Irama Hidup yang Permanen

Perjalanan hidup seseorang seperti sebuah irama. Jika irama tersebut sudah terbentuk, maka sulitlah diubah. Apalagi jika irama tersebut sudah terbentuk dalam waktu lama, perlu usaha untuk mengadakan perubahan dalam waktu yang lama juga dan kerja keras. Itulah sebabnya, seseorang tidak bisa baik mendadak atau jahat mendadak. Kalau irama hidup seseorang itu baik, tidak mudah orang itu mendadak menjadi jahat. Sebaliknya, kalau orang itu berkarakter jahat, maka tidaklah mudah berubah menjadi baik dalam waktu singkat. Dalam hal ini, kehendak bebas masing-masing individu menentukan irama hidupnya. Selain lingkungan, waktu juga menentukan pembentukan irama hidup yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, kita bukan hanya memperhatikan lingkungan yang dapat memengaruhi keadaan hidup kita, tetapi juga memperhatikan waktu atau kesempatan yang Tuhan berikan untuk membangun irama hidup yang baik. 

Dalam hal ini, waktu bisa menjadi berkat atau anugerah, bila digunakan untuk membangun irama hidup yang baik; tetapi waktu juga bisa menjadi kutuk atau laknat, kalau tidak digunakan untuk membangun irama hidup yang baik. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, Rasul Paulus menasihati demikian: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15-17). Kalimat “perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup” dalam teks aslinya sebenarnya bermaksud mengatakan agar kita memperhatikan “bagaimana kita berkebiasaan.” Kebiasaan hidup kita adalah irama kita yang bisa menjadi permanen jika hal itu dilakukan terus-menerus.

Kenyataan dalam kehidupan pada masa sekarang ini, orang lebih mudah menjadi jahat daripada menjadi baik. Karena dunia dan lingkungannya sangat jahat, lebih mudah orang menjadi jahat daripada menjadi baik. Tidak dibutuhkan waktu lama untuk membuat seseorang menjadi jahat. Tetapi sangatlah sulit menjadi orang baik dalam waktu singkat, maupun dalam waktu yang panjang. Situasi dunia hari ini lebih kuat atau lebih cenderung membuat orang menjadi jahat daripada menjadi baik. Bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus berkata, kalau Ia datang pada kedatangan-Nya yang kedua kali, apakah Ia mendapati iman di bumi? (Luk. 18:8). Maksud pernyataan Tuhan Yesus ini adalah bahwa di akhir zaman, akan sangat sedikit orang yang benar-benar memiliki kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Hal ini sinkron dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:12-13.

Banyak orang Kristen yang tidak menyadari hukum kehidupan mengenai “tabur tuai,” bahwa segala sesuatu yang ia tabur, ia akan tuai. Artinya, segala sesuatu yang dilakukan, pasti akan berdampak. Kalau seseorang menabur dalam waktu panjang suatu kebiasaan hidup yang baik atau lurus, dia akan memiliki kebaikan atau kelurusan hidup sampai mati, bahkan dibawa sampai di kekekalan. Tetapi kalau seseorang menabur dalam waktu yang panjang kehidupan yang jahat atau bengkok, maka kejahatan atau kebengkokan tersebut merupakan tuaian yang akan dia miliki dan menjadi keberadaannya yang tidak bisa diubah, baik di bumi maupun di kekekalan. Dalam hal ini, waktu hidup yang kita jalani dan kebiasaan hidup yang berlangsung memberi nilai kekal, artinya segala sesuatu yang kita lakukan sekarang ini dalam perjalanan waktu menentukan keadaan kekal kita nanti. Dengan demikian, persiapan dimulai sejak hidup di bumi, entah kekekalan yang membahagiakan atau kekekalan yang menyakitkan. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini sehingga mereka mengisi hidupnya secara sembarangan atau ceroboh. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membangun kekekalan yang dahsyat.

Jadi, kalau dalam waktu yang panjang seseorang telah membentuk suatu kebiasaan hidup, hal itu merupakan keberadaan yang permanen di dalam hidupnya. Itulah sebabnya, seseorang yang ada di ujung maut tidak mungkin menjadi baik mendadak atau jahat mendadak. Kalaupun seseorang seakan-akan menjadi baik atau mau bertobat setelah menjalani perjalanan hidup yang jahat dalam waktu lama, pertobatannya bukanlah pertobatan yang natural. Dalam hal ini, Allah tidak bisa ditipu. Oleh sebab itu, memang pertobatan dan proses perubahan harus dilakukan jauh-jauh hari. Kita tidak boleh menunda apa yang seharusnya segera dilakukan, yaitu pertobatan dan proses perubahan untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Penundaan sangat merugikan, sebab membangun kebiasaan yang buruk yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa diubah. Penyesalan menunda apa yang seharusnya sejak dini dilakukan merupakan penyesalan yang sangat menyakitkan yang tidak terbayangkan.