Dimensi Percaya yang Benar

Saudaraku,

Ada satu dimensi dalam hidup ini yang kita harus benar-benar alami. Satu dimensi yang kelihatannya sederhana tetapi tidak sederhana, yaitu memercayai Allah yang hidup. Banyak orang percaya akan Allah—percaya bahwa Allah itu ada, percaya bahwa Allah itu hidup—tetapi hampir semua mereka memercayai Allah dalam dimensi fantasi, dalam dimensi pikiran, dalam dimensi nalar, dalam dimensi keyakinan, akal, tetapi belum dalam dimensi kenyataan. Coba kita jujur, kita sudah menjadi Kristen lama, tetapi kalau kita masih memiliki perasaan takut atas sesuatu berarti kita masih belum masuk dimensi percaya yang benar. Pertama, kalau kita percaya Allah itu ada, Allah itu hidup, Allah itu Mahahadir, Allah Itu baik, Dia Bapa kita peduli kita, Dia pasti melindungi kita, Dia pasti membela kita, jadi mestinya tidak ada perasaan takut terhadap sesuatu. Dan faktanya kita sering merasa takut akan sesuatu yang kita tidak perlu takut.

Yang kedua, kalau kita benar-benar memiliki dimensi percaya yang benar bahwa Allah itu hidup, Allah itu hadir; pasti kita akan hidup suci, pasti hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kita pasti takut akan Dia. Jangankan dosa besar, dosa kecil—ketidakjujuran yang mungkin dianggap biasa, atau diplomasi atau ramah-tamah yang berlebihan dan dibuat-buat, munafik—sudah membuat kita kehilangan damai sejahtera. Dulu biasa kita lakukan selama bertahun-tahun. Namun kalau kita masuk dimensi percaya yang benar, kita akan berjuang untuk tidak melukai perasaan Bapa, Allah yang hidup yang hadir.

Yang ketiga, kalau kita benar-benar memercayai Allah itu hidup, Allah itu mahahadir; kita akan berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Kalau sampai kita bisa menyenangkan hati Allah, menjadi kesukaan Bapa, itu sukses. Sukses di atas segala kesuksesan, keberhasilan di atas segala keberhasilan. Makanya kita harus benar-benar berjuang untuk bisa masuk dimensi ini. Tuhan mau kita masuk dimensi ini. Tetapi Saudara tidak akan pernah mengalami dimensi ini kalau Saudara tidak sungguh-sungguh mencari Dia, tidak sungguh-sungguh mencari wajah-Nya, tidak sungguh-sungguh serius mau berurusan dengan Allah yang tidak kelihatan oleh mata jasman. Jadi kita harus benar-benar mencari wajah-Nya.

Seperti Saudara yang bangun pagi untuk berdoa setiap hari pukul 5 wib, ini bagian dari usaha kita mencari wajah Tuhan. Usaha kita yang serius untuk bisa benar-benar mengalami Tuhan. Bisa memiliki percaya dalam dimensi yang benar, dimensi realitas bukan fantasi atau sekadar nalar. Bahaya kalau kita merasa sudah tahu banyak tentang Tuhan dan yakin diri tahu banyak tentang Tuhan membuat kita tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Jadi kita sendiri memiliki iman yang beku dan kalau sampai orang seperti itu melayani sebuah gereja—entah sebagai pembicara, wakil gembala atau bahkan gembala—jemaat ikut di-freeze (dibekukan) imannya. Oleh sebab itu, kita sekarang mau melangkah mengalami Tuhan. Tidak diragukan doktrin, olah nalar yang telah kita lakukan selama puluhan tahun, bukan belasan tahun. Tetapi tidak sedikit mereka yang merasa sudah mengenal Allah, rasa-rasanya mau ngajak berantem, ribut, debat.

Allah yang hidup harus benar-benar dialami karena Allah itu memang ada, nyata, dan mahahadir. Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub; Allah yang disembah oleh Musa yang melepaskan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan; itu Allah kita, Allah kita hari ini, Allah kita sekarang; bukan hanya Allah dalam sejarah, bukan hanya Allah dalam rumusan; tapi Allah yang bersentuhan dengan kita. Nah, seringkali Tuhan mengizinkan kita memiliki masalah-masalah berat dan di situ Tuhan mengajar kita seberapa kita memercayai Dia. Kita tidak mengandalkan boleh manusia, kita hanya mengandalkan Allah saja. Tetapi Tuhan bisa pakai manusia, namun bukan kita yang cari-cari manusia. Nanti akan ada situasi di mana orang bisa membantu kita, bukan kita yang mulai mencari orang. Orang yang malah mencari kita. Jangan mengandalkan kekuatan manusia. Ayo kita belajar untuk bergantung kepada Tuhan dan mengatakan, “kuserahkan nyawaku kepada-Mu Bapa.”

Ada kata yang dipandang ekstrem tetapi itu kata bagus atau kalimat itu bagus: “Aku taruh leherku di bawah pedang-Mu Tuhan, kalau aku salah penggallah kepalaku, tapi kalau aku Engkau pandang benar lindungi aku.” Itu kalimat yang bagus supaya kita jangan hidup sembarangan. Jadi ayo, kita mengalami Tuhan, kita mencari wajah Tuhan. Kita bukan orang hebat, tetapi kita orang nekat. Kita mencari wajah Tuhan karena kita miskin, hina, papa, tidak ada sesuatu yang patut kita banggakan. Kita berlindung kepada Tuhan. Kita tidak hebat, makanya kita perlu terus bertobat dan dibaharui. Kita lari secepat-cepatnya dan sekencang-kencangnya dan terbang setinggi-tingginya.

Teriring salam dan doa

Dr. Erastus Sabdono

Kalau kita masih memiliki perasaan takut yang salah atas sesuatu berarti kita masih belum masuk dimensi percaya yang benar.