Dunia Sudah Rusak

Karakter manusia yang sudah rusak tidak mungkin bisa menikmati segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah secara proporsional. Sangatlah logis kalau segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, dirancang untuk manusia yang mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk makhluk yang memberontak kepada-Nya. Ketika manusia berdosa kepada Penciptanya, segala sesuatu menjadi rusak. Walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa dan bumi terkutuk, manusia masih bisa menikmati segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, tetapi kenikmatannya terbatas atau tidak ideal. Kalau ciptaan Allah yang dirancang untuk manusia yang mengabdi kepada Tuhan bisa dinikmati secara ideal oleh manusia yang tidak mengabdi, berarti Tuhan dapat dilecehkan atau Tuhan melecehkan diri-Nya sendiri. Berkat jasmani seperti makan dan minum, dapat dinikmati manusia secara terbatas. Dengan keadaan keberdosaan manusia, maka manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan secara ideal di bumi yang sudah rusak ini. 

Kalau kita menyadari bahwa bumi ini bukanlah tempat ideal untuk dihuni atau untuk menikmati ketenangan yang sejati, maka kita berusaha memercayai apa yang Tuhan katakan mengenai langit baru dan bumi baru, serta untuk mengarahkan pandangan kita kepada dunia yang akan datang tersebut. Dalam hal ini, orang percaya yang benar akan selalu merindukan langit baru dan bumi baru di mana tidak terdapat penderitaan, baik penderitaan bagi dirinya, juga bagi orang lain. Menujukan hidup kepada kehidupan yang akan datang menjadi pilihan satu-satunya. Dengan demikian, kita memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 6:21). Semakin menujukan hati ke Kerajaan Surga, semakin dijauhkan dari percintaan dunia, semakin tidak mengharapkan ketenangan dan kebahagiaan dari dunia ini. 

Hari ini, pada umumnya manusia sudah terhanyut dalam pola hidup manusia yang orientasinya kenikmatan dan kenyamanan di bumi sekarang ini. Hampir semua manusia berusaha untuk dapat meraih sebanyak-banyaknya yang dapat diraih dari dunia hari ini, dengan harapan bisa menikmati kebahagiaan dan ketenangan. Tuhan pun dilibatkan hanya untuk bisa mencapai yang dicita-citakan. Semua ini merupakan gerak manusia yang tertawan oleh keindahan dunia. Sehingga, banyak manusia, termasuk orang-orang Kristen, yang terjebak dalam belenggu kuasa gelap menuju api kekal. Malangnya, mereka tidak menyadarinya sama sekali. Orang-orang Kristen yang mengasihi dunia ini sebenarnya menjadikan dirinya musuh Allah. Mereka menjadi mangsa kuasa gelap, dan tidak pernah menjadi anak-anak Allah yang mengabdi kepada Bapa secara benar.

Orang Kristen yang masih mencari kebahagiaan di bumi, tidak bisa dibentuk oleh Allah menjadi anak-anak-Nya yang serupa dengan Yesus. Mereka tidak bisa dipersiapkan masuk dunia yang akan datang sebagai anak-anak Allah. Mereka yang masih mengharapkan dapat menikmati ketenangan dan kebahagiaan dari dunia ini, pasti menjadikan dunia ini sebagai kerajaannya. Mereka tidak bisa mengabdi kepada Allah. Orang percaya yang benar, memercayai bahwa hanya di dunia yang akan datang manusia dapat menikmati Allah dan segala yang diciptakan-Nya secara proporsional. Oleh sebab itu, sementara hidup di dunia, yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri agar layak masuk Kerajaan Allah sebagai anggota keluarga Kerajaan. 

Hidup di atas muka bumi yang sudah terkutuk dan yang sudah rusak ini, kita tidak akan pernah menemukan tempat domisili yang ideal. Tuhan tidak akan pernah membangun Kerajaan-Nya di bumi ini. Manusia tidak akan pernah dapat menemukan kenyamanan di bumi. Tidak pernah Alkitab menyatakan bahwa bumi yang terkutuk ini akan dipulihkan, dan menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Suatu hari nanti, bumi pasti dimusnahkan menjadi lautan api, dan manusia yang hidup dalam kejahatan, akan dibinasakan. Oleh sebab itu, hidup di bumi ini harus dipandang sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri guna memiliki kehidupan yang akan datang, bukan untuk menetap dan menikmatinya seperti anak-anak dunia. Bumi ini bukanlah pelabuhan dimana manusia memiliki perhentian. Pelabuhan kita hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya yang akan datang

Oleh karena bumi ini telah terkutuk dan bukan rumah orang percaya, maka orang percaya tidak boleh menikmati dunia hari ini, sama seperti orang yang tidak mengenal Allah. Fokus kita adalah bagaimana kita mengalami proses perubahan cara berpikir sehingga kita bisa selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Orang yang mencapai tujuan ini, suatu hari akan diangkat dari dunia ini masuk ke dalam Kerajaan-Nya sebagai putra-putri Allah. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh mengharapkan ada kebahagiaan yang ideal yang dapat kita peroleh di dunia ini. Sebab, kalau seseorang berpikir bahwa di bumi ini bisa menikmati kebahagiaan, maka berarti berkhianat kepada Kerajaan Surga dan Tuhan sendiri. Orang-orang yang masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, tidak pernah bisa setia kepada Tuhan.