Keberanian Meninggalkan Percintaan Dunia

Keberanian adalah sesuatu yang bisa dan harus dibangkitkan di dalam hidup kita untuk hal-hal positif dan dikembangkan terus, sehingga bisa membentuk karakter berani yang positif pula. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya untuk meninggalkan percintaan dunia. Demi keselamatan kekal jiwa kita, kita harus berani meninggalkan dunia dengan segala keindahannya. Kalau seseorang menunda membangkitkan tekad untuk berani meninggalkan dunia, maka sampai mati dia tidak akan pernah meninggalkan dunia dengan segala keindahannya. Ini berarti sebuah persahabatan dengan dunia. Padahal, persahabatan dengan dunia berarti permusuhan terhadap Allah. Orang yang mengasihi dunia, memposisikan diri sebagai musuh Allah. Keadaan seperti ini adalah keadaan dan sungguh-sungguh sangat mengerikan. Tetapi faktanya, banyak manusia yang hidup dengan keadaan seperti ini, termasuk banyak orang Kristen. Malangnya, mereka tidak menyadari keadaan mereka yang yang memusuhi Allah.

Banyak orang Kristen yang tidak memiliki keberanian meninggalkan dunia. Jika keadaan ini berlarut-larut, sampai mati mereka tidak pernah memiliki keberanian meninggalkan percintaan dunia. Biasanya, orang-orang yang takut meninggalkan dunia mereka merasa tidak memiliki kebahagiaan lagi kalau meninggalkan percintaan dunia. Seakan-akan hanya dunia ini yang dapat membahagiakan dirinya dan dan seakan-akan tidak ada lagi kehidupan lain dimana dirinya dapat menikmati kebahagiaan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka tidak memandang Allah sebagai Allah yang baik. Mereka tidak percaya bahwa Allah yang baik menyediakan langit baru bumi baru yang dapat memberi kebahagiaan sempurna bagi anak-anak-Nya. Seharusnya, sebagai orang percaya, kita berani menaruh hati kita di Kerajaan Surga untuk memenuhi yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, di mana ada harta kita, di situ hati kita berada (Mat. 6:21).

Kalau kita bertekad meninggalkan dunia, Tuhan akan menolong kita dan mengajar bagaimana kita dapat melakukannya. Paling tidak, kita harus memiliki tekad untuk meninggalkan percintaan dunia, walaupun kenyataannya hati kita masih ada ikatan dengan dunia ini—dibutuhkan proses. Maka selanjutnya, Tuhan mengajarkan kita kehausan akan Allah. Tuhan tahu kelemahan kita dalam hal ini. Tuhan akan menolong kita bagaimana kita dapat melepaskan diri dari percintaan dunia. Tetapi kalau seseorang sudah putus asa dan berpikir bahwa ia tidak bisa tidak mencintai dunia, ia tidak akan memiliki gairah sama sekali untuk meninggalkan percintaan dunia. Kita harus optimis. Seperti Yesus dapat meninggalkan segala kemuliaan, mengosongkan diri, dan berkeadaan sama seperti manusia, demikian pula kita dapat meninggalkan percintaan dunia dan mengosongkan diri agar bejana hidup kita diisi oleh Roh Kudus.

Dibutuhkan keberanian untuk bisa berkata: “Tuhan, Engkau kebahagiaanku, Engkau kesenanganku satu-satunya.” Dengan pernyataan ini, kita bisa “mati sebelum mati” atau “selesai sebelum selesai.” Orang-orang seperti ini adalah orang yang merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki siapa-siapa. Kalaupun memiliki banyak hal, ia merasa bahwa semua hal itu adalah milik Allah. Walaupun banyak orang di sekitarnya, ia merasa bahwa semuanya adalah milik Tuhan. Tentu saja sebagai manusia, kita memiliki kesenangan bersama dengan pasangan hidup, anak, menantu, dan cucu-cucu. Tetapi semua itu tidak ada artinya jika kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Akhirnya, Allah menjadi segalanya dalam hidup kita. Tentu saja kita memiliki kesenangan dan kepuasan ketika berhasil dalam studi, karier, bisnis, dan lain sebagainya. Tetapi semua itu juga tidak ada artinya jika kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Semua harus menjadi kesenangan Tuhan. Tuhan senang melihat rumah tangga kita yang bahagia, Tuhan senang melihat anak cucu kita, Tuhan senang melihat sukses karier dan studi kita, yang tentu saja semua itu bisa dipersembahkan untuk kepentingan Kerajaan Surga.

Orang-orang seperti di atas ini tidak akan memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Ia akan mengasihi sesama karena dirinya mengasihi Tuhan. Orang-orang percaya seperti ini baru berhak memiliki Allah dan Allah pun berhak memiliki dia. Hanya orang yang tidak memiliki siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa yang berhak memiliki Allah dan dimiliki Allah, karena akan terjalin sebuah hubungan yang harmoni. Tidak salah memiliki pasangan hidup, anak, orangtua, sahabat, dan teman-teman, tetapi kalaupun tidak memiliki mereka semua, juga tidak menjadi masalah. Sebab, yang penting kita memiliki Tuhan, dan semua bagi kesukaan hati Allah. Dengan hal ini, kita dapat mewujudkan firman Tuhan yang tertulis: “Baik kita makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, kita lakukan untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31).