Kausalitas di Dalam Diri

Kesucian adalah hal mutlak yang harus dimiliki dan dijalani orang percaya. Karena hal ini adalah hal yang sangat mutlak, maka Tuhan pasti bersikap sangat adil. Keadilan Tuhan menuntut masing-masing individu untuk bertanggung jawab. Seberapa tinggi kualitas kesucian hidup seseorang, tergantung dari masing-masing individu merespons anugerah yang Allah sediakan kepada mereka sesuai dengan takaran atau bagiannya. Sesuai takaran atau bagiannya, artinya masing-masing orang memiliki bagian yang khusus; tentu satu dengan yang lain berbeda. Dalam hal ini, berlaku firman bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit dituntut sedikit pula (Luk. 12:48). Perintah agar orang percaya mengejar kekudusan adalah isyarat yang sangat jelas, bahwa peran individu dalam kehendak bebasnya sangat menentukan atau berperan dalam pencapaian terhadap kesucian hidup orang percaya (1Ptr. 1:16; dan lain sebagainya). Kalau kesucian bisa dicapai hanya oleh karunia, maka tidak pernah ada perintah untuk mengejar kekudusan, atau tidak akan ada perintah agar kita hidup kudus. 

Kalau kesucian hanya dapat dicapai dengan karunia, maka perintah yang diberikan Tuhan bukan perintah untuk hidup suci, melainkan untuk mengejar karunia guna mencapai kesucian. Jika yang dikejar adalah karunia untuk hidup suci, maka peran individu untuk mengejar kekudusan dalam kehendak bebasnya tidak dapat tampil secara proporsional. Jika kesucian adalah karunia semata-mata, maka logikanya tidak perlu ada pertanggungjawaban individu kepada Tuhan. Jika seseorang bisa hidup suci karena karunia khusus yang diberikan Tuhan, maka ia tidak patut menerima upah di Kerajaan Surga. Sedangkan mereka yang tidak diberi karunia oleh Allah untuk hidup suci, tidak perlu bertanggung jawab atas keadaannya tersebut di hadapan Allah. Satu hal yang harus ditekankan bahwa kesucian hidup dapat dicapai seseorang, tergantung dari masing-masing individu. Jika kesucian dipandang sebagai karunia, mereka yang selalu merasa gagal semakin tidak optimis untuk bisa hidup dalam kesucian, sampai pada tingkat jera untuk berjuang mencapai kesucian.

Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa kesucian hidup tidak akan dapat dicapai di bumi ini. Kesucian hanya bisa ditemukan dan dialami di surga. Jadi, kesucian hidup manusia tidak pernah akan ditemukan di bumi. Menurut mereka, bumi bukanlah tempat manusia dapat mengenakan kesucian. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pertama, karena mereka tidak memahami pengertian kesucian menurut Alkitab. Pengertian kesucian yang dipahami oleh mereka sebenarnya serapan dari berbagai pandangan agama dan filsafat dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Mereka berpikir suci itu seperti sebuah bidang yang tadinya dikotori oleh noda, walaupun noda itu dapat hilang oleh semacam sarana pembersih, tetapi akan selalu ternoda kembali. Dalam hal ini, kalau bidang itu adalah hati manusia, maka sarana pembersihnya adalah darah Yesus. Tetapi hati akan selalu dapat dikotori lagi oleh dosa, sebab manusia masih hidup di dunia, dunia yang penuh dengan dosa. Dan mereka beranggapan bahwa hanya di surga, di mana tidak ada Iblis, maka juga tidak ada dosa.

Orang percaya harus selalu berjuang untuk berkenan kepada Tuhan. Berkenan kepada Tuhan bukan hanya didasarkan pada melakukan hukum, tetapi tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, dosa bukan hanya tindakan yang melanggar moral umum seperti melakukan pembunuhan, perzinaan, perampokan, dan sejenisnya, tetapi tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dosa-dosa yang terselubung di dalam hati dapat terjadi setiap saat tanpa rangsangan dari luar. Dalam hal ini, nyatalah bahwa dosa tidak terletak pada kausalitas di luar diri manusia itu semata, tetapi terletak pada kodrat dalam diri manusia. Untuk setiap sikap hati dan gerak pikiran yang salah, setiap saat seseorang dapat menyelesaikan atau melakukan pemberesan secara pribadi dengan Tuhan. Dalam hal ini, harus dilakukan secara pribadi dengan Tuhan, sebab tidak seorang pun yang dapat memahami keadaan batin seorang lainnya. Dalam keadaan siaga, seseorang dapat selalu menyadari apakah dirinya berada di tempat yang benar di hadapan Allah atau tidak. Dalam hal ini, tidak dibutuhkan siapa pun—apakah seorang rohaniwan atau gembala jemaat—untuk menolongnya melakukan pemberesan dosanya. Seseorang bisa langsung berdialog dengan Tuhan untuk mengadakan pemberesan. Harus diingat bahwa perantara dan Jurusyafaat orang percaya di hadapan Allah Bapa hanya Tuhan Yesus.

Dosa tidak terletak pada kausalitas di luar diri manusia itu semata, tetapi terletak pada kodrat dalam diri manusia.