Hidup yang Disita

Kita bersyukur bahwa Tuhan semakin menyingkapkan atau membukakan kebenaran-kebenaran firman-Nya kepada kita, yang membuat kita lebih kokoh lagi dalam berkomitmen untuk hidup suci, untuk meninggalkan percintaan dunia, dan haus untuk benar-benar mengalami Tuhan. Pada bulan-bulan terakhir ini, kita—para pecinta Suara Kebenaran—selalu mendengar hal mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kadang-kadang dengan hati yang pedih, dengan hati yang agak kecewa, dengan hati yang menyesal, dan dengan perasaan krisis, kita menemukan banyak orang yang sebenarnya belum mengalami Tuhan. Tentu mengalami Tuhan itu bukan hanya pengalaman, misalnya liturgi, ikut berdoa, berdoa lama di menara doa, bukan itu. Seremonial atau kebaktian, baik itu kebaktian umum, kebaktian keluarga, atau berdoa di ruang doa, itu masih bersifat liturgi, dan sering kali itu masih merupakan satu pengalaman keagamaan, bukan atau belum merupakan pengalaman dengan Tuhan.

Lebih menyedihkan sekarang ini, adanya banyak orang yang belajar teologi merasa sudah mengalami Tuhan, padahal belum. Memang pintar berbicara dan bisa memaknai setiap kejadian atau peristiwa sebagai pengalaman perjumpaan dengan Allah, padahal itu masih pseudo (palsu); masih fantasi. Pengalaman dengan Tuhan itu sesuatu yang benar-benar riil. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, bahwa kalau kita mencari Allah dan kita percaya Allah itu ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia; kita akan benar-benar mengalami-Nya. “Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah bagi orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Sosok yang selalu bisa menjadi acuan orang percaya adalah Abraham. Bagaimana hidup Abraham disita seluruhnya untuk memenuhi panggilan yang Allah berikan kepadanya, yaitu meninggalkan Ur-Kasdim guna menemukan negeri yang Allah akan tunjukkan, walaupun sampai Abraham meninggal ternyata ia belum menjumpai negeri itu. Dan dalam Ibrani 11, ternyata negeri itu adalah langit baru bumi baru. Dari ayat 11-13, kita membaca bahwa negeri itu bukan di bumi ini.

Orang yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, hidupnya akan disita untuk memenuhi panggilan Allah. Yang mencemaskan hati kita, yang membuat gundah adalah banyak orang Kristen masih hidup dalam kewajaran seperti manusia lain dengan prinsip-prinsipnya yang tidak berstandar kehidupan Yesus. Hanya bedanya, orang-orang Kristen itu ke gereja dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi dalam prinsip-prinsip hidup pada umumnya, filosofi yang mereka kenakan tidak beda dengan anak dunia. Sementara itu, banyak teolog dan pembicara di mimbar gereja menggarami jemaat dengan penggaraman yang salah. Mereka mengesankan kalau sudah membicarakan tentang Tuhan, khususnya berteologi, mereka merasa sudah masuk wilayah Allah, dan mereka merasa sudah mengalami Tuhan. 

Kita harus belajar teologi dengan benar, tetapi perjumpaan dengan Allah dalam hidup setiap hari itu yang penting. Dan orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah itu, pasti akan tampak dari tutur katanya, dari karya-karyanya yang nyata bagi sesamanya, bukan hanya dari khotbahnya dan bukan hanya dari paparan teologinya. Dengan adanya media sosial ini, banyak orang yang mengangkat diri melalui keberaniannya berbicara. Padahal, yang dibicarakan itu sudah ada di buku-buku teologi, dan sebenarnya orang Kristen tinggal membacanya sendiri. Mereka membicarakan tanpa “spirit” atau roh yang membakar kehidupan rohani yang dibutuhkan pada masa ini. Mereka tidak mengajarkan bahwa orang percaya hidupnya harus disita oleh Allah dalam panggilan-Nya.

Orang yang benar-benar mencari Allah, hidupnya disita hanya untuk mencari Allah. Jadi, Tuhan itu bukan menjadi tambahan (suplemen); Tuhan itu segenap hidup kita. Maka ketika Tuhan Yesus berkata, “Rezeki-Ku melakukan kehendak Bapa;” atau “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa,” ataumakanan utama-Ku; solid food saya melakukan kehendak Allah,” hidup kita disita untuk itu. Karena kita telah memiliki irama hidup yang salah selama bertahun-tahun, kita merasa punya hak untuk melakukan kegiatan lain, walaupun kegiatan itu belum tentu menyenangkan hati Allah. Kita terbiasa dengan kegiatan-kegiatan itu, maka kita telah terjebak dengan irama yang salah.

Selagi kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, kita harus memperbaiki diri. Segenap hidup kita kiranya disita sepenuhnya untuk Tuhan, yaitu bagaimana kita mengalami Tuhan di dalam setiap keputusan, tindakan, dan dalam pergumulan hidup kita. Melalui pergumulan-pergumulan yang kita alami, kita selalu melakukan kehendak Tuhan. Kalau misalnya kita terpanggil menjadi pendeta, silakan berteologi, silakan berbicara di gereja, di seminar, dan di media sosial, tetapi dengan tutur kata yang baik dan mengubah manusia. Bukan hanya mentransfer knowledge atau pengetahuan yang sudah ada di buku. Kita harus menyampaikan suara Tuhan kepada umat, dan umat benar-benar diubahkan. Itu yang penting.