Iman yang Kokoh

Pada umumnya, kita berpikir kalau orang cakap dalam hal-hal doktrinal, maka imannya kokoh. Padahal, pengetahuan tentang doktrin yang dimiliki seseorang itu belum tentu membuat iman seseorang itu kokoh. Seseorang dikatakan memiliki iman yang kokoh apabila kesalehannya memancar, kesuciannya tampak, kehidupannya tidak melukai orang tetapi memberkati orang. Hidupnya memancarkan kepribadian yang agung, yaitu kepribadian Allah Bapa sendiri. Hal yang harus kita pelajari terlebih dahulu adalah, apa yang dimaksud dengan iman? Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Maka, jika doktrin yang dimilikinya benar, ia harus mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain, doktrin yang benar pasti memiliki implikasi; bukan hanya di ruang kuliah atau di dalam gereja, namun dalam hidup keseharian kita. Artinya, ada tuntutan untuk dilakukan, ada keterkaitan dengan etika yang harus dikenakan atau moral yang harus digelar di dalam hidup. Jadi, apabila suatu doktrin hanya menjawab masalah logika, harus diragukan apakah itu doktrin yang benar atau tidak.

Alkitab harus bertemu dengan tindakan nyata. Jadi, yang melegalisir kebenaran itu murni atau tidak, bukanlah pandangan para teolog, bahkan bukan keputusan konsili, tetapi harus Alkitab. Selanjutnya, kebenaran itu harus dibuktikan dengan perilaku riil. Terkait dengan hal ini, setelah kita mempelajari kebenaran-kebenaran melalui proses, akhirnya kita tiba di satu titik, yaitu kita menemukan harga mengikut Yesus. Harganya adalah segenap hidup kita. Karena begitu beratnya harga yang harus dibayar, begitu beratnya syarat yang harus dipenuhi, terkadang gereja menghindar. Tanpa disadari, terjadi penyimpangan di dalam kurun waktu ratusan tahun. Salah satu kompensasinya adalah kehidupan Kristen dijawab dengan uraian doktrinal. Doktrin harus ada, tetapi harus memiliki implikasi konkret; harus ada implikasinya, harus ada penerapannya, apa pun doktrin tersebut.

Gereja mengalami kemerosotan iman yang luar biasa. Kekristenan yang sejati makin tahun, makin lenyap. Orang-orang Kristen hidup di dalam kewajaran. Tuhan Yesus berkata di Lukas 14:33, “tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Apa arti ‘melepaskan dirinya dari segala miliknya?’ Artinya, kalau kita mau jiwa kita selamat, kita harus rela kehilangan dunia ini. Itu harga dari “melepaskan segala sesuatu.” Pesan ini mengandung sebuah konsekuensi yang mahal sekali. Bahwa mengikut Tuhan Yesus itu harus melepaskan segala kesenangan, sehingga kesenangan kita hanya menyenangkan Tuhan. Kurang dari itu, tidak layak. Ironis, banyak orang menganggap ini berlebihan, tetapi kalau suatu hari mereka bertemu dengan Bapa di surga yang kemuliaan-Nya maha dahsyat, mereka baru tahu memang pantas melepaskan segala sesuatu demi kemuliaan tersebut. Namun, mereka sudah terlambat. Di ayat yang lain Tuhan Yesus juga berkata senada, yaitu di Matius 6:19-20, “jangan kumpulkan harta di bumi.” Jadi kalau kita studi, bersekolah, bekerja, itu bukan karena kita mau mengumpulkan harta di bumi. Tentu ini terkait dengan 1 Timotius 6:7-8, karena kita tidak membawa suatu apa, kita juga nanti akan pergi tidak membawa suatu apa. Asal ada makanan dan pakaian, cukup. Suatu saat, ketika orang melihat bencana—tsunami, gempa bumi, badai, kebakaran dimana dalam sekejap gedung pencakar langit hancur, rumah dan mobil hanyut terbawa arus—baru ia mengerti mengapa Tuhan mengatakan, “kamu harus memindahkan hatimu.” Kita harus memindahkan hati kita di Kerajaan Surga; hati kita tidak boleh terikat di bumi ini.

Sebagaimana pemazmur menuliskannya di Mazmur 73:25-26, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Ayat ini mencerminkan orang yang telah memindahkan hatinya di surga. Mereka telah memikirkan perkara-perkara yang di atas, seperti yang diungkapkan Kolose 3:1-3, “pikirkan perkara yang di atas, bukan di bumi.” Ini adalah standar. Maka kita harus memilih Tuhan senantiasa. Dan untuk memilih Dia, kita harus berkenan. Sekarang kita harus bersedia, bahwa ikut Tuhan Yesus itu harus benar-benar menjadi miskin. Kalau tidak miskin, tak bisa. Maksudnya, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, kita tidak berhak memilikinya karena semua harus dipakai untuk kepentingan Tuhan. Kalaupun kita kaya, kita kaya dalam hikmat, dalam pengertian akan kebenaran, dalam kualitas hidup seperti yang Bapa inginkan; yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Hanya orang yang telah memindahkan hatinya di Kerajaan Surga yang memiliki kematian yang bermartabat.

Seseorang dikatakan memiliki iman yang kokoh apabila kesalehannya memancar, kehidupannya tidak melukai orang, dan hidupnya memancarkan kepribadian yang agung, yaitu kepribadian Allah Bapa