Jaring Tuhan

Sejatinya, Tuhan yang Mahakuasa bisa tidak membutuhkan kita. Pemazmur mengungkapkan hal ini dengan: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:4-5). Allah sama sekali tidak mencari keuntungan dari kita. Allah bisa tidak perlu memanfaatkan kita, sebab Dia telah memiliki segalanya. Allah itu Mahakuat, Mahakaya, memiliki segala sesuatu tanpa batas. Coba kita renungkan, Allah sama sekali tidak mencari keuntungan dari kita, tetapi Allah memberi segalanya bagi kita. Kasih Allah tidak akan pernah dapat kita pahami, tidak akan pernah dapat kita mengerti. Memiliki Allah seperti ini, tentu satu-satunya Allah yang benar, tidak ada Allah selain Dia; Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah Israel, Yahweh nama-Nya, Elohim Yahweh, Allah Yahweh. Kita bersyukur, kita sangat beruntung mengenal dan memiliki Allah seperti Dia, dan dimiliki oleh Allah seperti Dia yang juga menjadi Bapa kita. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak memiliki keraguan sama sekali terhadap Allah. Tidak memiliki keraguan sama sekali berarti bukan hanya kita percaya kuasa-Nya, pemeliharaan-Nya, dan perlindungan-Nya, melainkan juga kita mau mengikuti jalan-Nya. Kita mau mengikuti jejak hidup-Nya.

Dia tidak mencari keuntungan. Sebaliknya, Dia mau kita hidup di dalam berkat-Nya. Dalam Yohanes 10:10 Tuhan berkata, ​​“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Kata ‘kelimpahan’ di sini harus dipahami sebagai kelimpahan dalam kualitas. Tuhan ingin memberikan kepada kita hidup yang berkelimpahan dalam kualitas. Oleh karenanya, tentu kita tidak bisa hidup suka-suka sendiri, lalu kita bisa hidup di dalam berkat-Nya. Ada aturan, tatanan, dan etika kehidupan dalam ber-Tuhan. Satu-satunya jalan untuk memperoleh semua yang Allah sediakan bagi kita adalah hidup di dalam kesucian-Nya. Dimulai dari hal-hal yang kita pandang salah, jangan dilakukan. Hal-hal yang bisa menyakiti, melukai orang, jangan kita lakukan. Hal yang membuat orang lain tidak sejahtera, jangan kita lakukan. Sesuatu yang membuat orang lain dirugikan atau merasa dirugikan, jangan kita lakukan. Dimulai dari hal itu, sampai nanti Tuhan akan memimpin kita pada tingkat-tingkat kesucian yang lebih lagi, dalam standar kesucian Allah. Memang ini hal berat, tetapi ini satu-satunya jalan untuk hidup di dalam naungan, perlindungan Tuhan. Kalau kita hidup di dalam dosa, kita tidak layak hidup di dalam perlindungan-Nya. Kita yang dibenarkan harus hidup di dalam pimpinan Roh, dan Alkitab mengatakan bahwa “memang kita orang-orang yang berutang.” Orang yang berutang bukan hidup menurut daging, tetapi untuk hidup menurut Roh (Rm. 8:4).

Tuhan mau membawa kita ke tempat yang nyaman, yang baik, tetapi kita menolak, lari. Mendengar kata “Tuhan,” mendengar kata “suci,” kita langsung merasa tidak nyaman. Tuhan ingin membawa kita keluar dari dunia ini, untuk masuk Kerajaan Surga. Dalam Yohanes 14:2 dikatakan, “di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Kita harus memberi diri rela dijaring. Jangan lari dari jaring Tuhan. Doa pagi, kebaktian dimana kita mendengar kebenaran yang murni adalah jaring-Nya Tuhan. Jangan kita lari daripadanya. Neraka itu lebih dahsyat dan mengerikan daripada bom. Mengapa kita tidak bisa siuman? Periksa diri, bertobat, doa pribadi, menyembah. Allah yang mau menangkap kita, membawa kita ke dalam Kerajaan Surga. Tuhan pakai jaring doa, jaring kebaktian, jaring Suara Kebenaran supaya kita masuk surga. Mengapa kita tidak mau? Mengapa kita lari? Hal-hal tersebut adalah jaring yang membawa kita ke dalam Kerajaan Surga. Ditambah lagi dengan fenomena baru-baru ini, ricuh di sana sini, pandemi yang hampir melanda seluruh negara di dunia. Kiranya hal ini mengingatkan kita bahwa dunia ini tidak nyaman. Kita tidak usah menunggu adanya Perang Dunia ke-3 atau bencana lain yang menggugah perasaan takut kita. Ketika kematian menghampiri kita, itupun sudah dahsyat. Sebab, kematian adalah akhir zaman setiap manusia. 

Tuhan mau angkat kita dari dunia ini untuk masuk Kerajaan Surga, maka kita harus memberi diri rela dijaring oleh-Nya