Hanyut dalam Satu Ambisi

Saudaraku sekalian yang kekasih,

Salah satu yang merusak hubungan kita dengan Tuhan adalah: yang pertama, ketika kita hanyut dengan sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa kesenangan-kesenangan, hobi, semangat materialisme, ingin memiliki barang ini barang itu, benda ini benda itu, atau ingin memiliki harta atau uang yang banyak atau uang sedikit. Yang kedua, persoalan atau pergumulan atau problem. Persoalan atau pergumulan itu bisa menghanyutkan kita. Kekecewaan, sakit hati, dendam, penyesalan yang berlebihan. Kita tidak bisa menghindari penyesalan untuk hal-hal umum, tetapi kita jangan terhanyut dan tenggelam. Tetapi penyesalan terhadap dosa, terhadap kesalahan itu harus ada, namun itu pun tidak boleh menghanyutkan kita. Mengapa kita tidak boleh hanyut? Sebab kita harus hanyut oleh satu ambisi atau keinginan saja, yaitu bagaimana kita bisa mendapat pengakuan dari Allah: “Inilah anak-Ku yang Kukasihi kepadanya Aku berkenan.” 

Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya agar kita tidak hanyut? Ini tergantung Saudara. Karena banyak orang ingin tidak hanyut tetapi dengan cara mudah. Tidak bisa! Kita berdoa minta pertolongan Tuhan supaya tidak terhanyut dalam sesuatu hal, namun kita sepertinya tidak mendapat jawaban karena itu wilayah hidup kita, itu tanggung jawab kita. Kita punya persoalan, kita harus belajar mengatakan ‘tidak masalah.’ Demikian juga kita jangan tenggelam dalam keinginan-keinginan. Sebab itu kita harus memindahkan ambisi kita, obsesi kita, cita-cita kita kepada satu hal saja, yaitu bagaimana kita bisa mendapat pengakuan dari Allah bahwa kita adalah anak-Nya yang berkenan kepada-Nya. Itu mutlak sekali!

Tidak bermaksud menyamakan diri dengan Yesus, tetapi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Yesus pada waktu Tuhan Yesus menjadi manusia dengan persoalan saya beda. Tuhan Yesus bisa menyelesaikan semua persoalan-Nya, Dia bisa mencapai satu level dari pergumulan hidup itu, sehingga Ia berkenan kepada Allah. Saya punya persoalan lebih kecil, pergumulan saya lebih ringan, itu pun harus saya lewati. Sampai kita mendapat pengakuan, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi kepadanya Aku berkenan.” Jangan Saudara ditipu oleh teologi yang mengatakan bahwa keberkenanan Allah Bapa kepada Tuhan Yesus itu otomatis kita miliki, “Tidak!” Yesus berkata, “Kamu harus menang seperti Aku menang, kamu harus setia seperti Aku setia.” Artinya kita juga mendapat bagian, agar kita memiliki pikiran perasaan Kristus. Itu menunjukkan bahwa kita juga ada bagian. 

Kalau kita memiliki ambisi yang kuat untuk hal ini, kita bisa tidak hanyut dengan berbagai kesenangan dunia dan masalah-masalah hidup. Dan jangan kita melihat orang dari pengalaman atau perbuatan masa lalunya. Kalau dia bertobat, Allah mengampuni; siapa kita membangkit-bangkitkan? Tuhan berurusan dengan dia hari ini, bukan urusan masa lalu, dan Tuhan mau menjadikan dia apa nanti, kita pun juga memandang begitu. 

Kita bersyukur kalau hari ini—Minggu, 28 November 2021—kita berkesempatan untuk mulai lagi menjaga perkataan, menjaga sikap, dan perbuatan-perbuatan yang tidak patut tidak kita lakukan. Kita mau mendapat pengakuan itu seperti pengakuan Allah Bapa kepada Tuhan Yesus di Matius 3:17, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan.” Paulus pun mengatakan di 2 Korintus 5:9-10, “Aku berusaha untuk berkenan kepada Allah.” Mari kita berambisi untuk berkenan. Jangan ada ambisi lebih besar dari ini. Semua yang kita lakukan hanya untuk mencapai target ini, mendapat pengakuan dari Allah Bapa bahwa kita adalah anak yang berkenan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kita harus hanyut dalam satu ambisi saja, yaitu bagaimana kita bisa mendapat pengakuan dari Allah:

“Inilah anak-Ku yang Kukasihi kepadanya Aku berkenan.”