Dua Kepribadian

Menjadi anak-anak Allah bukanlah suatu hal yang sederhana. Bertahun-tahun—belasan, bahkan puluhan tahun—kita mungkin menjadi orang Kristen yang tidak mengerti bagaimana menjadi anak-anak Allah. Jangan-jangan, banyak pendeta juga belum menyadarinya secara penuh. Walaupun kita sering mendengar bahwa menjadi anak Allah itu bukan sekadar status melainkan keberadaan, namun pada waktu kita mendengarnya, pengetahuan kita tentang kebenaran terkait dengan hidup sebagai anak-anak Allah belumlah lengkap. Makanya kita masih saja sering meleset atau lebih banyak melesetnya. Untuk menjadi anak-anak Allah, kita harus menemukan kebenaran yang membangun gambaran hidup bagaimana menjadi anak-anak Allah itu. Menemukan kemuliaan, keagungan, kesucian, keluhuran anak-anak Allah. Sejatinya, pasti Tuhan nanti akan menolong kita. Roh Kudus pasti tolong kita menemukan sosok itu. Itulah Sosok Kristus, sosok yang diurapi.

Dengan menemukan kebenaran ini, kita bisa mengerti gambaran sosok anak-anak Allah—yang tentunya gambaran itu akan terus progresif atau bertumbuh makin jelas—sekaligus kita juga akan menemukan sosok manusia lama kita, yaitu kita sendiri. ‘Si aku’ yang dibangun sejak kecil oleh lingkungan, oleh dunia; dengan segala keinginan, hawa nafsu, dan berbagai kehausannya. Kita harus bisa melihat dengan jelas dua sosok yang berbeda ini. Dimulai dari setiap keinginan yang muncul di dalam hati dan pikiran kita. Baik keinginan yang berangkat dari daging kita, atau pun dari jiwa kita yang sudah diasuh oleh dunia. Di sisi lain, kita juga menemukan keinginan-keinginan yang dibangun oleh kebenaran. Di situ terjadi friksi (benturan).

Di dalam Roma 7, firman Tuhan mengatakan bahwa, “tidak mungkin orang yang hidup dalam daging itu berkenan kepada Allah.” Jadi, selama kita masih mengikuti keinginan-keinginan ‘si aku’ ini, tidak mungkin kita berkenan dan tidak mungkin kita bisa menjadi anak-anak Allah. Maka, kita harus mengikuti kehendak Roh. Dan Paulus mengatakan di dalam Roma 8:12, “kita berhutang untuk hidup menurut Roh karena kita sudah dibeli dengan harga yang lunas dibayar.” Demikian pula dalam 1 Korintus 6:19-20, “Bahwa kita bukan milik kita sendiri kita harus hidup menurut Roh bukan menurut daging, kalau menurut daging kita tidak akan berkenan, dan tidak pernah kita menjadi anak Allah.” Memang, kita berkenan bukan oleh kekuatan kita sendiri melainkan oleh kekuatan Tuhan. Untuk itu, kita harus menemukan perangkat agar kita berkenan di hadapan Tuhan sebagai berikut:

Pertama, oleh darah Yesus. Kita adalah orang berdosa, jelek, jahat, pemberontak. Tetapi oleh kurban Yesus, kita diampuni, kita berkenan di hadapan Allah. Tetapi kita belum benar-benar berkenan dalam arti keadaan kita ini belum berkenan. Kita dibenarkan, dianggap benar, karena darah Yesus. Tetapi keadaan kita yang benar-benar benar, harus kita perjuangkan.

Kedua, oleh Firman atau Injil yang menyelamatkan; Firman itu menguduskan. Bagaimana caranya? Kalau kita membaca dan kita menaatinya, maka itu membentuk, membangun karakter kita. Sebab dengan mengenal kebenaran, kita bisa menemukan satu sosok bagaimana menjadi anak-anak Allah, yaitu keagungan, kemuliaan, keluhuran, kesucian anak-anak Allah. Maka ada firman yang mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu.” Artinya ubah dirimu, tentu oleh anugerah Allah, yaitu Roh Kudus dan Firman. Dan Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Mungkin kita memang tidak terlibat dalam dosa-dosa besar atau kejahatan moral, tetapi ada kesombongan terselubung, ada kehausan untuk dipuaskan; pujian, sanjungan, kehormatan, yang kalau dilukai membalas dendam, menuntut minta dipuaskan. Belum lagi seks, kedudukan, kuliner, dan lain sebagainya. 

Masalahnya, kalau orang sudah keburu tua, susah berubah. Ibarat raksasa, sudah kawakan, sudah tua, sudah mencengkeram, sukar ditumbangkan. Tetapi bisa. Kalau kita sudah melihat jelas dua sosok ini, baru kita bisa memilih; Tuhan atau dunia. Namun, sudah melihat dua sosok kita masih bisa gagal, maka jangan main-main. Sudah tahu ini salah, tetapi karena dorongan dan tidak sanggup mengendalikan diri, maka kita masih bisa salah. Yang sadar saja belum tentu menang, apalagi yang tidak sadar. Apalagi ditambah dengan pengajaran yang salah dimana slogan “kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik” diartikan keliru. Biar jahat juga selamat, atau “kita ditetapkan sudah selamat.” Orang percaya diposisikan untuk tidak perlu memiliki perjuangan.

Sejatinya, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah Bapa? Seperti Allah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan dan membangun kerajaan Israel, itu paralel atau bisa menjadi gambaran hidup kita hari ini. Kita dipanggil keluar dari dunia menjadi orang-orang saleh yang nanti akan masuk Kerajaan Tuhan Yesus. Bangsa budak yang tidak berbudaya, yang liar, primitif, dibimbing Tuhan dengan memberi Taurat yang membuat mereka cerdas dan membangun kerajaan Israel. Kita juga manusia berdosa yang jahat, yang bejat, yang kotor, kita keluar dari dunia yang gelap, diberi Injil untuk bisa diubah. Maka, kerjakan keselamatan kita. Ikut Tuhan itu berat. Yang berat itu bukanlah persoalan ekonomi, kesehatan, jodoh atau yang lain. Yang berat adalah menjadi kudus; tidak bercacat, tidak bercela, menjadi orang yang lemah lembut, rendah hati, mengalah, tidak mau ribut seperti domba kelu dibawa ke pembantaian.

Dengan menemukan kebenaran, kita bisa mengerti gambaran sosok anak-anak Allah dan sosok manusia lama kita, dua kepribadian yang saling bertentangan.