Ini Aku, Tuhan

Orang percaya yang benar pasti hidup tidak bercacat, tidak bercela, dan rela menderita bagi Tuhan. Penderitaan itu dialami karena melakukan apa yang Bapa inginkan. Namun, beberapa orang membenarkan diri dengan berkata, “Saya bukan tidak mau melakukan. Saya tahu saja, tidak.” Mengapa mereka sampai tidak tahu? Pertama, karena hidupnya belum bersih. Mereka masih hidup dalam kompromi dengan dosa. Yang kedua, masih terikat dengan percintaan dunia; hidup dalam kewajaran seperti anak dunia. Kedua hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, seseorang harus mematikan kedagingannya dahulu. Maka di Lukas 18:8 Tuhan Yesus berkata, “Kalau Anak Manusia datang, apakah Dia menjumpai iman di bumi?” Artinya, menjumpai orang Kristen dalam standar yang benar seperti ini; hampir tidak ada. Bukan berarti tidak ada sama sekali, namun sedikit. Dan di antara yang sedikit itu, kiranya Tuhan temukan kita sebagai orang-orang yang berani berkomitmen memelihara iman kita. Roma 8:17, “Dan jika kita adalah anak,” kata firman Tuhan, “…maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus.”

Jadi, Allah Bapa sendiri memberi janji kepada Anak-Nya, akan memberikan kekuasaan dan kemuliaan. Tuhan Yesus akan menerimanya bersama-sama dengan kita. Jelas, “yang akan menerimanya, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Lalu ayat berikutnya, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18). Ini yang menjadi kebahagiaan kita. Kalau ada kebahagiaan lain selain ini, pasti kita berkhianat kepada Tuhan dan tidak akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Dalam Mazmur 126:5 dikatakan, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata—kopos—ini pasti lelah dan menyakitkan, namun ia akan menuai dengan bersorak-sorai.

Sekarang, mestinya kita mencari pekerjaan Bapa yang mana dan yang bagaimana yang membuat kita sampai kopos. Kalau hanya jadi pendeta, pengkhotbah, tidak sampai mencucurkan air mata, tidak sulit. Tapi belum sampai seperti yang dikatakan Alkitab, kopos. Belum sampai grief, wailing, lamentation. Dalam hal ini, hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang mengetahuinya. Galatia 6:7 katakan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Kalau kita menabur pengabdian kepada Tuhan sampai kopos, kita baru memiliki kemuliaan bersama Tuhan, dan kematian kita itu kematian yang bermartabat. Tapi akan sangat sedikit orang yang mau mencari kehidupan dimana ia melayani Tuhan sampai ratapan ini. Miliki gairah seperti yang Tuhan Yesus katakan: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya; serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” Kita mau mencari tempat pelayanan, pengabdian kepada Tuhan sampai kopos; ada grief, ada ratapan. Ini adalah penderitaan yang dalam. Ini adalah martabat tertinggi. Sebab, martabat tertinggi seseorang adalah kalau ia menjadi kawan sekerja Allah. Menjadi kawan sekerja presiden di bumi ini saja, sangat terhormat. Apalagi menjadi kawan sekerja Raja di atas segala raja.

Jadi, jangan merasa minder karena kita miskin secara ekonomi, rendah dalam pendidikan, atau rendah dalam tingkat sosial ekonomi. Kalau kita bisa menemukan tempat di mana kita mengabdi kepada Tuhan sampai pada ratapan, itu adalah kehormatan; martabat tertinggi. Makanya dalam pelayanan, kita tidak boleh memiliki agenda pribadi. Hari ini, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bertobat dan merubah diri agar kita layak menjadi kawan sekerja-Nya. Dan jika Tuhan Yesus bertanya, “Adakah yang akan Kuutus?” Apa jawaban kita? Apakah kita akan bersikap seperti Yunus yang menghindar dari panggilan-Nya? Atau seperti Musa yang berdalih dan mengalihkannya kepada orang lain? Atau kita seperti Yesaya yang berani berkata, “Ini aku, Tuhan, utuslah aku. Aku berjanji untuk melakukan apa pun yang Engkau mau.” Jika demikian, maka kematian kita akan menjadi kematian yang bermartabat.

Ketika Tuhan Yesus mencari seseorang yang hendak diutus-Nya, apakah Ia dapat mendengar kita menjawab, “Ini aku, Tuhan, utuslah aku.”