Ingin Kaya?

Menjawab pertanyaan yang merupakan pergumulan semua orang percaya, “mengapa sulit mengalami pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus?” Ternyata jawabannya bisa kita peroleh dari Lukas 16:11. Karena seseorang masih “mencintai dunia,” yang di dalam bahasa Indonesia kita ditulis: “tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur.” Artinya, bersikap keliru terhadap kekayaan dunia. Mamon menunjuk harta dunia atau materi atau sesuatu yang dipandang sebagai berharga atau bernilai, untuk bisa menjadi andalan atau tumpuan harapan. Celaka kalau manusia menggantungkan harapannya kepada materi atau kekayaan dunia. Tuhan Yesus mengingatkan agar kita berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung daripada kekayaan itu. Hari ini, hampir semua manusia telah tertipu oleh mamon. Pada umumnya, manusia memandang harta kekayaan sebagai yang bernilai, yang berharga, yang dapat diandalkan dan menjadi tumpuan harapan. Dan ini tidak bisa dibantah. Di dunia kita hari ini, harta kekayaan dunia, uang, sangat berkuasa dan berguna dalam menjalani hidup wajar sebagaimana manusia pada umumnya. Maka, tidak heran banyak orang yang terbelenggu di sini.

Termasuk orang-orang Kristen, juga tertipu oleh mamon. Kelak mereka baru menyadari adanya penipuan atau penyesatan itu, setelah melihat kekekalan yaitu ketika sudah ada di balik kuburnya, baru sadar ternyata ini mamon yang tidak jujur. Namun, keadaan tersebut sudah terlambat. Jangan sampai kita berkeadaan seperti itu. Kita tidak menutup mata terhadap kenyataan kebutuhan uang untuk berbagai fasilitas hidup. Kita mengerti, dan memang kita harus bekerja keras, memaksimalkan potensi untuk memperoleh uang. Tetapi, jangan kita berpikir kalau uang banyak, lebih aman; sangat banyak, sangat aman. Yang penting, kita bisa menjalani hidup dari hari ke hari. Kenyataannya, tidak sedikit di antara kita yang sebenarnya tidak memiliki kepastian hidup secara materi. Kontrak rumah, uang sekolah anak, bahkan kadang-kadang untuk makan pun kita gali lubang, tutup lubang. Namun, kadang ada orang-orang Kristen yang mau melempar tanggung jawab kepada Roh Kudus untuk membuat mukjizat. Itu yang menjadi keliru.

Jadi, jangan sampai kita terbelenggu oleh percintaan dunia. Dunia harus kita tinggalkan. Kebahagiaan kita hanya di dalam Tuhan, kita lewati dari hari ke hari, sambil menatap kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. Dalam kitab Wahyu, digambarkan bahwa percintaan dunia ini adalah pelacur besar. Keindahan dunia ini, materi, dan mamon merupakan pelacur besar yang disampaikan Yohanes dalam kitab Wahyu (Why. 17:1-2). Ini bukan percabulan secara seks umum. Ini adalah percabulan rohani. Ini menunjuk keadaan dunia akhir zaman, dimana manusia menjadi sangat materialistis. Mulai dari bangsawan, penguasa, pemimpin-pemimpin masyarakat, politisi-politisi, semua terbelenggu oleh harta. Jadi, tidak heran kalau grafik korupsi di manapun terus meningkat. Orang menjadi kejam, tidak memiliki belas kasihan terhadap sesama karena uang. Zaman sekarang ini adalah zaman dimana manusia pada umumnya hidup dalam pelacuran dengan dunia. Kalau sampai kita ikut terjebak dalam pelacuran ini, kita tidak pernah menjadi perawan suci di hadapan Allah. Jadi, apakah salah jika kita ingin kaya? Kita harus melihat konteksnya. Ingin kaya karena cinta uang, atau ingin kaya karena cinta Tuhan? Kalau ingin kaya karena Tuhan, maka pasti semua dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan. Bukan berarti menyerahkan semua ke gereja. Tetapi dalam pimpinan Roh Kudus, bagaimana mengelola harta yang Tuhan percayakan kepada kita.

Betapa mengerikan keadaan saat itu, ketika mamon tidak dapat menolong, dan manusia diseret ke dalam api kekal bersama-sama dengan Iblis dan roh-roh jahat. Pernahkah kita membayangkan bahwa kalau kita tidak bertobat, tidak meninggalkan percintaan dunia, kita akan bersama dengan makhluk-makhluk yang buruk rupa, mengerikan, kejam, ganas, dan jahat? Dalam Lukas 16:23-24, tercatat mengenai orang kaya yang sangat menderita di tempat siksaan yang mengerikan. Ketika masih hidup di dunia, orang kaya ini dengan segala kemewahannya, tidak memedulikan sesamanya. Orang yang tidak memedulikan sesamanya, pasti tidak memedulikan Tuhan. Orang kaya ini menikmati kekayaannya tanpa memedulikan orang lain. Ketika ia meninggal dunia, kekayaannya tidak dapat menolong sama sekali. Itulah kekayaan dunia yang ternyata tidak dapat dipercayai atau menipu; mamon yang tidak jujur. Namun ironis, manusia hari ini tidak mau mengerti kalau kekayaan dunia ini bisa menjadi alat Iblis menipu, menyesatkan, dan membinasakan manusia. Jadi, sebenarnya yang salah bukan harta kekayaannya, melainkan perlakuan seseorang terhadap harta kekayaan itu. Seseorang bisa memperlakukan harta kekayaannya dengan benar, bukan karena mendengar khotbah satu kali, dua kali, sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun. Melainkan, ia harus belajar selama belasan sampai puluhan tahun. Oleh karenanya, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar kebenaran melalui pendengaran, maupun pengalaman sehari-hari.

Seseorang yang ingin kaya karena Tuhan, maka pasti semua dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan.