Hati yang Bersih

Saudaraku sekalian yang terkasih,

Saya ingatkan bahwa hidup kita itu singkat. Singkat sekali, hanya 70-80 tahun. Singkat sekali disbanding dengan kekekalan, tidak ada artinya. Jadi memang, kita hidup ini hanya untuk bersiap-siap masuk kehidupan yang akan datang. Sekarang masalahnya, apakah Saudara percaya atau tidak bahwa ada kehidupan yang akan datang? Saudara percaya atau tidak bahwa kita memang akan menghadapi pengadilan dan akan menghadapi kenyataan surga kekal atau neraka kekal? Kalau Saudara yakin kenyataan atau realitas itu, mestinya kita takut akan Allah. Tidak ada yang lebih indah, tidak ada yang lebih mulia dalam hidup ini dari orang yang bersih dalam berpikir. Harus bersih dalam berpikir. Jangan ada kebencian, jangan ada dendam, jangan ada sakit hati. Kita buang. Walaupun kita ditikam, disakiti, dilukai, dijahati, dikhianati, dirugikan; disiksa batin dan mental kita; kita tidak usah dendam. Semua ada perhitungannya. Kalau kita dendam, kita berdosa.

Makin berat pergumulan kita, kalau kita bisa menang maka makin tinggi level kita. Kalau kita hanya bisa melompati 20 centimeter, itu masalah kecil. Kalau kita bisa lompat tembok 2meter itu baru luar biasa. Kalau hanya bisa berenang di kolam renang yang dalamnya cuma 120centimeter itu bukan luar biasa. Tetapi kalau bisa berenang di lautan bebas dengan gelombang setinggi 2meter, baru hebat. Di situ kita dilatih untuk memiliki otot-otot yang kuat. Saudara berjalan di tiupan angin yang sepoi-sepoi, itu nyaman; tapi kalau menghadapi badai, namun Saudara bisa tetap tegak berdiri dan berjalan ke depan, itu luar biasa. Jadi kita bersyukur. Yang penting kita bisa hidup dari hari ke hari; ke depan kita jalani saja. Kita mungkin masih gelisah, bagaimana kontrak rumah, uang sekolah anak dan lain-lain, jalani saja.

Yang terutama adalh kita harus menjadi orang yang menyenangkan hati Allah. Menyenangkan hati Allah tidak membutuhkan uang, tidak membutuhkan pendidikan tinggi, tidak membutuhkan fasilitas, tidak membutuhkan materi, tidak membutuhkan penampilan apa pun. Yang dibutuhkan adalah hati yang bersih, hati yang tulus. Ayo, kita belajar punya hati yang bersih, hati yang tulus. Kita akan menghadapi banyak hal, yang membuat kita murka, marah; jangan marah, jangan murka. Kita menghadapi kesulitan-kesulitan keuangan di depan; ya kita hadapi. Besar masalah-masalah yang kita hadapi. Di situ kita dilatih memiliki iman yang kuat, iman yang teguh. Perjalanan bangsa Israel itu memberi gambaran kepada kita. Ketika Allah membawa bangsa Israel melewati dua lembah, dua tebing tinggi, dan di depannya laut, mereka tidak bisa lari ke kanan atau ke kiri, mereka hanya bisa masuk ke laut. Tetapi akhirnya mereka bisa membelah Laut Kolsom. Jadi benar, memiliki Tuhan berarti memiliki segalanya. Tidak ada yang mengkhawatirkan kita. Kalau masih merasa khawatir—kkawatir yang salah—berarti kita melecehkan kebesaran Allah, kita menghina kebesaran Allah, melecehkan kuasa-Nya.

Dari penderitaan ke penderitaan kita lewati, tetapi Allah itu hidup, nyata. Kita tidak boleh mundur. Sudah terlanjur jalan sejauh ini. Kita meng-update Allah, artinya, bagaimana tindakan-tindakan Allah yang besar di zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru bisa kita alami hari ini. Tujuan kita cuma langit baru bumi baru, kita jalani, kita lewati bersama. Kita bergirang, kita bersukacita di dalam Tuhan apa pun yang sedang kita alami. Banyak kesulitan, banyak masalah, banyak kebutuhan yang belum terpenuhi, kuatkan hatimu.

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Menyenangkan hati Allah tidak membutuhkan uang, tidak membutuhkan pendidikan tinggi, tidak membutuhkan fasilitas, tidak membutuhkan penampilan, tetapi yang dibutuhkan adalah hati yang bersih, hati yang tulus.