Dinikmati Tuhan

Kita harus mengalami proses kesempurnaan seperti Bapa atau keserupaan dengan Yesus, agar kita dapat melakukan kehendak Bapa. Sebab, hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang akan masuk dalam Kerajaan Surga. Dalam konteks ini, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Ingat, ada kalimat dalam Matius 7:21-23, “Aku tidak mengenal kamu,” artinya “Aku tidak dapat menikmati kamu. Kamu tidak menyukakan hati-Ku. Kamu tidak menyukakan hati Allah Bapa.” Kata ‘mengenal’ di ayat ini menggunakan kata ginosko, yang sejajar dengan kata yada di dalam bahasa Ibrani (Kej. 4:1). Kiranya kita bisa dinikmati oleh Tuhan. Ini harus menjadi ambisi kita yang kuat. Hal ini harus kita tegaskan sebagai peringatan, kalau kita masih gagal menghayati bahwa dunia bukan rumah kita—yang ditandai dengan tidak adanya kerinduan terhadap Kerajaan Surga, tidak ada kerinduan pulang ke Rumah Bapa—berarti kita sesat. Rasanya tidak ada seorang pun yang ingin masuk neraka. Semua ingin masuk surga, tapi tidak merindukannya. Orang yang sesat adalah orang yang tidak tahu di mana rumahnya dan tidak menginginkan pulang. Di Lukas 15 mengenai anak terhilang, anak itu tidak suka rumahnya. Berarti, ia juga tidak suka bapaknya. Kita harus menangisi, meratapi diri kita, kalau kita tidak merindukan pulang ke surga.

Maka, jangan heran jika Tuhan menghajar kita dengan banyak kepedihan hidup. Kepedihan hidup itulah yang dapat membuat kita terangkat. Kita dikejutkan atau seperti badai. Supaya ibarat rajawali kena badai, dia akan terbang tinggi. Jadi kalau sekarang kita hidup dalam badai, itu agar kita bisa terbang tinggi. Keadaan sulit, kekecewaan, kepedihan hati membuat kita memandang surga. Anak yang terhilang di Lukas 15:18 mengatakan, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapakku dan berkata kepadanya: Bapak, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapak.” Ketika seorang Kristen tidak mengingini surga, tidak merindukan sungguh-sungguh, sejatinya ia mengkhianati Bapa. Kenapa? Karena pasti ada ikatan percintaan dunia. Masalahnya, kekristenan yang kita warisi adalah kekristenan yang sebenarnya sudah berubah warna, yang esensinya berbeda dari Kristen awal yang diajarkan Yesus. Coba perhatikan, bagaimana orang-orang Kristen mula-mula rela kehilangan apa pun.

Sementara di bagian lain Tuhan juga berfirman, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan.” Segenap, berarti jika kurang dari itu, tidak bisa. Allah itu absolut dan pantas untuk dicintai, dihormati dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita. Maka Tuhan Yesus berkata, “kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Sepenuhnya Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Dulu kita sering berkata munafik, “Aku mengasihi Engkau, Yesus.” Padahal Tuhan tahu bahwa kita hanya menginginkan kuasa-Nya, mukjizat-Nya, berkat-Nya, perlindungan dari-Nya, tapi kita tidak mengingini diri-Nya. Betapa kurang ajarnya! Dulu kita tidak sadar. Sekarang, kita mulai sadar dan lebih sadar. Maka, jangan berbuat salah lagi. Coba bayangkan, saat kita menghadap Allah, keadaan tersebut pasti dahsyat sekali dan membuat kita gemetar. Pada waktu itulah kita akan bisa mengerti bahwa memang Allah itu absolut. Cinta kita harus bulat sepenuhnya bagi Dia. Betul-betul kita harus mengingini Dia dan merindukan Kerajaan Allah. 

Mari, kita kobarkan cinta kita kepada Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan.” Ini adalah standar yang harus kita capai. Jangan kompromi. Kita dikejar oleh diri kita sendiri. Kita belajar untuk berperkara dengan daging kita sendiri. Ada manusia lama yang bisa menjadi pangkalan setan di dalam daging kita, di dalam jiwa kita ini. Kita berurusan dengan ini, dan harus serius. Dalam hal ini, jangan terlalu memikirkan apa kata orang. Kita berbenah diri. Nanti semuanya akan dibuka, tidak ada yang tersembunyi. Makanya kita sekarang diam, diam, dan diam. Hati kita harus bersih, jangan ada dendam atau kebencian. Jangan ada dosa yang disimpan. Semuanya mesti dibereskan. Kita harus menaruh hati kita di Kerajaan Surga, supaya kelak ketika kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, kita mengerti betapa beruntungnya kita yang mengobarkan cinta kepada Tuhan.

Jangan nanti waktu meninggal, kita baru belajar menghormati Allah. Orang tidak bisa merindukan Kerajaan Allah mendadak atau mencintai Allah mendadak. Tidak bisa. Karena membangun selera rohani, membangun kecintaan akan Allah dan Kerajaan Surga itu membutuhkan waktu. Roh Kudus pasti memimpin kita. Tapi Setan juga berusaha untuk menarik kita tetap terparkir di dunia dan menunda pertobatan, menunda mencintai Allah. Jangan menunda! Praktikkan dalam setiap kehidupan, artinya dalam setiap langkah kita. Kalau ada yang salah, langsung cepat-cepat minta ampun. Kita akan memiliki banyak kesempatan untuk menikmati dunia dan dosa, serta kemungkinan-kemungkinan yang begitu mudah kita peroleh untuk menikmati daging, nafsu, dan jiwa kita. Ketika kita berkata “tidak,” itu adalah keharuman, dan Bapa di surga menghirup keharuman tersebut.

Kalau kita masih gagal menghayati bahwa dunia bukan rumah kita, berarti kita sesat, dan hidup kita tidak dapat dinikmati Tuhan.