Harus Dewasa Mental Dulu

Banyak orang di luar gereja menjadi tabah dalam menerima realitas hidup daripada sebagian orang Kristen. Mereka tidak menjadi manja menghadapi ganasnya kehidupan ini. Mereka menerima keadaan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, sehingga menerima saja dengan pasrah dan rela. Kesulitan-kesulitan dan berbagai problem berat bagi mereka, tidak lagi menjadi berat. Melalui keadaan itu, mereka berlatih menjadi dewasa mental. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang menjadi manja dalam menghadapi kehidupan ini. Mereka berharap keadaan selalu sesuai dengan keinginan mereka. Mereka tidak bisa menerima keadaan yang menurut mereka tidak menyenangkan. Kepicikan pikiran mereka karena kerentanan mereka, juga dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya adalah ajaran mengenai Allah yang berkuasa dan baik yang ditawarkan dapat selalu menghindarkan orang percaya dari berbagai problem kehidupan. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang secara mental saja tidak bertumbuh menjadi dewasa, apalagi kedewasaan secara rohani. Tuhan memang baik dan berkuasa, tetapi bukan berarti kebaikan dan kuasa Tuhan dapat dimanfaatkan untuk menghindarkan diri dari problem. Justru, problem merupakan berkat Tuhan untuk mendewasakan manusia. 

Mestinya orang percaya memiliki kedewasaan mental yang lebih, dan kedewasaan rohani yang juga jauh lebih baik dibanding mereka yang yang bukan umat pilihan. Kedewasaan mental adalah kedewasaan yang bertalian dengan kemampuan seseorang bermasyarakat dan beradaptasi dengan lingkungan dan kecerdasan menghadapi hidup dengan persoalan-persoalan umum. Sedangkan, kedewasan rohani itu, selain memiliki kedewasaan mental, juga memiliki kecerdasan roh, yaitu kemampuan untuk bisa mengerti dan melakukan kehendak Allah sehingga dapat hidup berkenan di hadapan-Nya. Kalau jemaat diajar bahwa menjadi orang Kristen berarti memiliki hak istimewa untuk mendapat kemudahan hidup, yaitu dijauhkan dari problem-problem hidup, maka mereka tidak pernah menjadi dewasa mental. 

Seorang Kristen tidak akan pernah menjadi dewasa rohani kalau belum dewasa mental. Pertumbuhan kedewasaan mental dan rohani bisa berlangsung bersama, tetapi kedewasaan mental adalah level awal. Seorang yang memiliki kedewasaan mental belum tentu dewasa rohani, tetapi seorang yang dewasa rohani pasti dewasa mental. Padahal, problem hidup adalah bagian dari “berkat Tuhan,” yang di dalamnya, orang percaya diproses untuk menjadi dewasa. Problem bisa menjadi bagian dari nutrisi jiwa yang dapat mendewasakan rohani orang percaya. Orang percaya yang dewasa akan memandang bahwa kesukaran hidup adalah nutrisi jiwa yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Gereja yang mengajarkan bahwa orang percaya dapat dengan mudah dibebaskan dari berbagai persoalan hidup, berarti merusak mental dan kerohanian jemaat. Orang percaya harus mengerti bahwa pencobaan-pencobaan hidup dialami setiap orang atau semua manusia, bukan hanya orang percaya (1Kor. 10:13). 

Seharusnya, orang percaya memiliki keadaan hidup (mental dan spiritual) yang lebih baik daripada mereka yang tidak percaya. Selain kedewasaan mental orang percaya yang mengalami pertumbuhan, secara rohani pun orang percaya mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan rohani inilah yang membuat orang percaya bermental seperti Bapanya. Ini pasti sebuah kualitas kerohanian atau mental yang luar biasa atau sempurna. Problem dan masalah kehidupan tidak boleh dipahami sebagai hal yang negatif yang dapat mengurangi ketenangan dalam jiwanya. Problem adalah berkat untuk kedewasaan rohani, sedangkan masalah adalah berkat untuk upah dalam kekekalan. Justru ketenangan orang percaya tumbuh ketika ia harus bergumul dengan problem. Problem yang dialami seseorang menunjukkan bahwa Tuhan masih memperhatikannya. Sebab dengan memberi problem guna penggarapan untuk pedewasaan, menunjukkan bahwa Tuhan telah menunjuknya sebagai umat pilihan yang khusus. 

Perjalanan hidup di bumi yang singkat ini adalah kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah yang layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan proses pendewasaan yang harus berlangsung sepanjang waktu dalam hidup kita. Tuhan mendewasakan melalui problem-problem hidup konkret yang melibatkan pikiran, perasaan, dan kehendak kita. Problem-problem yang mendewasakan kita tersebut bisa melalui peristiwa-peristiwa yang luar biasa yang dapat menggetarkan atau menggoncangkan jiwa. Bagi orang percaya yang mengerti kebenaran ini, tidak akan terkejut kalau ada sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidupnya, sebab itu berarti Tuhan sedang menggarapnya agar terjadi perubahan.

Tuhan bukan Pribadi yang suka menyakiti anak-anak-Nya. Tetapi, Tuhan “harus menyakiti atau memukul anak-anak-Nya” demi perubahan dan keselamatan mereka. Dalam hal ini, Tuhan tidak bekerja sendiri untuk mendewasakan kita. Kita harus terus bergerak, mengikuti irama Allah untuk memperoleh atau mengalami perubahan-perubahan. Tidak ada satu hari dimana kita tidak menerima penggarapan Tuhan untuk mendewasakan kita.