Diam

Mudah untuk tidak melukai, merugikan, dan menyakiti orang lain, kalau orang itu tidak bermasalah dengan kita. Tetapi menjadi sulit, bahkan sangat sulit, kalau orang itu bermasalah dengan kita; yaitu orang yang menyakiti kita, sengaja merugikan kita, sengaja membuat hati kita luka. Sulit untuk tidak membalas kejahatan orang kepada kita. Apalagi kalau perbuatan orang kepada kita itu, kita rasakan berlebihan jahatnya atau keterlaluan kelakuannya. Semakin besar kesalahan orang kepada kita yang kita nilai dan rasakan, maka ada dorongan untuk berkewajiban membalas dan merasa berhak untuk membalasnya. Biasanya, alasan membalas kejahatan orang lain adalah untuk memberi pelajaran bagi orang itu agar tidak mengulangi perbuatannya, atau lebih bersifat berkorban, agar tidak memperlakukan orang lain dengan cara yang sama ia memperlakukan kita. Sejatinya, kedua alasan ini tidak pernah diajarkan Tuhan kepada kita.

Apa pun perlakuan jahat orang kepada kita, Tuhan mengajar kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita harus belajar diam, diam, diam, dan diam, meski itu menyakitkan. Tetapi kalau kita mencintai Tuhan, kita mau benar-benar menyukakan hati Bapa, kita mau berkenan di hadapan Allah dan mau menjadi anak kesukaan-Nya, kita belajar diam. Kita meledakkan itu di dalam diri kita. Kita tidak meledakkan itu dengan kata-kata, dengan sikap, dengan perbuatan, namun kita ledakkan di dalam diri kita. Dan, kita berurusan dengan Allah. Semakin kita tertekan dan kita meledakkan apa yang ada dalam diri kita dalam rangkaian berperkara dengan Allah, maka Allah mendewasakan kita. Tuhan akan memberikan kepada kita penghiburan. Melalui pengalaman tersebut, Tuhan mau menyempurnakan kita agar kita serupa dengan Yesus yang juga diam, diam, dan diam. Ini benar-benar menyakitkan, tetapi itulah yang diajarkan Tuhan Yesus, Guru kita, Tuan kita, Majikan kita.

Bagi orang percaya, mutlak berlaku firman agar kita mengasihi musuh, seperti yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit di Matius 5, memberkati orang yang melukai kita, menyakiti kita. Tentu termasuk orang-orang yang menista Tuhan kita, Yesus Kristus, menista Kitab Suci kita, Alkitab, menista ajaran kekristenan kita, atau menista keyakinan kita. Jangan membalas. Kalau kita membalas kejahatan orang yang menista Allah yang kita sembah, itu mengesankan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang lemah, Allah yang tidak berkuasa membela diri-Nya sendiri, sehingga perlu ditolong. Sejatinya, justru kita menista Allah kita waktu kita mencoba membela-Nya dengan cara demikian. Allah kita kuat, Allah kita berkuasa melindungi dan membela diri-Nya sendiri. Jadi, biarlah Dia melindungi diri-Nya sendiri, sedangkan kita melindungi diri kita dengan kelakuan kita yang baik, yang senonoh sesuai karakteristik Allah yang kita sembah. Orang percaya tidak boleh merasa jagoan dengan membela Allah yang disembahnya. Allah tidak perlu dibantu. Allah bisa dan berkuasa membela diri-Nya sendiri.

Tapi, belum tentu Allah bertindak sekarang. Allah akan bertindak pada waktu-Nya. Jadi, kita jangan mencoba untuk mengatur Allah. Kalau nama Yesus dinista, dihina, Alkitab kita diinjak-injak, kita tidak usah marah. Kalau kita percaya Allah yang kita sembah itu Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi, yang membelah Laut Kolsom, merobohkan tembok Yerikho, apa artinya nistaan dari orang-orang yang tidak berarti itu? Jadi, kalau seseorang berusaha membela Allah yang disembah dengan membalas kejahatan orang yang menista Allah dan ajaran-Nya yang dianut, itu menunjukkan rendahnya moral allah yang disembah atau ajaran yang diajarkan, yang boleh mengajarkan kejahatan dengan kejahatan; kekerasan dibalas kekerasan.

Suatu hari nanti, setiap orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya. Dan akan dibuktikan, siapakah Allah yang benar itu. Jadi, kita harus teduh di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan majemuk. Teduh, memberi kesempatan orang untuk menjalankan ibadahnya, sesuai yang diyakini dengan tulus. Apalagi di tengah-tengah bangsa yang terus bergolak, pemerintah yang terus berusaha untuk bisa menanggulangi COVID, kemiskinan, dan berbagai kekuatan yang mau menghancurkan negeri ini. Orang Kristen harus benar-benar teduh. Mari kita mengurusi kebenaran Firman yang belum selesai dan mengurusi diri sendiri yang juga belum beres. Untuk apa kita mengurus apa yang tidak perlu kita urus? Jangan mengurus apa yang Tuhan tidak suruh kita urus.

Apa pun perlakuan jahat orang kepada kita, Tuhan mengajar kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan; di sini kita harus belajar diam, walaupun hal itu sangat menyakitkan.