Hidup Berkelimpahan

Pada dasarnya, hidup dalam kelimpahan atau hidup dalam kebahagiaan yang berkualitas tinggi adalah ketika seseorang ada dalam persekutuan dengan Allah. Jalan satu-satunya untuk hidup dalam kelimpahan ini hanyalah Yesus. Hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan oleh Tuhan di dalam firman-Nya—yaitu dalam Yohanes 10:10—hanya dimiliki oleh orang yang hidup sesuai dengan kehendak Allah. Yesus berkata: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Kata “datang” dalam teks aslinya tertulis erchomai (ἔρχομαι), yang bukan saja berarti come (datang menghampiri), melainkan juga berarti accompany (bersama-sama dalam suatu tujuan). Kata erchomai menunjukkan bahwa “datang kepada Bapa” berarti kebersamaan dengan Bapa dalam persekutuan pribadi yang indah. Itulah sebabnya, pengertian “datang” dalam teks ini tidak boleh diartikan sekadar masuk surga, seperti yang dipahami banyak orang. “Datang kepada Bapa” mempunyai pengertian yang dalam. 

Banyak orang Kristen telah terjebak dalam pengertian dangkal memahami kata “datang kepada Bapa.” Pengertian “datang kepada Bapa” bisa dipahami dengan benar bila kita menghubungkan dengan pengertian keselamatan secara benar. Keselamatan bukan hanya membuat orang percaya diperkenan masuk surga, melainkan juga dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dalam Kerajaan-Nya. Untuk dipermuliakan, seseorang harus memilki kualitas hidup yang tinggi. Orang percaya bukan hanya menjadi anggota masyarakat di Kerajaan Surga, melainkan menjadi pejabat-pejabat dalam pemerintahan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka yang menderita bersama-sama dengan-Nya akan duduk bersama dalam kemuliaan-Nya. Untuk maksud ini, yaitu dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, harus diselenggarakan proses pendewasaan atau penyempurnaan agar orang percaya hidup dalam kelimpahan yang benar, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Allah. Proses inilah yang membawa orang percaya dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, sebab Allah menghendaki orang percaya kudus seperti diri-Nya. Hanya orang yang kudus seperti Dia yang dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah. 

Dewasa ini, sangat sedikit orang yang mengalami hidup berkelimpahan tersebut. Ini berarti lebih banyak orang yang tidak memahami kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Keadaan inilah yang membuat banyak orang Kristen menganggap kekristenan sama dengan agama-agama lain. Mereka juga tidak berusaha mengadakan perburuan terhadap kebenaran dengan sungguh-sungguh. Biasanya, mereka sudah merasa puas dengan pengetahuan Alkitab yang telah mereka miliki dan hidup kekristenan rutin yang mereka telah jalani. Pada dasarnya, orang-orang ini belum mengerti dan belum pernah mengalami indahnya hidup dalam kelimpahan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tidak heran mereka sangat mudah menyangkali iman dan berpindah agama.

Orang percaya harus berkeputusan untuk memilih Tuhan Yesus, bukan dunia, demi memeroleh kehidupan yang berkelimpahan tersebut. Pada zamannya, murid-murid Tuhan Yesus dipandang sebagai orang-orang bodoh. Mereka meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus. Mereka begitu berani mempertaruhkan seluruh hidup mereka demi mengikut Yesus. Pada akhirnya, terbukti bahwa keputusan mereka tidak salah. Semua penderitaan yang mereka alami tidak sia-sia, mereka menjadi orang terkemuka di Kerajaan Surga. 

Seperti keputusan murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu dengan berani mengikut Yesus, demikian pula kita harus berani mengikut gaya hidup Yesus. Kita harus percaya bahwa tidak ada hidup yang berkelimpahan di luar Tuhan Yesus. Dunia dengan segala keindahannya tidak akan dapat memuaskan jiwa kita. Kalau seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada fasilitas dunia ini dan merasa bisa dibahagiakan oleh dunia, itu berarti perasaan yang sesat. Kebahagiaan kita adalah kalau hidup dalam persekutuan dengan Allah. Dalam persekutuan dengan Allah, kita mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa untuk kita lakukan. Menjadi kesenangan kita kalau dapat melakukan kehendak Allah. Sehingga, kita sendiri tidak memiliki kesenangan apa pun selain “hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa.” Inilah hidup yang berkelimpahan itu. Jika seseorang hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar, ia akan selalu berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Demi kesukaan hati Bapa, apa pun ia akan lakukan. 

Oleh karena keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia menjadi segambar dengan diri-Nya agar dapat memiliki persekutuan dengan Allah, maka proses keselamatan ini tidak akan dapat terselenggara tanpa Yesus Kristus. Hanya dengan beriman kepada Yesus Kristus, seseorang menerima kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. “Kuasa” di sini adalah adalah potensi untuk dapat sempurna seperti Yesus. Hanya Tuhan Yesus melalui Roh Kudus yang dapat mendidik seseorang dapat sampai kepada kehidupan berkelimpahan, artinya hidup dalam persekutuan dengan Allah agar layak dipermuliakan bersama dengan Yesus.