Skip to content

Kebaikan Allah

Kita sering mengatakan, kita juga sering mendengar bahwa Allah itu baik, sungguh baik, dan sangat baik. Apa ukuran kebaikan yang kita pahami mengenai Allah tersebut? Kebaikan Allah yang luar biasa telah dimulai sejak Allah menciptakan manusia. Allah menciptakan manusia sebagai anak-Nya. Itulah sebabnya Alkitab mencatat bahwa Adam adalah anak-anak Allah. Tentu seharusnya sesuai dengan rancangan Allah, semua manusia menjadi anak-anak Allah. Inilah kebaikan Allah, dimana makhluk ciptaan yang disebut manusia ini diciptakan sebagai anak-anak Allah, dan dikehendaki memiliki kemuliaan-Nya. Allah tidak berkeberatan makhluk ciptaan ini memiliki kemuliaan-Nya, keagungan Allah, atau nilai yang tinggi dari Allah sendiri. Jadi kalau di dalam Roma 3:23 dikatakan manusia kehilangan kemuliaan, di situ tersirat bahwa memang pada mulanya manusia itu dikehendaki oleh Sang Khalik, yaitu Bapa di surga, untuk memiliki kemuliaan Allah.

Kita membaca di dalam Alkitab bahwa rancangan dari Sang Khalik adalah agar manusia ini memiliki kemuliaan Allah, namun itu tidak diraih dengan mudah atau tidak diberikan dengan cuma-cuma. Allah memberikan perangkatnya, komponennya untuk meraih hal itu, dan itu sebuah keniscayaan; bukan sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Allah memberikan pikiran dan perasaan yang dari pikiran dan perasaan itu manusia dapat melahirkan kehendak. Jikalau manusia setia kepada Bapa, dimana ia mengisi pikiran dan perasaannya dengan kebenaran, maka ia bisa mencapai kemuliaan yang Allah sediakan yang bisa dikenakan manusia dan menjadi milik abadi atau milik kekal. Tetapi di dalam sejarah perjalanan hidup manusia pertama di Kejadian 3, manusia curiga terhadap Allah. Ketika iblis menawarkan opsi atau pilihan untuk mengkonsumsi buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, hal itu memikat hatinya. Yang karenanya perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Lagipula, pohon itu menarik hati karena memberi pengertian, sehingga manusia memetiknya.

Kisah kejatuhan adalah kisah yang paling tragis. Seandainya mereka tidak makan buah itu, tidak dapat dibayangkan betapa agung dan mulianya manusia. Tidak terbayang juga bagaimana bumi yang sungguh amat baik dan dikelola oleh orang-orang yang memiliki keagungan dan kemuliaan Allah. Peta kehidupan yang berubah total dapat kita saksikan hari ini, dan kita juga rasakan, serta kita alami. Sakit-penyakit, kemiskinan, penderitaan, dan kematian, belum lagi bayang-bayang kebinasaan, dimana manusia terpisah dari Allah. Tetapi Allah yang baik, tetap sangat baik. Allah mengembalikan kemuliaan itu, karena memang itu rancangan Allah semula. Dan itu bisa terwujud atau terealisasi kalau Allah sendiri yang berintervensi. Allah hanya punya satu kali kesempatan untuk itu. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Yesus Anak Tunggal. Itulah sebabnya juga dikatakan bahwa Yesus adalah Adam terakhir. Itu menyiratkan bahwa kesempatan terakhir. Sehingga kita bisa membayangkan betapa berat tanggung jawab dan beban Yesus dalam memikul tanggung jawab penyelamatan manusia, agar kemungkinan manusia kembali memperoleh kemuliaan itu dapat terwujud.

Ketika kita membaca dalam Injil, Yesus yang kita panggil Tuhan, berhasil menyelesaikan tugas penyelamatan. Setelah Ia menerima segala kuasa di surga dan di bumi, Dia memberi amanat kepada murid-murid-Nya: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Sebenarnya kalimat itu sama artinya dengan: jadikan semua bangsa—yang tentu menjadi umat pilihan—untuk menemukan kembali kemuliaan yang hilang, yang selama ini tidak teraih oleh manusia. Yesus, Anak Manusia yang kita panggil Tuhan adalah manusia pertama yang menemukan, mengenakan kemuliaan Allah tersebut. Hanya orang-orang tertentu yang diberi kesempatan untuk menemukan kemuliaan itu, yaitu orang-orang yang menjadi anak-anak Allah. Semua anak-anak Allah adalah orang-orang yang harus berkenan, yang dirancang pasti dimuliakan bersama dengan Yesus, maka juga harus menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut.

Dulu kita tidak pernah berpikir sejauh itu. Tetapi sekarang kita tahu, kalau seseorang menjadi anak-anak Allah, dia tidak bisa menghindar. Dia harus belajar untuk dimuridkan, harus didewasakan untuk menjadi orang yang berkenan di hadapan Allah. Harus mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, sehingga dikembalikan ke rancangan semula yang nantinya akan dimuliakan bersama Yesus. Hal ini tidak berlebihan sebab proyeksi anak-anak Allah adalah dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Inilah yang harus kita tahu, kita mengerti, kita percaya, dan kita kenakan dalam hidup. Sebab kalau kita tidak mengerti ini, kita tidak akan dapat memiliki perjuangan untuk mengenakannya. Itu berarti karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus menjadi sia-sia; sebab karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus itu memang bermaksud untuk membuat manusia menemukan kemuliaan Allah tersebut.

Inilah kebaikan Allah, dimana makhluk ciptaan yang disebut manusia diciptakan sebagai anak-anak Allah, dan dikehendaki memiliki kemuliaan-Nya.