Dua Sudut Pandang

Tuhan melindungi orang-orang yang Dia kasihi dengan cara membawanya kepada keadaan sulit; mengalami kesulitan. Melalui hal itu, orang-orang yang dikasihi Tuhan mendapat kemuliaan. Artinya, kehidupannya diubah; kemuliaan di mata Allah. Ia menjadi seorang yang hanya mengingini Tuhan, berarti mati bagi dunia dan hidup bagi Allah. Keadaan sulit yang kita alami dalam hidup, bisa seperti ombak atau seperti gelombang besar yang tidak hanya bisa membawa kita ke lautan yang lebih dalam, namun juga bisa membawa kita ke pantai. Jadi, mestinya dengan berbagai kesulitan hidup yang kita alami, kita sampai pada apa yang juga dialami oleh pemazmur yaitu mengingini Tuhan saja. Berkomitmen untuk hidup suci dan tidak mencintai dunia. Kita harus berani membelenggu, mengikat diri kita dengan komitmen.

Di sini kita sangat bisa mengerti kalau gereja perdana atau gereja mula-mula pada abad pertama dibawa Tuhan kepada penganiayaan. Kalau mereka tidak mengalami penganiayaan, sangatlah mudah bagi mereka meninggalkan iman yang murni. Di samping itu, mereka merindukan kekekalan, yaitu Rumah Bapa. Merindukan dimuliakan bersama Yesus. Jadi, penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Kristen mula-mula atau Kristen perdana ini mengondisi mereka lebih mengumpulkan harta di surga. Penganiayaan menjadi berkat abadi bagi mereka. Itu bentuk pemeliharaan Allah atau bentuk dari perlindungan Tuhan atas kehidupan iman mereka. Memang mereka kehilangan ketenangan dan kesejahteraan hidup di bumi, tetapi mereka mendapat ketenangan dan kesejahteraan yang lebih atau yang sangat sempurna di kekekalan. Itu yang harus kita suarakan dalam jiwa kita. Demi melindungi iman atau keselamatan kekal kita, Tuhan mengorbankan ketenangan dan kesejahteraan hidup kita di bumi.

Oleh sebab itu, kita harus memandang hidup ini dengan segala fenomenanya dari sudut pandang yang benar; benar menurut Alkitab. Mestinya kita memandang segala sesuatu dengan sudut pandang berdasarkan: pertama, terkait dengan perasan Allah dan kehendak Allah. Kedua, pertimbangan kekekalan. Sudut pandang ini artinya apa pun yang terjadi dalam hidup kita, harus kita anggap tidak masalah, selama itu dalam kehendak Allah dan berguna untuk kekekalan kita. Dengan sudut pandang ini, kita bisa menerima apa pun yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita. Tapi kita mengerti betapa sulitnya mengubah cara berpikir seseorang untuk dapat memiliki sudut pandang ini. Karena cara berpikirnya sudah salah, selera jiwanya sudah menyimpang. Mengapa begitu? Karena percintaan dunia sudah sangat kuat mengikat. Percintaan dunia adalah kesenangan hidup yang dibangun dari fasilitas materi dunia dan segala hiburannya, sehingga orang tidak lagi berkerinduan pulang ke Rumah Bapa. Karena hal tersebut, banyak orang Kristen tidak memiliki pertimbangan terkait dengan kehendak Allah atau perasaan Allah dan kekekalan ini.

Dalam Alkitab, kita membaca ucapan Yang Mulia Tuhan Yesus ketika melihat Yerusalem, menangisi Yerusalem, “Wahai, jika engkau tahu apa yang perlu bagi sejahteramu. Wahai, betapa baiknya kalau kamu tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu.” Tetapi Yerusalem tidak mengerti. Mereka mengelu-elukan Tuhan Yesus dengan kata “Hosana, hosana” dengan maksud supaya Yesus memenuhi keinginan mereka, yaitu membebaskan mereka dari perbudakan politik. Padahal, Tuhan Yesus mau membebaskan mereka dari perbudakan dosa. Mereka tidak memiliki frekuensi yang sama dengan Tuhan. Maka, jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang berbeda frekuensi. Jadi, ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, kita menemukan ternyata Tuhan memang menghendaki demikian supaya Ia dapat memperbaiki hidup kita, demi kekekalan kita.

Jadi, betapa berbahayanya di lingkungan gereja dalam kehidupan para pembicara, kalau terjadi pergeseran. Dari kebenaran Firman Tuhan yang seharusnya mengarahkan cara berpikir guna membangun sudut pandang yang benar untuk menjadikan orang Kristen sebagai pelaku kehidupan anak Allah, bergeser menjadi nalar yang hanya mengotak-atik isi Alkitab demi doktrin atau hal-hal yang bersifat doktrin. Namun faktanya memang telah terjadi hal ini. Kesucian hidup yang harusnya menjadi pilar hidup kekristenan, digantikan persetujuan doktrin. Seakan-akan kalau doktrin yang dimiliki seseorang itu dianggap benar berdasarkan keputusan teolog-teolog yang lebih banyak atau berdasarkan keputusan-keputusan konsili, maka kehidupan Kristianinya benar. Mestinya, otoritas kebenaran adalah Alkitab, bukan pandangan teolog manapun. Bukan keputusan konsili kapanpun. Bukan berdasarkan keputusan para teolog dan konsili, melainkan berdasarkan kebenaran Alkitab yang buah kehidupannya bisa dibuktikan hari ini. Dalam hal ini, bukan berarti doktrin tidak perlu. Doktrin harus diselenggarakan dengan cara berpikir seperti ini; cara berpikir yang membangun sudut pandang yang benar tersebut.

Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, harus kita anggap tidak masalah, selama itu dalam kehendak Allah dan berguna untuk kekekalan kita.