Hidup dalam Pengharapan

Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal, pasti ia akan berurusan dengan Allah agar karakternya menjadi baik; makin sempurna seperti Bapa, menjadi serupa dengan Yesus. Walaupun penampilan tidak cantik di mata manusia, pendidikan rendah, ekonominya lemah, tidak masalah. Tapi manusia batiniahnya cantik dan mulia, dan bisa diperhitungkan kaya di hadapan Allah. Yang berikut, selain karakter diubah, orang yang menghayati kekekalan, hidup di dalam pengharapan. Pengharapan kita itu apa? Manusia itu hanya menunggu tiga hal: satu, masalah. Dua, sakit atau rentan, makin tua. Tiga, mati. Mau bagaimanapun, kita tidak bisa menghindari ketiga hal tersebut. Makanya kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tragis. Namun sejatinya, ini tidak akan mengurangi kebahagiaan kita, karena kita memiliki pengharapan bahwa hidup di bumi ini akan berlanjut nanti di kekekalan. 

Jadi kalau di bumi ini kita tidak mengalami apa yang orang lain alami—rumah bagus, mobil mewah, perhiasan dan lainnya—sementara kita tidak memiliki apa-apa, tidak apa-apa. Yang ada, kita bisa nikmati. Menjadi nikmat itu bukan ditentukan oleh sesuatu yang dinikmati, melainkan manusianya yang menikmati. Misalnya, orang makan steak mahal. Kalau lidahnya tidak merasa nikmat, tetap saja tidak bisa menikmati. Jika kita makan dalam keadaan kesal, marah, steak mahal pun tidak terasa enak. Tapi kalau hati kita senang, jangankan steak. Ketoprak pinggir jalan yang harganya 10 ribu saja juga bisa menjadi enak. Jadi, semua akan kita rasa enak. Dan percayalah, meskipun kita memiliki uang, bisa membeli steak istimewa, tapi kalau hatinya susah, karakternya jelek, dendam menguasai pikirannya, jadi tidak enak. 

Kita mungkin menghadapi banyak persoalan, tapi ternyata persoalan-persoalan berat yang kita hadapi itu membuat kita semakin meletakkan pengharapan di kehidupan yang akan datang. Kita hidup bukannya di bumi ini, karena di bumi ini hanya sementara. Kita akan hidup lagi nanti di kekekalan, di keabadian. Dalam 1 Petrus 1:13 firman Tuhan mengatakan, “Letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Mengapa harus kita taruh di sana? Sebab kita akan menerima bagian seperti yang ditulis dalam ayat selanjutnya, 1 Petrus 1:4, “Karena kamu menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak layu, yang tersimpan di surga bagi kamu.” 

Kita adalah makhluk kekal yang memiliki pengharapan untuk menikmati kebahagiaan sempurna di kekekalan. Dan ini yang membuat kita bisa merasa bahagia, yang membuat kita merasa benar-benar bahagia. Dan jika ada kebahagiaan melebihi ini, berarti ada sesuatu yang salah. Pasti ada sesuatu yang keliru. Sebab, kebahagiaan kita harus sepenuhnya kita taruh di pengharapan itu. Tidak boleh kita taruh di tempat lain. Kita harus taruh pengharapan kita sepenuhnya di langit baru bumi baru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata di Matius 6:21, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Artinya, pindahkan hatimu. 

Kalau kita merasa bahagia karena memiliki jabatan tinggi, bercita-cita membeli rumah mewah, ingin jalan-jalan ke luar negeri menikmati hidup, sebenarnya kita berkhianat kepada Tuhan. Kita tentu boleh menikmati apa yang Tuhan berikan kepada kita hari ini, tetapi apa pun yang kita dapat nikmati, jangan sampai kita tidak memiliki kebahagiaan di langit baru bumi baru. Hamparan hijau yang tidak bertepi itu harus menjadi kebahagiaan kita. Maka, kita periksa diri, apakah ada yang masih kuharapkan dalam hidup ini? Artinya, apa aku masih mengharapkan ada kebahagiaan dalam hidup ini? Mestinya tidak ada lagi. 

Kita adalah makhluk kekal. Pengharapan kita harus seluruhnya kita taruh di kehidupan yang akan datang. Jangan kita menaruh kebahagiaan di bumi ini. Walaupun kita juga masih bisa menikmati apa pun yang Tuhan berikan, tapi kita tidak ngotot. Tidak makan daging mewah, steak mewah, ketoprak pun enak. Tidak naik mobil mewah, mobil sedang, mobil minibus murah pun enak. Roda dua pun juga enak. Tidak tinggal di rumah mewah; tinggal di rumah kecil, kontrakan pun haleluya. Di sini kita memuliakan Tuhan, menyanjung Tuhan. Mari kita finishing well, kita pulang bersama. 

Orang yang menghayati kekekalan, hidup di dalam pengharapan.