Debu di Dalam Debu

Bumi kita ini sangat kecil jika dibanding dengan banyak planet-planet yang bisa ribuan kali, ratusan ribu kali, bahkan bisa jutaan kali lebih besar dari bumi kita. Maka, kalau kita membandingkan bumi dengan jagat raya yang tidak terbatas ini, bumi ini seperti debu. Dan kita, ada di dalam bumi yang sebesar debu. Jadi, bisa dibayangkan betapa kecilnya kita. Debu di dalam debu, kecil sekali. Kalau ini, bicara mengenai besar volume. Kalau kita bicara mengenai perjalanan waktu, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, ini kekekalan. Dan sekarang, berlangsung terus kekekalan sampai kekal. Jadi, 70-80 tahun umur hidup kita ini seperti debu juga, jika dibanding dengan kekekalan. Mungkin, lebih kecil dari yang kita bayangkan. Sebab, kekekalan itu tidak terbatas, sementara kita hanya punya waktu 70-80 tahun. Seandainya kita hidup 1000 tahun, juga seperti debu. Dan kenyataannya, tidak ada manusia yang usianya lebih dari 1000 tahun, karena memang Tuhan berkata, ‘Pada hari kau makan buah itu, kau mati!’

Di dalam kehidupan kita ini—kita yang kecil, debu dalam debu, bahkan tidak kelihatan—kita mau menjadi orang-orang yang menerima kemuliaan yang Allah janjikan. Allah memedulikan kita, Allah mengasihi kita. Maka, kita tidak mau dan memang tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan. Kita debu di dalam debu, tapi Allah berkenan memperhatikan kita dan mengasihi kita. Kita debu dalam debu, namun di waktu 70-80 tahun umur hidup kita ini, Allah pun berkenan melawat kita. Jadi kalau kita menjadi sangat ekstrem, hidup hanya memikirkan Tuhan saja, itu tidak berlebihan sama sekali. Karena Allah yang besar, dari kekal sampai kekal, itu dahsyat. Dan ciptaan-Nya, jagat raya yang luas ini, dahsyat. Kita debu, tetapi Allah mau memperhatikan kita di singkatnya umur hidup kita. Jadi, mestinya kita tidak tertarik lagi dengan apa pun dan siapapun.

Mestinya kita hanya tertarik kepada Allah. Allah yang besar, yang mau memedulikan kita. Allah yang mau melawat kita, dan mengubah kita menjadi manusia yang agung, mulia, dan unggul, yang diperkenan bersama-sama dengan Tuhan Yesus menerima kemuliaan dan memerintah di dalam Kerajaan surga. Namun sejujurnya, kita telah banyak melakukan kesalahan. Kita tidak sungguh-sungguh berani ekstrem dengan Tuhan. Kita tidak berani benar-benar fanatik dengan Tuhan. Orang yang ekstrem dan sangat ekstrem dengan Tuhan, tidak akan menjadi bencana bagi orang lain. Makanya, dengan sering berbicara mengenai kekekalan, sering berbicara mengenai langit baru bumi baru, kita diingatkan pada fakta mengerikan api kekal, atau diingatkan dengan kedahsyatan kengerian terpisah dari Allah. Orang yang takut akan Allah akan memiliki kehausan akan Allah. Ini yang membangun usaha untuk tidak terpisah dari Allah. Tetapi kalau seseorang takut terhadap hal lain, maka ia akan membangun usaha untuk memperoleh sesuatu itu. Dan akhirnya, ia menganggap remeh, menganggap sepele Allah. Dan kalau orang sudah menganggap sepele Allah, kehausannya hanya ditujukan kepada yang lain. Ia pasti tidak takut akan Allah.

Setelah melewati berbagai pergumulan hidup dan dengan bertambahnya usia, kiranya kita pada akhirnya memilih untuk berlabuh di dalam Tuhan, dan ini adalah berkat abadi. Tentu kita harus bekerja, berkarier, mengurus rumah tangga, memenuhi tanggung jawab kita, sebagaimana seharusnya kita hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab. Tetapi, semua itu kita lakukan hanya untuk Tuhan. Karena firman Tuhan mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Tuhan” (1Kor. 10:31). Dan inilah kesempatan yang tidak akan pernah terulang selama-lamanya. Kesempatan sekali-kalinya, yang pertama dan yang terakhir. Kita harus memandang Allah sebagai satu-satunya kebutuhan kita. Dan kalau orang membutuhkan Allah, ia akan memiliki kehausan dan kelaparan akan Allah, seperti halnya orang sakit yang membutuhkan dokter. Pertanyaannya, apakah kita merasa haus akan Allah, atau haus kepada hal lain? Kalau kita tidak merasa haus akan Allah—karena masih mengingini perkara-perkara dunia—maka kita tidak merasa sakit. 

Dengan jujur kita harus menyadari keadaan yang menyedihkan di dalam diri kita ini, dimana kita tidak berkeadaan serupa dengan Allah, sehingga kita tidak menemukan kemuliaan Allah. Orang yang tidak menemukan kemuliaan Allah dalam dirinya, tidak menemukan Allah. Ketika kehausan dan kelaparan ditujukan kepada yang lain, maka seseorang tidak memperoleh apa-apa dari Allah. Walaupun bertahun-tahun menjadi jemaat, aktivis, bahkan pendeta, dia tidak mendapat apa-apa. Pengetahuan teologinya mungkin bertambah, khotbahnya lebih lancar dan fasih, namun kehidupan rohaninya sebenarnya kering. Dan setan begitu cerdiknya membuat orang tidak merasakan kekeringan itu. 

Kita ini debu di dalam debu, tapi Allah berkenan memperhatikan kita dan mengasihi kita.