saja, tetap diterjang. Kita jauh dari standar yang mestinya kita miliki, yaitu berkodrat ilahi. Dan kita harus ingat bahwa proses perubahan itu membutuhkan waktu dan kerja keras. 

Tentu dari pihak Allah, Allah aktif. Allah menyediakan semua sarana secara maksimal. Jangan ragukan. Tetapi dari pihak manusia, apakah ada respons yang maksimal? Jangan menjadi tumpul, bias, gamang karena banyak keinginan dan kesibukan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, yang tidak mendukung terbangunnya kodrat ilahi dalam hidup kita. Kalau sebagai hamba Tuhan hanya menyediakan fasilitas kebaktian, lalu menolong jemaat yang sedang ribut, rumah tangga berantakan, membantu yang punya masalah ekonomi supaya bisa perpanjang kontrak rumah, lalu bisa punya usaha atau membantu anak sekolah, maka orang-orang di luar gereja juga melakukannya dan bisa lebih baik. Kita tidak bisa mendandani orang kalau kita tidak bisa mendandani diri kita sendiri. Kita harus mengalami perubahan, sehingga Allah menganggap kita layak menjadi kawan sekerja-Nya, dan yang kita ucapkan diurapi sehingga menembus setiap hati, menempelak setiap dosa. Untuk apa Sekolah Tinggi Teologi, kalau hanya meluluskan orang bergelar sarjana? Kalau hanya membuat orang bisa khotbah? Kalau hanya membuat orang bisa memutar roda organisasi. 

Dan kita semua sudah menjadi korban dari sebuah budaya gereja dari tahun ke tahun, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kekristenan sekadar agama dengan penekanan liturgi, etika moral umum, dominasi tokoh, tampilnya orang-orang yang dihormati dan diakui sebagai wakil Tuhan, yang dianggap bisa menjadi jurubicara Tuhan padahal belum tentu. Jangan sampai kita tidak mengenali diri kita sendiri.Padahal waktu yang kita miliki sangat terbatas. Lalu kita anggap remeh Tuhan dan hal-hal rohani. Kita merasa apa adanya, cukup, sehingga kita tidak berjuang maksimal. Itu berarti kita tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak berubah sungguh-sungguh hari ini, tidak minta ampun dan bertobat, kita mati hari ini, kita dibuang ke dalam api kekal. 

Melakukan kehendak Bapa adalah kebutuhan, dan harus menjadi irama.