Kebahagiaan yang Sejati

Kalau kebahagiaan hanya dipahami sebagai keadaan baik dimana manusia memperoleh pemenuhan kebutuhan jasmani, berarti kebahagiaan yang dipahami tidak sesuai dengan kebahagiaan versi Tuhan. Biasanya, orang-orang yang pikirannya tertuju kepada pemenuhan kebutuhan jasmani adalah orang-orang yang egois dan duniawi, bahkan bisa menjadi kejam terhadap sesama. Inilah yang dimaksud Paulus dengan orang-orang yang pikirannya semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Flp. 3:19). Mereka tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Bahkan bila berurusan dengan Tuhan pun hanya karena bermaksud menggunakan Tuhan untuk kepentingan pemuasan diri sendiri, yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani. Ini berarti Tuhan dijadikan alat untuk melayani dirinya. Orang-orang seperti ini tidak pernah mengenal kebahagiaan hidup yang sejati. Mestinya, sekalipun tidak terpenuhinya kebutuhan jasmani, asal proses kehidupan untuk menjadi semakin seperti Kristus berlangsung, hal tersebut dipandang tidak masalah sama sekali. Lebih dari masalah tidak salah dalam memilih jodoh, sukses dalam karier, berhasil dalam bisnis, dan segala sesuatu yang baik bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus adalah hal yang terutama dalam hidup. Sejatinya, Tuhan adalah sumber kebahagiaan

Suatu kebahagiaan kalau seseorang menjadi seperti Tuhan dan berguna bagi kemuliaan-Nya. Ini sejajar dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa tidak ada yang baik selain Tuhan. Kalau seseorang memandang kebahagiaan demikian dan berusaha mencapainya, berarti ia telah mengikuti Yesus dengan benar. Dan sebagai hasilnya, ia bergaya hidup seperti Yesus. Berkenaan dengan kebahagiaan—yaitu menjadi serupa dengan Yesus—hal ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya dan dalam waktu singkat. Allah tidak mengadakan “sulap” untuk mengubah umat pilihan-Nya yang mengasihi Dia. Melalui perjalanan waktu yang panjang, orang percaya yang mengasihi Tuhan diproses melalui segala peristiwa untuk menjadi serupa dengan Yesus. Perubahan dapat terjadi setelah seseorang menerima didikan Bapa dalam waktu yang panjang. Kalau orangtua di bumi ini mendidik dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka pandang baik, tetapi Bapa di surga menghajar orang percaya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya dalam proses sepanjang umur hidup. Dari hal ini, berlaku pernyataan “indah pada waktunya.”

Indah pada waktunya berarti pada waktu setelah mengalami proses pembentukan, seseorang menjadi serupa dengan Yesus sehingga layak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:21). Kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah puncak kebahagiaan dimana lutut setiap orang percaya bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Pada akhirnya, kebahagiaan adalah hasil kerjasama antara manusia dan Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran. Berdirinya Kerajaan Allah pun melibatkan peran manusia, bahkan manusia juga turut serta mempercepat kedatangan Tuhan. 

Banyak orang berkata bahwa kehidupan yang bahagia adalah terhindar dari kesulitan hidup, seperti juga yang dikemukakan oleh banyak pendeta dan pembicara hari ini. Menurut pandangan mereka, yang sebenarnya tidak tepat, kebahagiaan hidup ditandai dengan bebas dari masalah-masalah, problem dapat dapat dihindari, keuangan yang berlimpah, terhormat di mata manusia, memiliki pangkat, kedudukan, dan kekuasaan sehingga terhormat, menonjol dalam bidang-bidang tertentu baik di bidang politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Ini yang dikatakan “menjadi kepala bukan ekor.” Pengertian kebahagiaan seperti ini adalah salah dan dapat menyesatkan. Karena hal inilah banyak orang Kristen gagal menjalani hidup kekristenannya, sehingga tidak pernah diselamatkan atau dikembalikan ke rancangan Allah semula. 

Banyak orang Kristen menjadi frustasi karena merasa gagal mencapai kebahagiaan versi dunia pada umumnya. Hal ini dikarenakan mereka berkeadaan tidak seperti yang diharapkan, sesuai dengan konsep kebahagiaan tersebut. Maka, banyak orang Kristen yang bersungut-sungut, dan dalam hati kecilnya menyalahkan Tuhan. Mereka tidak mengerti tujuan Tuhan memberi keselamatan. Alkitab menunjukkan bahwa musuh kita adalah kuasa gelap atau si Iblis. Namun perlu diketahui bahwa yang membahayakan dari Iblis dalam hidup orang percaya bukan hanya pada waktu ketika Iblis merusak ekonomi, kesehatan, dan mendatangkan berbagai kesulitan hidup, melainkan juga ketika Iblis menempatkan orang percaya dalam keadaan ekonomi baik, tubuh sehat, dan keadaan nyaman, serta merasa memiliki kebahagiaan. Justru itulah yang membuat orang Kristen terlena dengan berbagai-bagai keinginan duniawi sehingga karakter Kristus tidak bertumbuh. Hal tersebut telah cukup untuk membuat orang percaya hanyut dalam menikmati dunia, sehingga tidak mengalami proses keselamatan yaitu dikembalikan dirinya pada rancangan Allah semula. Kita harus waspada agar tidak terjerat oleh tipu daya Iblis.