Ikatan Perjanjian

Roma 3:4 mengatakan, “Sekali-kali tidak. Sebaliknya, Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong. Seperti ada tertulis: supaya engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang jika Engkau dihakimi.” Kata “pembohong” di dalam bahasa aslinya adalah pseustēs (ψεύστης), yang artinya seorang yang tidak setia, atau juga bisa berarti seorang yang merusak; break, membatalkan, mengkhianati perjanjian. Ketika Adam dan Hawa diciptakan, memang tidak tertulis secara eksplisit—tetapi secara implisit—ada perjanjian bahwa manusia diciptakan untuk melakukan kehendak Allah. Manusia menerima perintah atau mandat untuk mengelola bumi ini, dan memenuhi bumi dengan keturunannya. Ada mandat budaya, dimana manusia harus mengeksplorasi bumi dengan segala kekayaannya, dan ada mandat prokreasi dimana manusia harus berkembang biak dan memenuhi bumi. 

Tetapi manusia tidak boleh makan buah yang terlarang. Sebab kalau manusia makan buah yang terlarang untuk dikonsumsi itu, manusia akan mati. Ketidaksetiaan nenek moyang kita, Adam dan Hawa, merusak perjanjian dan membuat semua manusia jadi pembohong. Manusia, siapa pun, dalam keadaan tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Maka, betapa hebat keselamatan di dalam Yesus Kristus, karena Allah mau membuat kembali perjanjian dengan manusia. Manusia dibenarkan untuk menjadi anak-anak Allah, hendak dikembalikan ke rancangan Allah semula, supaya tidak berkeberadaan rusak. Hendak dikembalikan kepada rancangan Allah semula sebelum Adam memberontak kepada Allah atau mengingkari perjanjian tersebut. 

Maka keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Allah kembali mau mengadakan perjanjian dengan manusia. Dimulai dari pemanggilan Abraham yang akan menurunkan keturunan yang akan menjadi umat pilihan. Perjanjian pertama adalah semua keturunan Abraham harus disunat. Maka, Allah hampir-hampir membunuh Musa karena Musa tidak memenuhi perjanjian ini. Yang kedua, Israel tidak boleh hidup seperti bangsa-bangsa di luar orang Israel—yang mereka kenal sebagai goyim, artinya orang yang bukan umat pilihan—karena mereka memiliki Taurat. Tindakan Allah di Perjanjian Lama dengan sejarah kehidupan umat pilihan merupakan tindakan nubuatan, tindakan profetik untuk umat Perjanjian Baru. Allah mengadakan perjanjian dengan sunat dan pemberian hukum Taurat. 

Bagi umat Perjanjian Baru, juga ada ikatan perjanjian bahwa sejak seseorang menjadi orang percaya, ia tidak lagi memiliki dirinya sendiri (1Kor. 6:19-20; Flp. 1:21; 2Kor. 5:14-15). Yesus telah mati untuk kita, kita semua sudah mati. Jadi kalau kita hidup, kita hidup untuk Dia. Kita menjadi umat pilihan. Kita sudah mati bersama dengan Kristus, tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jadi, kita hanya memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Jadi jangan merasa orang Kristen tidak punya ikatan perjanjian. Percayanya orang Kristen itu bukan hanya dalam keyakinan pikiran, melainkan dalam tindakan juga, dimana orang percaya harus memenuhi ikatan perjanjiannya dengan Allah. 

Orang-orang Yahudi tidak mengenal Kristus karena memang belum ada Injil. Atau setelah ada Injil, banyak mereka yang memang mengeraskan hati. Tetapi jangan lupa, mereka itu memiliki hukum. Mereka berusaha juga melakukan hukum. Sementara agama Kristen itu bukan agama hukum. Kalau agama-agama samawi lain itu memiliki hukum dan sanksi-sanksinya, bahkan hukum yang mengatur ekonomi, syariah ekonomi, politik, sehingga mereka dapat membangun masyarakat keberagamaan berdasarkan hukum-hukum yang mereka miliki atau tatanan yang ada. Tetapi, Kristen bukan agama hukum. Lalu apakah berarti orang Kristen tidak memiliki hukum sehingga boleh liar? Tidak. Orang Kristen memiliki tatanan—ikatan perjanjian dengan Allah—yaitu sunat batin, dan meterai Roh Kudus. Tatanan kita adalah Allah sendiri; “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” 

Roh Kudus pasti memimpin orang percaya untuk hidup dalam standar kesucian Allah. Maka, sunatnya adalah sunat batin. Tatanannya jauh lebih tinggi dari tatanan hukum pada umumnya. Kalau agama Yahudi mengajarkan tentang zina, artinya melakukan hubungan seks di luar nikah. Tetapi kalau bagi orang percaya, melihat lawan jenis lalu mengingininya, itu sudah termasuk berzina. Kalau hukum mengatakan “mata ganti mata, gigi ganti gigi,” kalau orang percaya, batiniah. “Kasihi musuhmu, berbuat baik kepada orang yang menganiaya kamu. Kamu membenci saudaramu, kamu adalah pembunuh.” Makanya menjadi Kristen itu hidupnya tidak bisa terbagi oleh apa pun. Kristen yang benar atau menjadi orang percaya yang benar, hidupnya benar-benar dipersembahkan kepada Allah. 

Jadi kalau mengaku Yesus sebagai Tuhan, kita harus tunduk. Kalau mengakui Yesus sebagai Juruselamat, kita harus masuk dalam proses dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kalau kita meyakini bahwa Yesus telah lahir di kota Betlehem, mengakui perendahan diri-Nya yang begitu hebat, maka patut kita teladani. Dia telah mati di kayu salib dan bangkit, dan kita sudah selayaknya meneruskan karya keselamatan ini sampai ke ujung bumi. Maka, kita mesti menjadi saksi-Nya. Itulah ikatannya. Oleh karena itu, tidak ada orang Kristen yang tidak menjadi hamba Tuhan, kalau ia seorang Kristen yang benar. Tidak ada orang Kristen yang tidak menjadi misionaris, dan tidak ada orang Kristen yang tidak menjadi saksi. 

Orang Kristen memiliki tatanan—ikatan perjanjian dengan Allah yaitu sunat batin, dan meterai Roh Kudus.