Dimensi Hidup yang Berubah

Dalam Yohanes 6:27 Yesus berkata, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.” Adapun maksud pernyataan Tuhan Yesus ini adalah bahwa hendaknya orang percaya dapat melihat tanda (Yun. semeion) atau petunjuk arah, bagaimana mereka dapat mengerti maksud kehidupan diberikan kepada manusia dan sampai pada tujuan itu. Di dalam Injil Matius Tuhan Yesus berkata, “manusia hidup bukan saja dari roti,” artinya bukan hanya mengurusi pemenuhan kebutuhan jasmani, “tetapi hidup oleh Firman yang keluar dari mulut Allah.” Dari pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus ini dapat disimpulkan, secara tidak langsung Tuhan Yesus mengarahkan orang percaya agar memiliki cara memandang kehidupan dengan benar. Sejak zaman Yesus mengenakan tubuh daging di Palestina 2000 tahun yang lalu, banyak orang yang tidak mengerti apa maksud Allah menciptakan kehidupan. Padahal, ini sangat prinsip. 

Dan kalau kita membaca kisah kehidupan umat pilihan bangsa Israel, mereka pun juga belum mengerti apa maksud Allah menciptakan kehidupan ini, sehingga mereka belum mengerti apa sebenarnya kebutuhan hidup yang sejati. Agama samawi yang waktu itu adalah agama Yahudi, belum tahu. Walaupun mereka berurusan dengan Allah yang benar, dengan Elohim Yahweh, tapi mereka belum tahu. Karena mereka memang tidak akan mampu tahu. Harus ada kebenaran, yaitu Injil. Allah harus mengutus Putra Tunggal-Nya untuk membuka rahasia yang tersimpan berabad-abad itu. Hal ini dapat dimengerti, sebab selama mereka dalam agama samawi yang cara berpikirnya, orientasi hidupnya adalah kehidupan di dunia ini. Kehidupan di surga adalah pahala, tempat perhentian kalau sudah mati. Tetapi bagi orang percaya, kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang akan datang, bukan pahala. 

Adapun bagi kita, pahala atau upah adalah posisi dalam Kerajaan Allah, yaitu jika kita mengerti apa maksud Allah menciptakan kehidupan, dan kita menjalani kehidupan itu. Yesus datang untuk mengajar agar manusia, khususnya umat pilihan, dapat mengerti maksud kehidupan diberikan. Yesus memberi sarana. Yang pertama, Dia mati di kayu salib. Dia menebus dosa-dosa manusia supaya manusia bisa dibenarkan dan dipertemukan dengan Allah. Kemudian, Yesus mengajarkan Injil untuk membuka rahasia kebenaran Allah. Hukum Taurat diberikan Musa, tetapi kebenaran diberikan oleh Yesus. Yesus datang menebus dosa manusia, memikul dosa manusia, lalu Tuhan Yesus mengajar, memberitakan atau mengajarkan Injil. Dan di dalam apa yang diajarkan tersebut, Yesus menampilkan kehidupan seorang yang menemukan tujuan hidup itu. Yesus menampilkan kehidupan sesuai dengan rancangan Allah semula. Yesus menampilkan kehidupan yang Allah kehendaki. Itulah yang dimaksud dengan hidup kekal. 

Dan memang pada mulanya, Allah merancang seperti ini. Itu rencana awal semula Allah yang rusak karena pemberontakan manusia. Sehingga Alkitab mengatakan, “tidak ada yang benar. Seorangpun tidak ada yang benar.” Tidak ada yang benar, dalam konteks standar kehidupan yang dirancang Allah. Kalau di Perjanjian Lama kita menemukan Ayub, Nuh, dan orang-orang yang dianggap benar oleh Allah, itu benar dalam standar hukum; standar umat Perjanjian Lama. Tetapi benar dalam standar umat Perjanjian Baru, hanya Yesus yang mencapai pada mulanya. Oleh sebab itu, kalau kita benar-benar belajar Injil yang murni, kita dipimpin Roh Kudus, dimensi hidup kita akan berubah; cara kita pandang hidup akan berubah. Orang-orang pada waktu itu hanya fokus mencari makanan untuk kehidupan sementara, kehidupan fana, termasuk murid-murid-Nya. Yang mereka cari adalah “Diberkatilah usahaku, menangkan kami melawan musuh-musuh di sekitar kami, jauhkan dari malapetaka marabahaya. Kami menyembah-Mu.” Itu bahasa agama. 

Dan bahasa agama ini ternyata masih dibawa oleh banyak orang Kristen hari ini. Mereka tidak mengerti apa maksud kehidupan diberikan. Maksud kehidupan diberikan adalah agar manusia menjadi manusia yang hanya menyukakan hati Allah. Dan manusia yang bisa menyukakan hati Allah ini adalah manusia yang beroleh kekekalan, bersama Allah. Sebab jika manusia, dalam hal ini umat pilihan, tidak memiliki keberadaan seperti yang Allah kehendaki, mereka tidak dapat memiliki hidup kekal. Dengan kehidupan kekal, artinya hidup yang berkualitas, manusia dapat memiliki kekekalan nanti di kehidupan yang akan datang, yang itu hidup yang sesungguhnya, bukan pahala. Dengan demikian, kehidupan kekal sejatinya sudah harus dimulai sejak di bumi. Yaitu ketika seseorang belajar Injil, mengerti isi Injil, memahami kehidupan Yesus, dan mengenakan kehidupan itu. 

Kalau kita benar-benar belajar Injil yang murni, kita dipimpin Roh Kudus, maka dimensi hidup kita akan berubah.